jim
8.3K posts


KLO KTAM jadul begini JANGAN DOWNLOAD MASA... 😅
Inggit@Inggitbm
@MuhammadiyinGL @bolongaritt KTA jadul boleh ikutan?
Indonesia

Muhammadiyah sebagai Holding Company & Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Franchise / Waralaba ; (JK, 2021)
Hilik Ku Aink We Lah 😬@KangSemproel
@ferizandra Ada yang bisa kasih list lengkap sampe ke posisi NU ? @ainunnajib bisa bantu ? x.com/i/status/20360…
Indonesia

Apa kombinasi 3 huruf yang lebih penting dari ini semua?
Big Alpha@BigAlphaID
Filipina: Umumkan negara dalam kondisi darurat energi. Korea Selatan: Mulai umumkan penjatahan bahan bakar (fuel rationing). Jepang: Mulai mengeluarkan national petroleum reserve mereka untuk menstabilkan supply. Indonesia: .......
Indonesia

@sociotalker @Roastery_expert Warkop "Ruang Lepas Validasi"
Terimakasih
Indonesia

@Roastery_expert betul. warkop kyk gini, kalo kopinya pas dan enak, bisa jd ruang buat lepas dr tuntutan validasi.
Indonesia
jim retweetledi

@ButterCupdanie1 Pohon2 besar keq asem, beringin yg sudah besar yg jadi penyokong oksigen malah ditebang, pdhl numbuhin 1 pohon butuh waktu lama nggih
Indonesia

Ilmu Titen Jawa tentang Pohon Beringin
Dalam titen Jawa, beringin bukan pohon sembarangan.
Simbol pengayom & pusat kehidupan
Beringin dianggap pangayoman, tempat berteduh, berkumpul, dan mencari perlindungan.
Makanya dulu :
Alun-alun selalu ada beringin
Balai desa, pasar, persimpangan tua sering ada beringin
Penanda tanah kuat dan stabil
Orang Jawa percaya :
Beringin bisa hidup subur di situ maka tanahnya kuat, airnya cukup, aman untuk pemukiman.
Tempat yang sepi tapi rame.
Sepi secara manusia, rame secara energi alam.
Ini bukan soal mistis doang, tapi pengamatan lama bahwa :
Banyak hewan kecil hidup di sana
Suhu lebih adem
Tanah lembab stabil
Dikeramatkan bukan karena setannya, tapi karena umurnya
Pohon beringin tua sering dianggap keramat karena :
Umurnya ratusan tahun
Sudah menyaksikan banyak peristiwa Dalam titen yang tua itu dihormati, bukan ditakuti.
Sains tentang Pohon Beringin
Nah, ini bagian ilmiahnya :
Akar gantung = sistem penyangga alami
Akar gantung beringin itu :
Menyerap uap air
Menstabilkan batang
Mengikat tanah dan mencegah longsor
Pengatur mikroklimat
Kanopi lebar beringin :
Menurunkan suhu sekitar 3–5°C
Menjaga kelembaban udara Itu sebabnya tempat beringin selalu adem.
Penjaga air tanah
Sistem akar dalam & menyebar :
Membantu infiltrasi air hujan
Menjaga cadangan air tanah
Cocok ditanam dekat sumber air (tapi tidak terlalu dekat bangunan).
Pusat biodiversitas
Secara ekologi, beringin disebut keystone species :
Buahnya dimakan burung, kelelawar, serangga
Jadi pusat rantai makanan
Kalau beringin hilang maka ekosistem sekitar ikut terganggu.
Titik Temu Ilmu Titen & Sains
Ini yang indah, Yang orang Jawa sebut :
Beringin itu pusat kehidupan.
Dalam sains artinya :
Beringin adalah penyangga ekosistem dan keseimbangan lingkungan.
Jadi bukan mistis kosong, tapi kearifan yang lahir dari pengamatan ratusan tahun.
Kenapa tidak disarankan dekat rumah ?
Bukan karena “angker”, tapi karena :
Akar bisa merusak pondasi
Kanopi terlalu lebar
Menyerap banyak air
Ilmu titen bilang :
Beringin iku becik kanggo umum, ora becik kanggo pager omah.
Dan sains ? Sepakat.
Semoga Bermanfaat...🙏
#TitenJawa
#IlmuTiten
#Beringin

