Sabitlenmiş Tweet
b
303 posts

b retweetledi

Guys, ada satu wawancara budayawan senior yang menurut gue paling jujur soal apa yang sebenarnya terjadi di lingkaran kekuasaan sekarang.
Dan ini bukan dari orang sembarangan ini Eros Jarot, yang sudah kenal Prabowo sejak masih jadi perwira, dan ngomongnya bukan dengan kebencian tapi justru sebagai sahabat lama.
Intinya satu: Prabowo sedang dininabobokan.
Dan 100 lebih menteri serta wakil menteri di sekelilingnya tidak ada satupun yang berani jujur kasih masukan ketika ada blunder.
Yang pertama harus dipahami:
kata Eros, kebenaran, kebenaran itu sendiri, dan pembenaran tiga hal yang seharusnya berdiri di tiga lembaga berbeda sesuai ajaran Montesquieu sekarang sudah berada di satu level dan dikooptasi oleh satu kekuatan yang sama.
DPR yang seharusnya merumuskan kebenaran dari aspirasi rakyat sekarang yang menentukan "kata benar" cuma eksekutif.
Yudikatif yang seharusnya melakukan pembenaran atas nama konstitusi malah ada lembaga tambahan bernama buzzer yang tugasnya memperkuat pembenaran apapun yang sudah diputuskan pemerintah.
Begitu tiga hal ini sudah satu level dan dikooptasi kekuasaan ini bukan lagi negara hukum.
Ini negara kekuasaan.
Dan ini yang paling penting soal demo mahasiswa:
Eros dengan tegas bilang dia bersimpati dan mendukung gerakan mahasiswa.
Bukan karena ditunggangi asing seperti yang sering dituduhkan.
Tapi dia juga kasih peringatan keras ke Prabowo:
"Dia ngusir para mahasiswa demo itu bukan dengan menurunkan ribuan dan ratusan ribu tentara dan polisi. Enggak akan mereka enggak akan surut. Mereka akan bertambah besar."
Caranya bukan represi.
Kalau mau mahasiswa berhenti turun ke jalan benahi kabinetnya.
Benahi cara bicara sebagai presiden supaya tidak gampang mengeluarkan janji yang tidak bisa dipegang.
Dan inilah inti masalahnya:
ada Super Menko di dalam kabinet.
Orang paling dekat dengan Prabowo yang bisa di-reach langsung lewat satu pintu sementara menteri lain dan bahkan duta besar harus lewat dia dulu.
Eros mempertanyakan ini dengan jujur:
levelnya menteri apa?
Kapasitasnya apa?
Bandingkan dengan era Soeharto yang meskipun banyak kesalahannya, tapi dalam memilih pembantu ada proses seleksi yang berat.
Sekarang?
Orang dengan pangkat menengah tiba-tiba jadi menteri tanpa jenjang yang jelas.
Bahkan ada yang baru menjabat beberapa bulan langsung dapat Bintang Mahaputra.
"Ini kan satu pertanyaan.
Bintang Mahaputra itu yang dicetak diren atau apa sudah serdadu sekarang?"
Dan ini bagian yang paling menohok soal pola yang berulang: setiap kali Prabowo bikin blunder entah soal dolar, rupiah, saham, atau kebijakan yang merugikan rakyat selalu dibela habis-habisan oleh menterinya sendiri. Bukan dikoreksi. Dibela.
"Katanya bensin enggak naik-naik.
Kalau enggak naik jangan terlalu cepat-cepat bilang enggak naik dong.
Lihat menteri-menteri Anda."
Para menteri yang seharusnya berani bilang "Pak, ini salah, harus dikoreksi" malah dengan mudahnya bicara "nanti rupiah akan menguat" padahal tidak terjadi.
Dan ketika itu tidak terjadi yang jadi sasaran tetap kepala. Bukan menterinya.
Kasus Dadan dan BGN jadi contoh paling nyata. Seorang profesor, intelektual, yang harusnya punya integritas moral lebih baik justru terbukti korupsi besar-besaran.
Tapi Eros melihat ini lebih dalam dari sekadar karakter satu orang:
"Dia nyemplung ke laut, ya pasti basah.
Tapi begitu laut besar penuh tantangan dicemplungin tanpa persiapan seharusnya bikin dermaga-dermaga dulu, pilot project dulu, baru perlahan diperbesar."
Yang terjadi malah sebaliknya dari nol langsung digelontorkan ribuan dapur SPPG sekaligus, tanpa infrastruktur yang matang, tanpa pengawasan yang ketat. Dan ketika hasilnya berantakan yang disalahkan cuma satu kepala BGN, sementara desain sistem yang cacat dari awal tidak pernah benar-benar diperbaiki.
Dan ini analisis paling tajam dari Eros:
dia menduga ini bukan kebetulan.
Mungkin memang ada yang sengaja tidak menerjemahkan niat baik Prabowo dengan benar supaya semua kebusukan jatuh ke tangan dia, padahal sistemnya sendiri sudah bobrok dari sebelumnya.
"Tonggak-tonggaknya memang sudah didesain bahwa itu akan runtuh.
Cuma karena orang baik ini saking baiknya sampai tidak melihat itu dan memang sengaja ditutup matanya."
Orang-orang baik di sekitar Prabowo termasuk yang disebut Eros sebagai kenalan dekatnya justru lebih mudah dimanfaatkan karena terlalu baik dan tidak punya pikiran buruk.
Dan itu yang membuat tikus-tikus di sekitarnya bisa menggerogoti tanpa terdeteksi.
Soal geopolitik dan ketergantungan asing juga disinggung tajam. Eros membandingkan: Prabowo sering menuduh demo mahasiswa ditunggangi asing.
Tapi bagaimana dengan kebijakan investasi asing yang membuka pintu dapur, lalu pintu tengah, lalu pintu depan, sampai semua jendela dan atap dibuka untuk modal asing?
"Negara kita dijadikan negara subordinat dari negara lain. Ini bukan lebih ngeri daripada orang per orang? Kalau orang per orang bisa kita tangkap. Kalau negara gimana?"
Dan soal reformasi 98 Eros yang waktu itu ada di lingkaran dekat sendiri mengakui dengan jujur: reformasi waktu itu cuma pergantian, bukan perubahan. Pijakan dasarnya tidak pernah benar-benar diubah.
Itulah kenapa pola yang sama terus berulang sampai sekarang ganti orang, tapi sistem yang busuk di bawahnya tetap sama.
Eros tidak sedang menyerang Prabowo secara personal. Dia justru bilang niatnya bagus, masih kenal dia sebagai sosok yang ingin baik.
Tapi niat baik saja tidak cukup kalau orang-orang di sekelilingnya para menteri, super menko, sampai aparat penegak hukum tidak berani jujur mengkritik, dan malah terus membela setiap blunder yang terjadi.
Dan kalau pola "dininabobokan" ini terus berlanjut di mana tidak ada satupun dari ratusan menteri dan wakil menteri yang berani kasih masukan jujur,
sementara aparat keamanan terus dipakai untuk membungkam suara kritik bukan mendengarkannya maka demo mahasiswa bukan akan surut. Justru akan terus bertambah besar.
Karena yang membuat rakyat marah bukan mahasiswanya yang turun ke jalan. Yang membuat rakyat marah adalah cara kekuasaan ini dikelola.

Indonesia
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi

kasian anaknya punya ortu kaya gini;___D
ر@tangIedribs
sebenarnya menarik banget gimana mahasiswa ini diperceive sebagai orang yang ga beradab dan beretika perkara *cross check* melawan rezim yang korup. kaget ketika mahasiswa itu aware dengan isu sosial. kayak... kan itu ya tujuannya pendidikan 😭 isn't like thats the whole point
Indonesia
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi
b retweetledi

b retweetledi




























