PointofView retweetledi
PointofView
5.3K posts

PointofView
@just_view_point
Your life is not because of luck, but because of compassion. Don't let it end before your life ends.
Indonesia Katılım Şubat 2024
991 Takip Edilen87 Takipçiler
PointofView retweetledi

Hafalkan baik-baik nama ini FORUM BETAWI REMPUG. Merekalah gerombolan preman ormas mafia yg menguasai *bisnis pungli* di rel kota Bekasi. Ada di replies QRT.
Kendaraan diizinkan menyebrang rel dengan asal-asalan. Truk lewat dipalak. Ini menyebabkan kecelakaan kereta Bekasi.
Adhin@adnardn
Abis nyari tau tabrakan kereta Argo Bromo dan KRL di Bekasi. - Jalur yg dilewatin taksi ijo itu bukan lintasan resmi. Cuma dijaga bambu dan pak ogah/ormas. - Pemerintah dan KAI sempet mau tutup jalur gak resmi ini tapi ditolak keras sama ormas tsb. - 2026 kejadian tabrakan.
Indonesia
PointofView retweetledi

Saya selaku whistleblower terkait kasus ini dan pendamping pihak yg tersomasi akan terus bersama kalian ❤️✊🏻 tolong bantu share ya temen temen dan tetep kawalll kasus ini.
Btw ini link aduannya yaaa bit.ly/AduanSomasiAnc… terimakasih 🙏🏼

Amara@runtukansurya
ALERTA ‼️🚨🚨 Kasus pelecehan terjadi di dunia kerja kreatif (ui/ux design) dilakukan oleh salah satu founder studio agency design.
Indonesia

@LambeSahamjja Alasan terkuatnya pasti mengenai pembayaran gaji, lainnya pengalihan alasan saja. Takut diuber parjo
Indonesia