Indonesia

@Excel_Dee Aq ya ada pohon asam di rumah
Tp nek kecil saya, asam di tanam disepanjang jalan raya. Fungsi nya untuk memasak aspal. Jadi kalau ada perbaikan jalan, pohon asam lah korbannya. Tapi kalau buat aku, batang paling kuat dan presisi buat setep (ketapel) dan tak cangkok u bonsai
Indonesia

Pohon Asam Jawa Titen Leluhur, Sains, dan Makna “Keramat” yang Sebenarnya.
Dulu, leluhur dan orang tua kita sering menanam pohon asam jawa hingga besar, bahkan membiarkannya hidup puluhan tahun di pekarangan, pinggir sawah, balai desa, atau tepi jalan. Bagi generasi sekarang, kebiasaan ini kadang dipertanyakan, apa maknanya? aman gak buat bangunan? dan kenapa sering dianggap keramat?
Kalau ditelusuri dengan ilmu titen dan sains, jawabannya justru sangat logis dan penuh kebijaksanaan.
Makna Pohon Asam Jawa dalam Ilmu Titen Leluhur
Dalam titen Jawa, pohon asam bukan sekadar tanaman buah.
Simbol kesabaran dan keberlanjutan hidup.
Asam tumbuh pelan, lama berbuah, tapi kuat dan berumur panjang. Leluhur menanamnya bukan untuk kepentingan hari ini, melainkan untuk anak cucu. Ini simbol rumah yang diniatkan untuk ditempati lama, bukan sekadar singgah.
Penyeimbang panas dan energi lingkungan.
Asam dipercaya membawa suasana adem dan ayem. Pekarangan yang ditanami asam biasanya lebih sejuk, teduh, dan tenang.
Penanda rumah mapan dan titik sosial
Dulu, asam sering menjadi tempat berteduh, musyawarah, atau penanda wilayah. Karena fungsinya penting, ia dijaga lintas generasi.
Penjelasan Ilmiah (Sains Modern)
Apa yang diamati leluhur ternyata sejalan dengan sains.
Sistem Akar
Asam jawa memiliki akar tunggang yang dalam, bukan tipe akar agresif menyamping.
Relatif aman bagi pondasi bangunan, selama jarak tanam diperhitungkan.
Tajuk dan Iklim Mikro
Daunnya kecil dan majemuk maka cahaya tetap tembus.
Menurunkan suhu lingkungan sekitar beberapa derajat.
Tidak menyebabkan kelembaban berlebih di rumah.
Tanah dan Ekologi
Daun gugurnya cepat terurai dan menyuburkan tanah.
Mendukung mikroorganisme tanah.
Menjadi habitat burung dan serangga penyeimbang ekosistem.
Aman atau Tidak Ditanam di Pekarangan?
Aman, dengan syarat
Dianjurkan jika :
Jarak minimal 5–7 meter dari bangunan utama
Tidak tepat di atas septic tank atau saluran air
Pekarangan cukup luas
Dilakukan pemangkasan cabang secara berkala
Perlu dihindari jika :
Pekarangan sempit
Rumah rapat dengan pondasi dangkal
Masalah yang sering terjadi bukan karena akar, melainkan cabang besar yang tidak pernah dirawat.
Lalu, Kenapa Pohon Asam Jawa Sering Dianggap “Keramat”?
Di sinilah sering terjadi salah paham.
Dalam pandangan leluhur, yang dihormati bukan pohonnya, tapi perannya.
1. Umurnya Panjang dan Dijaga Lintas Generasi
Apa pun yang hidup lebih tua dari manusia akan diperlakukan dengan tata krama. Maka muncul istilah keramat, yang sebenarnya bermakna : jangan sembrono.
2. Pohon Penting Secara Sosial
Karena menjadi titik kumpul, peneduh, atau penanda wilayah, pohon asam dijaga keberadaannya. Sesuatu yang dijaga bersama lama-kelamaan dianggap sakral.
3. Strategi Budaya Melindungi Alam
Leluhur paham, melarang dengan bahasa ilmiah belum tentu dipatuhi. Maka digunakan bahasa budaya :
“Iki keramat.”
Hasilnya: pohon tidak ditebang sembarangan, lingkungan tetap seimbang.
Meluruskan Salah Kaprah
Pohon asam adalah tempat makhluk halus
Ditebang pasti mendatangkan celaka
Harus disembah atau diberi sesajen
Yang benar :
Jangan menebang sembarangan
Hormati fungsi ekologinya
Rawat dan ganti bila harus ditebang
Leluhur tidak menyembah pohon, mereka hidup berdampingan dengan alam.
Pohon asam jawa adalah :
Simbol kesabaran dan keberlanjutan hidup
Penyeimbang lingkungan secara ekologis
Bukti bahwa leluhur kita sudah menerapkan etika lingkungan jauh sebelum sains modern berbicara
Yang disebut “keramat” bukan karena mistis, tapi karena nilai dan fungsinya bagi kehidupan.
Alam dijaga dengan rasa hormat, bukan rasa takut.
Itulah titen leluhur yang hari ini mulai kita lupakan.
Aku juga nanam pohon Asam Jawa di rumah 😊
Semoga Bermanfaat...🙏
#TitenJawa
#IlmuTiten
#AsamJawa



