Wijaya 🇲🇨

7.5K posts

Wijaya 🇲🇨 banner
Wijaya 🇲🇨

Wijaya 🇲🇨

@kadrun_kw

⛔KADRUN⛔KHILAFAH 💎Seseorang dinilai bukan dari kekayaannya, tapi dari cara memperolehnya💎 ⚠️Porn Blokir

Indonesia Katılım Aralık 2017
6.4K Takip Edilen6.6K Takipçiler
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Mas Sigit @ListyoSigitP kok kurus banget sih? Hire dab, poya hoho? Mas Sigit sejak SMP teman baik saya, satu sekolah di SMP 8 Yogyakarta. Sampai sebelum jadi Kapolri geng OSIS SMP 8 yang di Jakarta rutin ketemuan, kadang di rumah saya, kadang di PIX main Bowling bareng. Setelah jadi Kapolri sengaja ngga saya temuin karena pasti sibuk dan pusing kebanyakan kerjaan. Lagian dia juga deket sama Jokowi. Ups! Kenangan menyenangkan masa SMP. Waktu itu saya Ketua Umum OSIS, mas Sigit Ketua Bidang Olahraga. Pas dewasa, mas Sigit jadi Kapolri, saya jadi temannya Kapolri. Sehat-sehat yo Ndan. Poya stres lah, Woles pabe. ---- Saya ngomong boso walikan, jape methe jogja pasti mudeng
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
374
517
2.6K
185.8K
Wijaya 🇲🇨
Wijaya 🇲🇨@kadrun_kw·
@DokterTifa @ListyoSigitP Rafles Haron : apemnya tifo paling menggigit sedunia. Ternyata tifo ternak abah akhlaknya bejat. Kalo fitnah laporin FA ke polisi.
Indonesia
0
0
0
59
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Wajib Lapor adalah Tahanan Kota Sahabat Dokter Tifa dimanapun anda berada, Sejak saya ditetapkan sebagai Tersangka tanggal 7 November 2025, saya diberi kewajiban WAJIB LAPOR seminggu sekali ke POLDA Metro Jaya Dan kewajiban itu saya penuhi sebagai bentuk tanggungjawab saya sebagai warga negara yang baik. Jadi seperti ini suasana tempat saya diperiksa. Direskrimum Kamneg Unit 5. Unit Kamneg artinya Keamanan Negara. Artinya anda tahu kan bahwa persoalan Ijazah Palsu ya Joko Widodo ini adalah persoalan Keamanan Negara. Ijazah Palsu seorang Mantan Presiden yang menggunakannya untuk meraih jabatan Presiden 10 tahun, dan setelah dia pensiun, Rakyat melalui pajak harus membelikan rumah sebagai hadiah senilai kabarnya Rp 250 Miliar dan memberikan kepadanya uang pensiun sampai dia ke liang lahat. Dan untuk itu maka dia pakai Ijazah yang berdasarkan penelitian kami, menurut keyakinan kami, palsu. Wajib Lapor ini setelah saya jalani 22 kali, saya hikmati sebagai bentuk Tahanan Kota. Agar saya tidak pergi kemana-mana yang jauh. Dan pada wajib lapor tanggal 29 Januari 2026, dua oknum termul, AA dan FA, mendatangi saya di ruang lapor ini, membujuk dan menawari saya agar ke Solo menemui Joko Widodo untuk Restorative Justice. Di situlah, anda semua bisa menilai, siapa yang sesungguhnya ingin kasus ini selesai tanpa sidang pengadilan. Bukan saya tentu saja. Saya woles aja. Main ke Polda Unit Kamneg 5 seminggu sekali. "Halo halo Assalamu'alaikum. Apa kabar semua sehat-sehat?" Itu sapaan saya kepada Para Penyidik di ruangan itu. Saya yakin kalau saya sudah tidak wajib lapor lagi mereka bakalan kangen. Hahaha GR!