Guys, ada berita dari Kepulauan Meranti, Riau yang menurut gue adalah salah satu cerminan paling jujur tentang kondisi program Koperasi Desa Merah Putih di lapangan.
13 dari 15 pengurus Koperasi Desa Merah Putih di Kepulauan Meranti mengundurkan diri.
Bukan dipecat.
Bukan dirotasi.
Mengundurkan diri.
Siapa yang mundur dan dari mana:
Yang mundur terdiri dari ketua pengawas, sekretaris, dan bendahara jabatan inti koperasi.
Tersebar di beberapa desa.
Dan yang paling mengejutkan: dalam satu desa, seluruh pengurus inti ketua, sekretaris, bendahara — mundur sekaligus secara bersamaan.
Bayangkan itu.
Satu desa.
Seluruh jajaran pengurus intinya angkat kaki di saat yang sama.
Alasan yang mereka berikan dan ini yang paling mengerikan:
Plt Kepala Dinas Koperasi Kepulauan Meranti, Eko Priyono, menyebut alasan pengunduran diri bervariasi:
Pertama — ada yang bekerja di luar daerah.
Artinya dari awal mereka menerima jabatan pengurus koperasi tapi tidak punya kapasitas waktu untuk menjalankannya.
Ini pertanyaan tentang proses seleksi yang perlu dijawab: siapa yang memilih pengurus-pengurus ini?
Kedua — ada yang tidak sanggup menjalankan tugas. Eko menjelaskan lebih jauh: mereka merasa terbeban dan takut harus mengganti uang. Padahal menurut Eko tidak ada ketentuan seperti itu.
Ketiga — soal gaji.
Para pengurus ternyata mengharapkan gaji tetap. Tapi dalam sistem koperasi tidak ada skema gaji tetap pengurus hanya mendapat bagian dari hasil usaha koperasi.
Dan ini yang paling kritis:
Eko berkata: "Saat pelatihan sudah dijelaskan.
Tapi, sepertinya ada yang tidak paham."
Kalimat itu adalah salah satu yang paling mengkhawatirkan dari seluruh berita ini.
Artinya: sudah ada pelatihan.
Sudah ada penjelasan.
Tapi pengurus tetap tidak paham sistem yang mereka masuki.
Dan ketidakpahaman itu baru ketahuan ketika mereka sudah dilantik dan sudah menjalankan program lalu memutuskan mundur.
Ini bukan masalah satu dua orang yang tidak baca buku panduan. Ini adalah kegagalan sistemik dalam proses onboarding program nasional yang nilainya ratusan triliun rupiah.
Konteks yang perlu dipahami dulu:
Koperasi Desa Merah Putih adalah salah satu program unggulan Presiden Prabowo.
Target nasional: 80.000 koperasi desa di seluruh Indonesia.
Anggaran yang disiapkan sangat besar.
Dan program ini ditargetkan berjalan cepat bahkan bangunannya di banyak daerah sedang dibangun oleh TNI.
Di Maluku Utara saja seperti yang gue bahas dari wawancara Sherly Tjoanda sudah dibentuk 185 Kopdes Merah Putih, sekitar 60 sedang dibangun. Tapi Sherly sendiri mengakui belum ada yang beroperasi.
Dan sekarang di Kepulauan Meranti bukan hanya belum beroperasi optimal.
Pengurusnya mundur massal.
Yang paling mengerikan dari seluruh situasi ini:
Program ini bukan program kecil-kecilan. Ini adalah program yang disebut sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan Indonesia. Yang dimaksudkan untuk menyejahterakan desa-desa di seluruh nusantara.
Tapi implementasinya memperlihatkan pola yang sangat mengkhawatirkan:
Satu — pengurus dipilih tanpa verifikasi kapasitas yang memadai.
Ada yang ternyata bekerja di luar daerah.
Bagaimana bisa seseorang yang bekerja di luar daerah terpilih sebagai pengurus koperasi desa?
Dua — pelatihan yang diberikan tidak cukup efektif untuk membangun pemahaman dasar.
Pengurus tidak paham bahwa tidak ada kewajiban mengganti kerugian pribadi.
Pengurus tidak paham bahwa tidak ada gaji tetap.
Ini adalah hal paling mendasar tentang cara kerja koperasi.
Tiga — tidak ada mekanisme deteksi dini. Ketidakpahaman ini baru terungkap setelah pengurus mundur — bukan sebelum mereka dilantik.
Soal ekspektasi gaji yang tidak terpenuhi dan ini yang paling realistis:
Orang-orang yang menjadi pengurus koperasi desa di daerah seperti Kepulauan Meranti bukanlah orang kaya yang punya tabungan cukup untuk bekerja sukarela. Mereka adalah warga biasa yang mungkin menerima tawaran jabatan dengan harapan ada kompensasi yang layak.
Ketika ternyata tidak ada gaji tetap dan kompensasinya hanya dari bagi hasil usaha koperasi yang belum tentu ada dan belum tentu cukup mereka mundur.
Ini bukan sikap yang salah. Ini adalah respon manusia yang sangat rasional.
Pertanyaannya adalah: kenapa sistem koperasi ini tidak mempertimbangkan realita ekonomi pengurus desa yang memang butuh kepastian kompensasi?
Kalau pengurus koperasi tidak dibayar dengan layak siapa yang mau dengan serius mengelola aset bernilai miliaran rupiah dengan penuh tanggung jawab?
Bandingkan dengan janji program ini:
Pemerintah membuka lowongan 30.000 manajer Koperasi Desa Merah Putih secara nasional. Program ini diklaim akan menjadi motor penggerak ekonomi desa. Gubernur-gubernur sudah melaporkan pembentukan koperasi selesai. Bangunannya dibangun TNI.
Tapi di lapangan: pengurus mundur massal karena tidak paham sistem, tidak ada kepastian kompensasi, dan merasa terbeban.
Dari luar terlihat program berjalan.
Di dalam orangnya angkat tangan.
Dan ini bukan hanya masalah Kepulauan Meranti:
Kalau di satu kabupaten saja sudah ada 13 pengurus yang mundur dalam satu waktu berapa yang terjadi di kabupaten-kabupaten lain di seluruh Indonesia yang tidak diberitakan?
Kepulauan Meranti ketahuan karena ada yang melaporkan. Tapi dari 80.000 koperasi yang ditargetkan di seluruh Indonesia — berapa yang mengalami hal serupa tanpa pernah muncul di berita?
Bottom line:
Koperasi Desa Merah Putih adalah program yang idenya tidak salah. Memberdayakan ekonomi desa melalui koperasi adalah gagasan yang sudah terbukti berhasil di banyak negara.
Tapi implementasinya memperlihatkan masalah yang sangat fundamental: program dijalankan dengan kecepatan yang melampaui kesiapan sistemnya.
Bangunan dibangun cepat. Pengurus dilantik cepat. Pelatihan diberikan. Tapi pemahamannya tidak terbangun. Ekspektasinya tidak diselaraskan. Dan pengawasannya tidak cukup ketat untuk mendeteksi masalah sebelum meledak.
Dan yang paling ironis: ini adalah program yang dimaksudkan untuk menyejahterakan rakyat desa. Tapi pengurus desanya sendiri mundur karena merasa terbeban dan tidak tahu apa yang mereka hadapi.
Kalau orang yang seharusnya menjalankan program saja tidak sanggup bagaimana rakyat desa yang seharusnya merasakan manfaatnya?