Indonesia

@zakiberkata Diperkirakan bergerak ke barat atau ke timur lagi mas zaki
Indonesia

Diberi nama Siklon Jenna, dan mulai terbentuk mata badai.
Sudah masuk kategori 2 dan diprediksi terus menguat hingga kategori 3 (140km/jam)


Georitmus 🇮🇩@zakiberkata
Bergerak menjauhi Jawa dan diprediksi menguat hingga kategori 2 besok
Indonesia

@Excel_Dee Bahas dong bekecot, atau dah lewat..
Lahan ku taman depan ada beberapa bekecot n uler gaga..
Saran tambah &/ edit dg hastag #titenjawa baik yg sudah &/ akan diposting
Sbb info dari sampean bagus dengan komparasi #titenjawa dengan keilmuan &/ teknologi, apalagi dibuat series
Indonesia

Selamat pagi....
Dulu, saat masih kecil dan sering main di sawah, aku akrab dengan Yuyu (kepiting sawah).
Di kampung ku, Yuyu sering dipercaya bisa “nangkap tuyul”. Kepercayaan ini hidup turun-temurun sebagai bagian dari ilmu titen, cara orang Jawa membaca alam lewat tanda dan kebiasaan makhluk hidup.
Secara titen, yuyu dianggap penjaga sawah. Ia hidup di tanah lembab, gelap, dan berlubang, wilayah yang dalam imajinasi orang dulu kerap dikaitkan dengan makhluk halus. Sifatnya yang aktif di malam hari, berani mencapit, dan tidak mudah terusik membuat yuyu dipercaya mampu mengusir gangguan tak kasat mata, termasuk tuyul. Maka tak heran, kehadirannya dimaknai sebagai pertanda sawah yang aman dan terjaga.
Namun jika dilihat secara ilmiah, yuyu sama sekali tidak berkaitan dengan makhluk gaib. Yuyu adalah bagian penting dari ekosistem sawah. Kehadirannya menandakan tanah yang masih lembab, struktur tanah yang baik, dan ketersediaan bahan organik. Lubang-lubang yuyu membantu aerasi tanah, sementara kebiasaannya memakan sisa organik dan hewan kecil berperan menjaga keseimbangan ekosistem.
Sawah yang stabil, subur, dan hidup seperti inilah yang oleh orang-orang dulu kemudian dimaknai sebagai tempat yang terlindungi. Bahasa sains menyebutnya keseimbangan ekologi, sementara bahasa titen menyebutnya sawah sing aman.
Di sisi lain, Yuyu juga bisa menjadi hama padi bila populasinya berlebih.
Yuyu dapat :
Memotong bibit padi muda
Merusak perakaran tanaman
Membuat lubang yang menyebabkan tanaman roboh
Kondisi ini biasanya terjadi saat ekosistem sawah tidak seimbang atau predator alaminya berkurang.
Cara mengendalikan yuyu yang lebih ramah lingkungan antara lain :
Menjaga keseimbangan ekosistem, misalnya dengan keberadaan ikan sawah atau burung pemakan kepiting
Pengelolaan air yang baik, tidak membiarkan genangan terlalu lama
Penangkapan manual atau perangkap sederhana pada fase awal tanam
Menghindari penggunaan racun berlebihan yang justru merusak organisme lain
Dari sini kita belajar bahwa Yuyu bukan sepenuhnya “penjaga” atau “pengganggu”.
Dalam bahasa titen, sawah yang terlalu banyak yuyu pertanda alam sedang tidak seimbang.
Dalam bahasa sains, itu berarti populasi melampaui daya dukung lingkungan.
Yuyu bukan penangkap tuyul, melainkan penjaga keseimbangan alam.
Kepercayaan lama dan sains modern bertemu pada satu titik alam yang sehat akan terasa aman, tenteram, dan memberi kehidupan.
Semoga Bermanfaat....🙏