Indonesia
297
1.1K
3.5K
50.2K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Jumat, 11 Juli 2025. Hari itu seharusnya bukan hari yang sunyi. Biasanya, setiap langkah saya ke Polda Metro Jaya diiringi riuh suara, aktivis, wartawan, kamera, pertanyaan, dan energi perlawanan yang hidup. Ada solidaritas. Ada saksi. Ada keberanian yang terasa kolektif. Tapi hari itu, berbeda. Saya datang sebagai Saksi yang statusnya dinaikkan menjadi Terlapor. Sebuah transisi yang bukan sekadar administratif, tetapi penuh tekanan, sangat menekan batin dan jiwa. Siapapun yang mengalaminya, pasti mengharapkan dikawani dengan kebersamaan. Tetapi pagi itu, hanyalah keheningan. Tidak ada kerumunan. Tidak ada wartawan. Tidak ada aktivis yang biasa berdiri di samping saya. POLDA yang biasanya hingar bingar, mendadak seperti ruang hampa. Sunyi yang tidak alami. Sunyi yang terasa “diatur”. Belakangan saya memahami, itu bukan kebetulan. Ada “perintah”. Ada mulut tak terlihat yang melarang siapa pun datang. Melarang kehadiran. Melarang solidaritas. Melarang liputan. Seolah-olah hari itu harus saya jalani dalam kesendirian. Seolah-olah saya harus dibuat tampak sendirian. Pemeriksaan berjalan. Waktu terasa panjang, tapi saya tahu ini bukan sekadar soal hukum. Ini soal tekanan. Soal pesan. Soal siapa yang boleh bersuara, dan siapa yang harus dibungkam. Ketika semua selesai, saya melangkah keluar. Di bawah pohon besar yang biasanya menjadi saksi kebersamaan kami, di seberang Ruang Tahanan POLDA, tempat kami berdiskusi, dan saling berbagi semangat dan bara, Hari itu, pohon itu juga “sepi”. Tapi tidak sepenuhnya kosong. Ada dua orang duduk di sana. Menunggui saya keluar dari ruang pemeriksaan. Rismon. Dan istrinya, Vivian. Hanya mereka. Di tengah larangan. Di tengah tekanan. Di tengah situasi yang membuat banyak orang memilih menyingkir dari saya, Mereka hadir. Dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: keberanian untuk tetap berdiri di saat yang lain dipaksa mundur. Sementara yang lain, tak berkutik. Bukan karena tidak peduli. Tetapi karena takut. Karena ditekan. Karena ada garis tak kasat mata yang hari itu tidak boleh dilanggar. Dan di momen itulah saya memahami satu hal: Dalam perjuangan, yang tersisa bukanlah jumlah. Tetapi siapa yang tetap berdiri ketika semua dipaksa pergi. Karena itulah, karena kenangan itulah, saya tidak pernah benar-benar percaya bahwa Rismon adalah penyusup. Saya melihat sendiri. Saya mengalami sendiri. Di saat semua orang menghilang atau dipaksa diam, dipaksa menjauuh, Rismon justru datang. Menemani. Membersamai. Itu bukan sikap seorang penyusup. Itu sikap seseorang yang pernah memilih untuk setia. Maka ketika hari ini banyak yang menilai, menuduh, bahkan menghukumnya tanpa ruang, saya memilih melihat lebih dalam. Saya percaya, apa yang terjadi bukanlah pengkhianatan yang sederhana. Bukan hitam-putih. Ada sesuatu yang lebih manusiawi di baliknya. Cinta. Cinta yang luar biasa pada belahan jiwanya. Yang puluhan tahun ini menemaninya kemanapun pergi. Cinta yang mungkin membawa beban masa lalu, sebuah kesalahan yang pernah terjadi, yang tidak pernah benar-benar selesai. Dan dalam tekanan, dalam situasi yang tidak semua orang pahami, dia mungkin terpaksa mengambil langkah yang dari luar terlihat seperti “berbalik arah”. Padahal bisa jadi. itu adalah bentuk lain dari bertahan. Bukan karena dia tidak tahu mana yang benar. Tetapi karena ada hal yang lebih dalam yang sedang ia lindungi. Kita sering lupa, bahwa di balik setiap keputusan yang tampak “aneh” di permukaan, ada pertarungan batin yang tidak terlihat. Dan tidak semua orang cukup kuat untuk melewatinya tanpa luka. Tetapi begitulah dunia politik bekerja. Dan itu saya pahami dengan baik.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
212
484
2.2K
38.5K
Wijaya 🇲🇨
Wijaya 🇲🇨@kadrun_kw·
@DokterTifa Ijazah asli pasti ditunjukkan di persidangan. P21 keluar, tiket anda menuju bui. Tifa merangkap peneliti terong.
Indonesia
0
0
0
46
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Pak Jusuf Kalla minta Jokowi menunjukkan ijazah aslinya bulan April 2026. Pertanyaan saya: Beranikah Jokowi mengaku ijazah yang diupload Dian Sandi ini sebagai ijazahnya? Foto yang ada di ijazah saya analisis dengan perhitungan matematika model Bayesian dan Monte Carlo, yang sudah saya sampaikan ke Sidang CLS Surakarta ketika saya didatangkan sebagai Saksi Ahli Bahwa foto di ijazah ini berbeda sebesar 92,37% dengan foto Joko Widodo yang jadi Presiden. Saya ulang lagi: Beranikah Jokowi mengaku ijazah ini sebagai ijazahnya ? Kita tunggu!