Indonesia
PointofView retweetledi
PointofView retweetledi

Bayangin udah 80 tahun merdeka tapi mostly stasiun KRL peronnya masih sesempit ini, mana pintu masuk-keluar minim banget, terpusat di satu gate aja. Padahal katanya ini metropolitan terbesar di dunia loh. Padahal duitnya, ADA.
Txt@txtkarir
buat yg mau merantau di jakarta.. kalian siap ga gini??
Indonesia
PointofView retweetledi
PointofView retweetledi

PointofView retweetledi
PointofView retweetledi
PointofView retweetledi
PointofView retweetledi

Purbaya Yudhi Sadewa (MENKEU)
- Ekonomi kita santai aja, aman kok, nggak ada tanda-tanda krisis.
- Yang bilang krisis siapa sih? Liat aja jalanan macet, orang belanja juga masih rame banget.
- Walaupun banyak yang ngomong jelek, faktanya ekonomi kita masih kuat.
Airlangga Hartarto (MENKO)
- Kondisi ekonomi kita tuh lagi oke-oke aja, nggak perlu panik.
- Growth kita masih tinggi dibanding negara G20 lain, ini bukti kita kuat.
- Inflasi aman, kepercayaan konsumen juga tinggi, jadi fundamental masih solid.
Perry Warjiyo (BI)
- Ke depan ekonomi masih bisa tumbuh sekitar 5 persenan, masih oke banget.
- Yang bikin kuat itu permintaan dalam negeri sama kebijakan yang terjaga.
- Walaupun global lagi nggak pasti, kita masih punya daya tahan.
Prabowo Subianto ( Presiden)
- Ekonomi Indonesia tuh udah diakui dunia, bukan sekadar omongan doang.
- Lembaga internasional juga ngeliat kita kredibel dan kuat.
- Jadi nggak usah ragu, posisi kita sebenarnya aman.

Indonesia
PointofView retweetledi
PointofView retweetledi

Jadi meninggalnya korban commuter line itu akibat dari serentetan random tai babi situation
Ada perlintasan gak resmi, tapi pas mau ditutup sama pemda, ada ormas tai babj yg nolak, lalu pemdanya juga tai babi gak mampu ngatasin tekanan ormas tai babi
Lalu ada sopir tai babi dari armada tai babi melintas di lintasan tai babi, lalu ditabrak oleh kereta, kemudian sangking tai babinya, taxi ini menolak diderek oleh KAI karena kebijakan manajemen armada taksi tai babi bilang kalo gak diderek oleh derek dari perusahaan tai babi, itu duit derek keluar dari sopir tai babi itu.
Dan sialnya sinyal kereta api pagi tai babi sehingga KA antar kota menabrak Commuter line yg terpaksa menunggu akibat tai babi tai babi di atas.
Gue kalo jadi keluarga korban sih akan ngamuk pol
Indonesia
PointofView retweetledi