Indonesia
jim retweetledi

Ulat Gagak (Orthomorpha coarctata) Bukan Sekadar Bau Wengur, tapi Bahasa Alam dari Tanah.
Di banyak daerah Jawa, hewan ini dikenal dengan nama “ulat gagak”. Tubuhnya hitam mengkilap, beruas-ruas dengan garis kuning cerah, jalannya pelan tapi konsisten, dan satu ciri yang paling khas: baunya wengur, menyengat, dan bikin eneg kalau terganggu.
Secara ilmiah, hewan ini bukan ulat kupu-kupu, tapi termasuk kaki seribu (Diplopoda), dengan salah satu spesies yang sering ditemukan yaitu Orthomorpha coarctata.
Titen Petani Jawa
Petani Jawa membaca kemunculan “ulat gagak” sebagai tanda :
tanah sedang lembab
kebun teduh
banyak bahan organik
kehidupan tanah lagi ramai
Ada yang bilang :
“Yen uler gagak betah, berarti lemah lagi subur lan sugih pangan.”
Artinya : tanah lagi hidup.
Penjelasan Ilmiahnya
Orthomorpha coarctata suka hidup di :
tanah lembab
serasah daun
kayu lapuk
tempat teduh
Perannya penting :
membantu menghancurkan daun & bahan organik
mempercepat pembentukan humus
memperbaiki struktur tanah
mendukung ekosistem mikro tanah
Jadi kehadirannya adalah tanda :
kelembaban tercukupi
bahan organik melimpah
ekosistem tanah sehat
Kenapa Baunya Wengur Menyengat?
Bau itu bukan kebetulan.
Kaki seribu mengeluarkan cairan pertahanan (sering mengandung senyawa benzoquinone) yang:
aromanya kuat dan tidak enak
bikin predator enggan memakannya
jadi “tameng hidup” mereka
Makanya kalau diganggu, bau langsung keluar.
Bahasa lucunya “Aku kecil tapi aku bau… jangan ganggu aku yaaa” 😂
Kalau Populasinya Terlalu Banyak?
Itu tanda :
tanah terlalu lembab
serasah menumpuk
drainase kurang baik
Biasanya mereka tidak merusak tanaman sehat, tapi kalau jumlahnya sangat besar bisa mengganggu tunas muda.
Pengelolaannya cukup :
perbaiki drainase
kurangi genangan
bersihkan serasah berlebih tanpa perlu langsung racun karena mereka juga “pekerja tanah”.
Ulat gagak / Orthomorpha coarctata mungkin bau, tapi kehadirannya adalah bahasa alam yang memberi tanda bahwa tanah sedang hidup, kaya bahan organik, dan ekosistem bawah tanah berjalan baik.
Kearifan lokal & sains sepakat alam selalu memberi tanda, tugas kita membacanya dengan bijak.
Semoga Bermanfaat...🙏