Dokter Tifa tweet mediaDokter Tifa tweet media
Indonesia
463
1.4K
5.2K
304.8K
Wijaya 🇲🇨
Wijaya 🇲🇨@kadrun_kw·
@DokterTifa Proses hukum sudah P21, bukti sdh lengkap, @DokterTifa menuju sel krn memfitnah ijazah pak @jokowi palsu. Sebentar lagi tifa menjadi sampah politik mengikuti jejak Amin Rais.
Indonesia
0
0
0
38
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Suatu ketika dulu ada sebuah negeri Yang dipimpin oleh seseorang yang bukan saja ijazahnya palsu Tetapi juga namanya, jati dirinya, riwayat pendidikannya, orangtuanya, keluarganya, asal-usulnya, tempat kelahirannya, bahkan hampir semua elemen dalam dirinya palsu. Untuuung negeri itu bukan negeri saya. Oaaheem...masih ngantuk habis sahur.
Indonesia
212
388
1.6K
42.2K
Wijaya 🇲🇨
Wijaya 🇲🇨@kadrun_kw·
@DokterTifa Bentar lagi tifa masuk penjara krn fitnah ijazah palsu pak @jokowi . Gak usah bertingkah. Berkas sdh P21.
Indonesia
0
0
0
45
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Penelitian atas dasar ilmu dan kuriositas terhadap pertanyaan terbesar rakyat selama 11 tahun ini: "Aslikah ijazahmu, Tuan Presiden?" Yang diteliti dokter Tifa, kata Rocky Gerung, adalah: otak Jokowi dan ekspresi tubuh dan wajah, dengan ilmu Neuropolitika, membedah konsistensi ucapan, gesture, dan mikroekspresi yang menunjukkan gelagat berbohong laten yang persisten. Baca buku ini, karya berikutnya dari penggagas Ilmu Neuropolitika, dr Tifauzia Tyassuma. Agar anda paham, mengapa Ijazah ini menjadi kunci kotak Pandora Misterium Tremenendum, Misteri gelap yang melingkupi bangsa ini belasan tahun, sekaligus pemantik keberanian Para Ilmuwan lainnya untuk bicara lantang! 081222079097 (Asti)
Dokter Tifa tweet mediaDokter Tifa tweet media
Indonesia
86
274
861
22.4K
Wijaya 🇲🇨
Wijaya 🇲🇨@kadrun_kw·
@Opposite6888 Kesalahan @jokowi bagi pembenci : 1. Pembubaran hti dan fpi 2. Pembubaran Petral 3. Pengambil alihan Freeport 4. Pengambil alihan blok rukan dll 5. Hilirisasi 6. Pembangunan tol, bendungan,Bandara dll 7. Pengajuan RUU Perampasan Aset 8. Mendukung Prabowo menang Pilpres 9. PSI oke
Indonesia
0
0
1
44
Opposite6888 🇮🇩
Opposite6888 🇮🇩@Opposite6888·
10 thn menjabat Mulyono sering sekali ke wilayah Indonesia timur, salah satu nya NTT. Menemui warga2 miskin lalu menangis didepan mereka, ngibulin rakyat dgn pencitraan2 BUSUK. Janji kampanye akan mensejahterakan rakyat terutama wilayah timur ternyata malah jadi garong disana 🤦🏻‍♂️
Opposite6888 🇮🇩 tweet media
Indonesia
91
338
816
20K
Wijaya 🇲🇨
Wijaya 🇲🇨@kadrun_kw·
@henrysubiakto Beberapa kesalahan @jokowi bagi pembenci : 1. Pembubaran hti dan fpi 2. Pembubaran Petral 3. Pengambil alihan Freeport 4. Pengambil alihan blok rukan dll 5. Hilirisasi 6. Pembangunan tol, bendungan dll 7. Pengajuan RUU Perampasan Aset 8. Mendukung Prabowo menang Pilpres
Indonesia
0
0
1
96
Henri Subiakto
Henri Subiakto@henrysubiakto·
Dulu saya percaya 99% foto yang wisuda itu benar benar pak Jokowi. Karena memang wajahnya sangat mirip dan meyakinkan. Namun setelah proses panjang ketahuan tokoh kita ini sering dengan entengnya bicara berubah berubah. Bicara tidak jujur tanpa beban. Ngomong inkonsisten tanpa malu. Berpolitik tanpa etika tanpa rasa bersalah. Sayapun menyimpulkan ada hal yang dulunya tak pernah kita sangka, bahkan tak pernah kita bayangkan sebelumnya, ternyata benar benar terjadi. Kami seperti mimpi di siang bolong, menjadikan kamipun jadi ragu dan tidak bisa percaya lagi dengan yang dulu kami sikapi. Karena itu kami, dengan beberapa akademisi yang dulunya percaya dan berharap pada tokoh satu ini, menjadi berubah total melihat kasus kasus di negeri ini. Sekarang Kami pesimis, kritis. Tak mudah percaya dengan hal hal biasa. Karena yang kami saksikan apa yg terjadi di negeri ini sebenarnya tak masuk akal, tapi ternyata benar benar terjadi di depan mata kami. Makanya kalau memang foto foto dulu itu betul, biarkan konsistensi terjadi dengan cara dibuka saja ijazah pak Jokowi di depan publik. Biarkan rakyat melihat, dan para ahli independen mengujinya supaya kontroversi yg berlarut larut segera selesai. Tapi mohon maaf karena sudah berkali kali merasa dibohongi dan dikelabuhi. Saya dan banyak teman di antara kami, sudah tidak bisa mempercayai lagi tanpa bukti bukti komplit yang diteliti secarah ilmiah oleh lembaga independent.