Gilbert Strang, an MIT professor, taught the same linear algebra course for 62 years. When he delivered his final lecture in May 2023, students from around the world tuned in online to watch.
The course is MIT 18.06 Linear Algebra. Millions of machine learning engineers, data scientists, quants, and self-taught programmers learned the essential math behind AI from his clear, free video lectures, even though most never stepped foot on the MIT campus.
Strang joined the MIT faculty in 1962 and retired in 2023. When MIT launched OpenCourseWare in 2001–2002, he was one of the first to embrace it fully. While many professors hesitated, Strang saw it as an opportunity to share mathematics with everyone. He filmed his lectures and made them freely available.
He completely changed how linear algebra is taught. Instead of starting with abstract vector spaces and proofs, Strang began with something simple and visual: matrix multiplication. He built intuition first using concrete examples, then introduced more advanced ideas like eigenvectors and singular value decomposition. He insisted that students should be able to explain every concept with a small, tangible matrix before moving to theory.
Beyond the content, his teaching style stood out. He spoke to students with genuine respect, patience, and kindness, never using words like “obviously” or “trivially.” He regularly paused to check if anyone was lost and treated beginners as thoughtfully as he would his colleagues.
As a result, Strang became the default linear algebra teacher for much of the planet. Universities in many countries began recommending his lectures to their own students. Some even replaced their in-person courses with his videos because they could not match their clarity.
His final lecture ended with a long standing ovation. Strang seemed surprised by the applause, smiled humbly, and simply thanked everyone.
In his short comment under the YouTube video, he expressed gratitude for a wonderful life of teaching and hoped others would continue teaching the subject well. No self-promotion, no grand farewell—just quiet sincerity.
When you add up every version, every upload, help sessions, and all the different recordings MIT has shared over the years, the total has surpassed 20 million views.
Today, the full course, including all lectures, problem sets, and solutions, remains freely available on MIT OpenCourseWare. One of the most important mathematical foundations of modern AI is still just one click away.