Indonesia
jim retweetledi
jim retweetledi

Pakis Banyak Tumbuh di Tembok & Kebun Liar… Pertanda Apa?
Di banyak tempat, kita sering melihat pakis tumbuh subur di tembok, pinggir kebun, atau tempat-tempat yang dibiarkan liar. Buat sebagian orang Jawa dulu, ini bukan sekadar tanaman liar, tapi “titen alam” yang memberi tanda tentang kondisi lingkungan.
Dalam kearifan lokal / ilmu titen :
Menandakan tempat itu adem, teduh, dan hidup.
Biasanya lokasi seperti ini jarang terganggu manusia, jarang dicangkul, jarang dibersihkan ekstrem.
Dipandang sebagai tanda lingkungan yang tenang dan stabil.
Dalam sudut pandang ilmiah :
Kemunculan pakis bukan kebetulan. Ia tumbuh subur karena :
1. Lingkungan lembab & teduh
Pakis menyukai tempat dengan kelembaban tinggi dan sinar matahari tidak langsung.
2. Ada media tumbuh meski tipis
Di tembok, pakis bisa hidup karena ada lumut, retakan kecil, lapisan tanah tipis, atau sisa bahan organik.
3. Tempat relatif stabil
Kalau pakis sampai besar dan banyak, artinya lokasi itu tidak sering diganggu atau dibersihkan total.
4. Sering terkait tanah agak asam & kaya bahan organik
Banyak jenis pakis menyukai kondisi seperti ini.
Pakis yang tumbuh liar tanda indikator lingkungan yang lembab, teduh, stabil, dan cukup sehat. Alam sebenarnya selalu berbicara, dan pakis adalah salah satu bahasanya.
Semoga Bermanfaat...🙏

Indonesia

@RioRichocho jadi simpelnya mereka ngga korupsi karena ngga ada yang dikorupsi?
Indonesia

Jogja itu lucu, kombinasi antara unelected official (ga ada kebutuhan untuk rebutan kursi) dan minim SDA (ga ada izin tambang/kebun yang bisa diperdagangkan) bikin pemda-nya somehow works
☀️🌲breadunderscore 🇳🇫@breadunderscore
Indonesia
jim retweetledi
jim retweetledi

Pengangguran Massal 😥
Yoshua Bengio, salah satu bapak pendiri kecerdasan buatan (AI) modern dan penerima penghargaan Turing, mengeluarkan peringatan keras. Bahwa hampir semua pekerjaan manusia akan lenyap karena AI. Bukan lagi soal “mungkin” atau “jauh di masa depan”, tapi hanya tinggal menunggu waktu.
Menurutnya, pekerjaan kantoran seperti administrasi, penulisan laporan, analisis data, hingga coding akan menjadi yang pertama hilang karena AI sudah mampu melakukannya lebih cepat dan murah.
Bahkan anak muda Generasi Z yang baru lulus kuliah saat ini sedang kesulitan mencari pekerjaan entry-level karena banyak perusahaan sudah menggantinya dengan software AI.
Banyak orang berpikir pekerjaan manual atau fisik seperti tukang ledeng, tukang listrik, atau montir akan aman lebih lama. Namun Bengio menegaskan bahwa itu hanya penundaan sementara. Robot-robot di pabrik dan gudang semakin canggih, mengumpulkan data besar-besaran yang membuat AI belajar melakukan tugas fisik dengan sangat presisi.
Pada akhirnya, bahkan pekerjaan yang butuh tangan manusia pun bisa digantikan sepenuhnya. Ini berbeda dari revolusi industri sebelumnya, di mana mesin menghapus pekerjaan lama tapi menciptakan pekerjaan baru, kali ini, AI bisa melakukan hampir segala yang manusia lakukan, bahkan lebih baik.
Peringatan Bengio ini seperti alarm darurat bagi kita semua. Dia sendiri menyesal tidak menyadari risiko ini lebih awal dan kini aktif mendorong pengembangan AI yang aman.
Masyarakat dan pemerintah perlu segera mempersiapkan solusi, seperti pelatihan ulang tenaga kerja, pendapatan dasar universal, atau aturan ketat terhadap perusahaan teknologi. Jika tidak, kita bisa menghadapi pengangguran massal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Intinya, masa depan di mana manusia tidak lagi perlu bekerja sudah di depan mata. Pertanyaannya, apakah kita siap menyambutnya dengan bijak?
fortune.com/2025/12/19/yos…
Indonesia

@tempodotco Skema nya gimana? Berarti muhamadiyah beli kah???
Link nya manaa mau bacaaa
Indonesia









