Ka Byla retweetledi
Ka Byla
267 posts

Ka Byla retweetledi
Ka Byla retweetledi

@txtharihariWNI Kebetulan anak gue manggilnya bunda. Moga di jauhin dari pasangan kek gini
Indonesia
Ka Byla retweetledi

HP temen gue hilang. Besoknya syok berat, tagihan Paylater Rp12 juta dari transaksi yang gak pernah dia lakuin.
Aplikasinya dengan enteng bilang, "Pelaku masuk pakai PIN asli, berarti kelalaian user."
Temen gue sampai depresi. Gue langsung turun tangan.
3 hari kemudian, tagihan itu resmi jadi Rp0. Total biaya jadi Rp0.
Ini yang gue lakuin:
Bukan nyari HP lewat GPS. Prioritas utama adalah, amankan semua akun finansial dari perangkat lain. Login dari device cadangan, force logout semua sesi aktif. Terus telpon operator, blokir SIM card sementara. Ini krusial biar pelaku gak bisa terima OTP via SMS.
Yang paling penting dan kebanyakan orang gak tahu yaitu, minta log IP address + Device ID dari semua transaksi. Email resmi ke CS, minta data lengkap. Ini bukti kuat kalau transaksi dilakuin dari perangkat dan lokasi yang BEDA dari lo.
Buat laporan polisi (STPL). Banyak orang males ke polisi, padahal ini bukti hukum resmi bahwa lo korban, bukan pelaku yang pura-pura hilang.
Kirim surat sanggahan resmi via EMAIL, bukan chat CS biasa. Lampirkan kronologi, foto STPL, permintaan pembekuan tagihan selama investigasi. Chat CS gampang diabaikan, email formal punya kekuatan hukum.
Mereka masih nolak? Lapor OJK. kontak157.ojk.go.id atau telpon 157. OJK punya wewenang penuh buat nindak platform yang abai perlindungan konsumen. Begitu laporan OJK masuk, respons mereka biasanya berubah 180 derajat.
Alasan "PIN asli = kelalaian user" itu gak valid secara hukum. POJK 6/2022 bilang perusahaan WAJIB punya verifikasi berlapis untuk transaksi tak wajar. Kalo sistem mereka gak bedain pemilik asli vs pelaku, itu kegagalan MEREKA.
Hasilnya, hari 1 laporan polisi + sanggahan. Hari 2 eskalasi OJK. Hari 3 tagihan Rp12 juta DIHAPUS jadi Rp0.
Btw, stop nyatet PIN di Notes HP lo.
Indonesia
Ka Byla retweetledi
Ka Byla retweetledi

Ka Byla retweetledi
Ka Byla retweetledi

Guys...
Sebut aja dia Hana.
Empat tahun lalu, Hana yang minta cerai dari suaminya. Atas kehendak dia sendiri.
Waktu itu dia merasa layak dapat yang lebih baik.
Terpengaruh konten internet yang bilang suami harus bisa kasih mobil, rumah, emas. Sementara suaminya waktu itu gajinya biasa aja.
Jadi Hana mulai meremehkan, mulai menuntut lebih, sampai akhirnya dia sendiri yang mengajukan cerai.
Dia bawa anak perempuannya dan mulai hidup sendiri.
Tapi waktu terus berjalan. Dan lelaki sempurna yang dia bayangkan itu tidak pernah datang.
Tidak ada yang seperti yang dijanjikan konten-konten di internet. Dan perlahan Hana mulai sadar sesuatu yang seharusnya dia sadari jauh sebelum semua ini terjadi.
Suaminya dulu selalu dengerin masalahnya. Selalu layani dia.
Selalu perhatian, meski caranya sederhana. Dan Hana waktu itu menganggap semua itu biasa saja. Tidak berharga.
Sekarang dia tahu betapa salahnya dia.
Yang bikin makin berat, mantan suaminya sampai sekarang belum menikah lagi.
Tapi dia juga tidak pernah sekalipun mencoba kembali ke Hana.
Tidak ada hint, tidak ada tanda-tanda. Dia seperti sudah benar-benar menutup buku itu rapat-rapat.
Setiap kali datang menjemput anak, dia berhenti agak jauh dari rumah. Telepon anak, tunggu anak keluar, lalu langsung pergi. Tidak menanyakan kabar Hana. Tidak menyebut nama Hana ke siapapun.
Seperti Hana sudah tidak ada di hidupnya.
Dan itu yang paling menyakitkan.
Bukan karena dia jahat. Bukan karena dia marah. Tapi karena dia baik-baik saja tanpa Hana. Diam-diam move on tanpa drama, tanpa dendam, tanpa sisa.
Guys, ada jenis kehilangan yang tidak datang dengan keributan.
Tidak ada teriakan, tidak ada air mata di depan pintu.
Hanya seseorang yang suatu hari memilih untuk tidak lagi melihat ke arahmu, dan terus berjalan.
Dan itu justru yang paling susah untuk diterima.
Hana sekarang ingin kembali. Tapi pintu itu seperti sudah dikunci dari dalam, tanpa suara, tanpa pengumuman.
Menurut kalian, mantan suami Hana ini sudah benar-benar ikhlas dan move on, atau dia juga memendam sesuatu tapi memilih untuk tidak menunjukkannya?
Dan kalau kalian jadi Hana, kalian akan coba buka suara duluan atau memilih untuk terima kenyataan dan melanjutkan hidup?
Indonesia
Ka Byla retweetledi

Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
Indonesia
Ka Byla retweetledi

pengen dipanggil nuna juga............
tp as mbak2 jawa, keknya kurang ada damagenya gitu kalo brondong gw manggilnya, "mbak subak... mbak e... mbak subak" 😇⁉️😭✋🏻
#YumisCells3
Indonesia
Ka Byla retweetledi

@woohye304 Gapapa tapi 2 episode doang puas bikin nyengir² sendiri 🤣
Indonesia






