English
PointofView retweetledi

Guys, ada pertanyaan yang menurut gue jarang banget ditanyakan padahal jawabannya mengubah cara lo melihat segalanya.
Kenapa sekolah dimulai jam 7 pagi?
Kenapa ada bel tanda masuk dan bel tanda pulang?
Kenapa kita duduk berbaris di kelas?
Kenapa ada ujian, nilai, rapor, peringkat?
Jawabannya bukan karena itu cara terbaik untuk belajar.
Tapi karena itu adalah cara terbaik untuk mencetak pekerja pabrik.
Dan semua itu dimulai dari satu orang lebih dari seratus tahun yang lalu.
John D. Rockefeller dan ini yang jarang diceritakan:
Semua orang tahu Rockefeller sebagai orang terkaya dalam sejarah Amerika.
Raja minyak.
Pendiri Standard Oil.
Tapi warisan terbesarnya bukan kilang minyak.
Warisan terbesarnya adalah cara berpikir jutaan manusia di seluruh dunia termasuk kita di Indonesia.
Di awal abad ke-20 Amerika sedang dalam ledakan industrialisasi besar.
Pabrik-pabrik butuh tenaga kerja massal.
Jutaan orang yang bisa:
Datang tepat waktu.
Patuh pada perintah.
Tidak banyak bertanya.
Mengerjakan tugas yang sama berulang-ulang setiap hari.
Masalahnya manusia pada masa itu terlalu bebas.
Sekolah masih beragam dan lokal.
Anak-anak belajar berpikir, berdiskusi, berimajinasi. Hal yang indah tapi tidak efisien untuk mesin industri.
Rockefeller melihat celah itu.
Dan dia punya solusi.
The Rockefeller Foundation dan General Education Board:
Rockefeller mendirikan yayasan pendidikan. Menggandeng Frederick Taylor pelopor "scientific management" yang percaya manusia bisa dikelola seperti mesin dan Andrew Carnegie taipan baja untuk mendanai General Education Board tahun 1903.
Lembaga ini merancang ulang sistem pendidikan Amerika dari nol.
Kurikulum dibuat seragam.
Jam pelajaran diatur seperti jadwal pabrik.
Bel masuk, bel istirahat, bel pulang persis seperti sirene pabrik.
Guru tidak lagi berperan sebagai mentor yang menginspirasi tapi sebagai mandor yang mengawasi produktivitas.
Dan Rockefeller pernah berkata sesuatu yang sangat terkenal dan sangat mengerikan:
Saya tidak ingin bangsa pemikir.
Saya ingin bangsa pekerja.
Apa yang dihilangkan dari kurikulum dan ini yang paling penting:
Pelajaran filsafat dikurangi. Seni dipinggirkan.
Sejarah kritis dihilangkan.
Digantikan dengan pelajaran yang "berguna untuk dunia kerja" aritmatika dasar, teknik administrasi, prosedur kerja.
Anak-anak diajarkan berhitung dan mengikuti prosedur.
Tapi tidak diajarkan untuk bertanya mengapa prosedur itu ada.
Setiap kesalahan dihukum.
Setiap perbedaan ditekan.
Kreativitas tidak diukur yang diukur adalah kepatuhan.
Dan hasilnya?
Generasi yang cerdas secara akademis tapi takut berpikir di luar garis.
Bagaimana ini sampai ke Indonesia:
Setelah berhasil di Amerika model ini menyebar ke seluruh dunia lewat lembaga internasional dan program pendidikan global.
Eropa mengadopsinya. Jepang mengadopsinya. Dan Hindia Belanda yang sudah punya tradisi sekolah kolonial untuk mencetak pegawai administrasi mengadopsinya dengan sangat mudah.
Ketika Indonesia merdeka kita mengganti benderanya. Tapi tidak mengganti mesinnya.
Holland Ensis School menjadi Sekolah Dasar. Government Middlebor School menjadi SMA. Tapi semangatnya sama: taat pada sistem, hafal teks, patuh pada nilai.
Pelajaran agama diajarkan seperti hukum bukan seperti perjalanan mencari makna. Pelajaran sejarah disusun seperti naskah nama-nama besar tanpa ruang untuk menimbang versi lain. Pelajaran kewarganegaraan membentuk pola pikir tunggal bahwa kebenaran datang dari atas.
Dan di atas semua itu ada ketakutan untuk salah. Ketakutan yang dibangun lewat ujian, nilai, dan peringkat.
Pola yang lo lihat setiap hari dan sekarang lo tidak bisa berhenti melihatnya:
Bel berbunyi seperti sirene pabrik. Siswa duduk berbaris seperti lini produksi. Guru memeriksa hasil kerja seperti mandor memeriksa laporan harian.
Anak yang menghafal rumus dipuji. Anak yang bertanya kenapa rumus ini harus begini dianggap mengganggu.