Henri Subiakto@henrysubiakto

Alhamdulillah ternyata foto yg lbh jelas gambarnya masih dimiliki teman2 pak Jokowi Fakultas Kehutanan UGM angkatan Tahun 1980, yang wisuda bukan November 1985 di Balaiirung. Jelas ya yg di blkg no 3 dr kanan skrg jd presiden RI ke 7.

Indonesia
485
618
3K
388.1K
Wijaya 🇲🇨
Wijaya 🇲🇨@kadrun_kw·
@PngAdilnR4kyt Coba kalo berani dialok dng mahasiswa UGM, UI, Erlangga jurusan hukum untuk membedah ijazah @jokowi yg dianggap palsu oleh TiRoRis. Gak bakalan berani. Beraninya cuma teriak2 di jalanan dan sosmed. TiRoRis dan pengacaranya sama2 manusia koplak. Manusia NDP.
Wijaya 🇲🇨 tweet media
Indonesia
0
0
2
64
Wijaya 🇲🇨
Wijaya 🇲🇨@kadrun_kw·
@merapi_uncover Pemalak modusnya ngemis dan ngamen dan itu bisa membunuh usaha UMKM. Koperindag setempat harusnya peka unt ambil tindakan hukum terhadap pengganggu wirausaha UMKM biar ada efek jera. Koperindag harusnya koordinasi dng Satpol PP setempat.
Indonesia
0
0
0
99
Merapi Uncover
Merapi Uncover@merapi_uncover·
Min mohon di samarkan nama saya, saya pelaku usaha di sekitaran maguwoharjo, setiap baru buka kios selalu di datangi pengamen,pengemis, dan anak punk. Yg bahkan sehari bisa 6-8 orang berdatangan apakah mereka di turunkan di satu titik yg sama sampai bisa bebarengan yg datang. Jika tidak di beri uang terkadang mereka memberikan jawaban ngegas dan tidak mengenakan, apakah ada yg mengalami seperti saya?