Kita belajar bukan untuk memahami tapi untuk tidak disalahkan.
Dan ketika lulus kita pikir semuanya berubah. Ternyata tidak. Dunia kerja hanyalah lanjutan dari ruang kelas. Tidak ada guru yang ada atasan. Tidak ada nilai rapor yang ada evaluasi kinerja. Tidak ada hukuman fisik yang ada rasa takut kehilangan pekerjaan.
Segalanya berjalan dengan logika yang sama: patuh, cepat, efisien.
Lembur dianggap bukti loyalitas. Kelelahan dianggap prestasi. Berpikir kritis dianggap ancaman terhadap budaya perusahaan.
Dan sekarang mesinnya sudah bertransformasi ke dunia digital:
Media sosial adalah ruang kelas baru. Algoritma adalah guru baru. Jumlah followers adalah rapor baru.
Kita bangun pagi, buka HP, dan mulai membandingkan diri dengan orang lain. Tanpa sadar kita sedang ikut ujian yang tidak pernah berakhir.
Dan seperti di sekolah dulu tujuannya bukan untuk memahami. Tapi untuk tidak kalah.
Tapi ini yang perlu dipahami dengan jujur:
Narasi ini punya nilai tapi juga punya batas yang perlu diakui.
Rockefeller memang berpengaruh besar dalam membentuk sistem pendidikan Amerika awal abad 20. Dan kritik bahwa sistem pendidikan terlalu fokus pada kepatuhan dan hafalan daripada berpikir kritis itu adalah kritik yang valid dan didukung banyak peneliti pendidikan modern.
Tapi tidak semua aspek sistem sekolah lahir dari konspirasi industri.
Ada juga komponen yang murni berasal dari perkembangan pedagogi, kebutuhan sosial, dan konteks budaya masing-masing negara.
Yang paling penting untuk diambil dari narasi ini bukan menolak pendidikan formal sepenuhnya. Tapi mempertanyakan bagian mana dari sistem yang membentuk pemikir merdeka dan bagian mana yang hanya membentuk kepatuhan.
Dan di Indonesia pertanyaan itu sangat relevan:
Kita punya salah satu sistem ujian nasional yang paling berorientasi hafalan di Asia. Anggaran pendidikan 20% dari APBN tapi kualitas pembelajaran masih sangat jauh dari ideal. Guru dihormati karena tegas bukan karena inspiratif. Nilai tinggi lebih dihargai dari rasa ingin tahu.
Dan yang paling ironi guru honorer yang setiap hari menjalankan sistem ini mendapat gaji Rp300.000-500.000 per bulan. Sementara BGN menganggarkan Rp1,2 miliar untuk "Jasa Pengelolaan Opini Publik."
Sistem yang merendahkan orang yang menjalankannya itu bukan sistem pendidikan.
Itu adalah sistem eksploitasi yang dikemas dalam bahasa mulia.
Apa yang bisa dilakukan:
Satu — mulai bertanya mengapa bukan hanya apa dan bagaimana. Itu adalah perubahan paling mendasar yang bisa dilakukan setiap individu.
Dua — baca lebih banyak dari satu sumber. Sistem yang Rockefeller bangun sangat bergantung pada monokultur informasi. Internet sudah meruntuhkan itu — tapi hanya kalau lo aktif menggunakannya untuk belajar, bukan hanya untuk scrolling.
Tiga — jangan samakan nilai akademis dengan kecerdasan. Dan jangan samakan gelar dengan kemampuan berpikir. Dua hal ini berbeda secara fundamental.
Empat — desak reformasi kurikulum yang nyata. Indonesia sudah punya Kurikulum Merdeka yang di atas kertas lebih baik dari sebelumnya tapi implementasinya masih sangat bergantung pada kemampuan guru yang sayangnya masih belum didukung oleh kesejahteraan yang layak.
Sistem sekolah yang kita jalani setiap hari bukan sistem yang netral. Ia lahir dari keputusan yang dibuat oleh orang-orang tertentu dengan kepentingan tertentu lebih dari seabad lalu.
Bukan berarti kita harus membuang semua yang ada. Tapi kita perlu bertanya dengan jujur: apakah sistem ini masih relevan untuk dunia yang berubah secepat sekarang? Apakah sistem ini mencetak manusia yang bisa berpikir atau hanya manusia yang bisa mematuhi?
Dan yang paling penting: apakah kita mau terus menjalankan sistem yang kita sendiri tidak pernah mempertanyakan asal-usulnya?
"Saya tidak ingin bangsa pemikir. Saya ingin bangsa pekerja."
John D. Rockefeller
Pertanyaannya adalah: apakah kita mau terus menjadi apa yang dia inginkan?

Indonesia
PointofView retweetledi

Di media sosial khususnya X, pernah beberapa kali beredar isu tentang adanya rencana demo besar yang akan dilakukan oleh koalisi masyarakat sipil, yang menuntut evaluasi hingga penghentian program di pemerintahan Presiden Prabowo yang dinilai membebani APBN dan malah menguntungkan pemilik modal. Di bulan Mei, aksi demo akan diawali oleh May Day yang rutin digelar tiap tahun. Namun yang menjadi tantangan sekaligus pertanyaan yaitu, apakah akan terjadi demo lanjutan jika demo buruh nanti berakhir ricuh?
Nah berbicara tentang ricuh atau kerusuhan dalam aksi demonstrasi di Indonesia, kejadian itu selalu terjadi berulang kali hingga menyebabkan kerugian materil dan non materil. Tapi yang menarik perhatian adalah, apakah kericuhan itu merupakan respon organik atau sengaja dibuat ricuh untuk memancing aksi lanjutan? Demo yang terjadi pada akhir Agustus 2025 kemarin berlanjut karena adanya seorang driver ojek onlineyang terlindas mobil taktis polri, lalu kematian driver itu menjadi momentum kemarahan rakyat yang sayangnya, juga dimanfaatkan oleh aktor intelektual untuk semakin memperkeruh keadaan.
Kita tidak boleh lupa, pada saat demo akhir Agustus itu terdapat dua (kalau tidak salah) anggota BAIS TNI yang ditangkap oleh polisi karena melakukan provokasi di tengah aksi massa. Nah yang jadi pertanyaan selanjutnya, apa yang menjadi tujuan anggota BAIS TNI melakukan provokasi?
Dalam perspektif operasi intelijen, Agent Provocateur adalah taktik intelijen klasik di mana agen atau orang suruhan pihak intelijen (anggota BAIS TNI) sengaja menyusup ke tengah massa demonstrasi lalu melakukan provokasi. Tujuannya bukan hanya sekadar untuk “membuat ricuh”, melainkan menciptakan efek domino yang menguntungkan pihak yang mengendalikan (aktor intelektual). Di dalam teori ini, kerusuhan bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan "dipancing secara terencana" agar situasi semakin memanas. Singkatnya, agen provokasi bukan hanya sekedar “mengawasi”, tapi sengaja menyulut api agar api itu bisa berkobar lebih besar sesuai dengan perintah si aktor intelektual.

Indonesia
PointofView retweetledi

LANDJOETKEN . .....❗
Maling , Biar Diberikan AMANAH Tetap Saja
Otaknya otak MALING.
Beberapa Kontraktor yang Mengerjakan KOPDES ERAH OUTIH Mengakui Hanya Memperoleh Platfom Rp.800 Juta , Sedangkan Anggaran Yang sudah Ditetapkan Adalah
Rp. 1,6 M ---- 50% Menguap.
KEJAR - PECAT - PENJARA.
Uang siapa niih . .. . .?
SehatIndonesiaku
Indonesia
PointofView retweetledi

Berikut video ulasan saya "Kasus Nadiem : BUAT APA ..?" Silahkan dikomentari, dibahas & disebarkan. Boleh dikutip media, boleh dibuat clip juga. Salam, Dino Patti Djalal #ididnotSignupforthis!
Indonesia
PointofView retweetledi

Nyaris semua sektor sipil sdh "diinvasi".
Kenapa ngga' sekalian, mobil sedot tinja dikuasai ?
____________
Lalat hijau, atau sy kerap menyebutnya "𝗹𝗮𝗹𝗲𝗿 𝗶𝗷𝗼", itu adalah makhluk kecil dgn selera yg besar, namun bukan pada keindahan, melainkan pada kebusukan.
Di republik yg sdh terlalu lama menumpuk kebusukan, "laler ijo", bukan lagi sbg tamu, tp sdh jadi ekosistem.
Dan ketika jumlahnya semakin banyak, yg dianggap aneh, justru mereka yg ngga' ikut hinggap.
𝗧𝗔𝗣𝗜 𝗜𝗡𝗜 𝗕𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗧𝗘𝗡𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗟𝗔𝗟𝗔𝗧.
.
.
Indonesia