Merapi Uncover tweet media
Indonesia
41
40
171
35.1K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Inkonsistensi Struktural 709 Dokumen Pendukung Ijazah Jokowi: Metasintesis Multilinier Berbasis Teorema Matematika” Bagian 1 dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc Epidemiologi Perilaku, Neuroscience Behavior, Neuropolitika Analisis Probabilistik Bayesian dengan Variabel Identifikasi Anatomi Morfologi. Berikut adalah metasintesis awal yang saya kembangkan dengan menggunakan perbandingan dua kelompok foto dimana kelompok foto pertama saya sebut JKW 1 dan kelompok foto kedua JKW 2. Untuk diketahui bahwa selama ini beredar di masyarakat pertanyaan apakah JKW 1 dan JKW 2 adalah orang yang sama. Matematika sebagai Alatnya Allah SWT yang objektif dan bebas bias kita gunakan untuk membuktikan kesamaan atau perbedaan. Saya menggunakan salah satu model Matematika yaitu Bayesian Theorema dengan pendekatan Ilmu Epidemiologi, Anatomi, Morfologi, Frenologi, dan Perilaku. Sebagai Epidemiolog yang merupakan Matematikanya Ilmu Kedokteran, maka bidang hitung-menghitung adalah sebagian dari kompetensi saya. Variabel yang saya hitung dalam serangkaian analisis yang secara serial akan saya tulis, dengan bagian pertama adalah Anatomi Morfologi, meliputi: 1).Bentuk Cranium atau bentuk kepala dengan cranial outline oval dan rectangural , 2) Proporsi wajah meliputi upper, mid, lower facial atau perbandingan bentuk wajah atas, tengah, bawah, 3) struktur rahang dan dagu, mandibula dan Menton, 4) Morfologi hidung, masalah bridge, tip, dan alat, 5) Pola rambut dan hairline atau temporal recession density. Kelimanya saya ubah menjadi angka dan saya masukkan dalam rumus matematika Bayesian. Hasil nya dengan Likelihood Ratio (LR) dengan angka sebagai berikut: Bentuk Kranium atau tulang kepala LR Proporsi wajah tengah dan bawah Struktur mandibula angle dan Menton atau rahang dan dagu Morfologi hidung, Hairline & pola rambut Perbedaan temporal recession & density P(A_5|H₁)=0.25,\quad P(A_5|H₀)=0.75 TOTAL LIKELIHOOD RATIO Likelihood anatomi–morfologi: P(E'|H₁)=0.0054\times0.0043=0.0000232 P(E'|H₀)=0.0784\times0.1003=0.00786  POSTERIOR (BAYES’ THEOREM) P(H₁|E')=\frac{P(E'|H₁)P(H₁)}{P(E'|H₁)P(H₁)+P(E'|H₀)P(H₀)} P(H₁|E')=\frac{0.0000232\times0.5}{(0.0000232\times0.5)+(0.00786\times0.5)} \approx 0.00294 HASIL AKHIR (POSTERIOR) Persamaan JKW 1 dengan JKW 2 \boxed{P(H₁|E')\approx 0.29%} Sebesar 0.29% Perbedaan JKW 1 dengan JKW 2 \boxed{P(H₀|E')\approx 99.71%} sebesar 99,71% Note: Angka tersebut tidak untuk dijumlahkan. Simpulan: Posterior Bayesian berbasis indikator visual dan anatomi–morfologi menunjukkan probabilitas kesamaan antara JKW 1 dan JKW 2 pada kisaran sub-1%. Probabilitas perbedaan antara JKW 1 dan JKW 2 pada kisaran 99,71%. Bahasa sederhananya: Foto-foto Jokowi versi rambut tebal, hidung mancung, rahang tirus, kacamata, dan kumis dengan foto-foto Jokowi versi rambut tipis, hidung tepes, tanpa kacamata dan tanpa kumis, adalah DUA ORANG YANG BERBEDA, dengan perbedaan sebesar 99,71%! ----- Ilmu Bilangan atau Matematika adalah Ilmunya Allah sesuai dengan QS Al Qamar: 49 "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan bilangan" Nantikan Bagian 2.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
168
870
2.1K
71.8K
Wijaya 🇲🇨
Wijaya 🇲🇨@kadrun_kw·
@DokterTifa Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Masih beruntung TiRoRis dapat ancaman pidana penjara 12 tahun ? Seandainya pak @jokowi orang tua saya, sampai ke liang semutpun TiRoRis tukang fitnah akan saya cari unt saya bunuh.
Indonesia
0
0
1
35
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Kebohongan yang Terkuak di Ujung Tahun. Oleh: dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc Pasal 32 dan 35 UU ITE Pasal yang sangat kejam dengan hukuman 8 dan 12 tahun, yang dibuat untuk menghukum pembobol bank, pemanipulator data, hacker keamanan negara, dipakai oleh Joko Widodo, mantan Presiden, untuk mempidanakan RRT! Dan parahnya lagi, dalam pernyataan-pernyataan yang dia sampaikan di media, dia tidak mengakui! Ini lebih dari sekedar kekejaman bagi rakyat, lebih dari itu, dia telah membuat kegaduhan, dan perpecahan di masyarakat, meningkatkan rasa saling curiga. Dan yang paling mengerikan, dia melibatkan anak-anak muda sebagai termul, yang seharusnya menjadi aset bangsa, bukan sekedar berhenti menjadi termul. Berapa jahatnya. Tetapi yang lupa, ada biaya yang harus ditanggung oleh tubuh, yang tidak dia sadari, biaya emosi yang menghantam imunitas tubuh! Biaya ini tidak tercatat di neraca keuangan, tidak tampak di laporan kekuasaan, tetapi perlahan menggerogoti pikiran, tubuh, dan sistem imun. Ia bekerja senyap, konsisten, dan kejam. Kejujuran, meski sering terasa pahit di awal, sejatinya adalah berkat biologis dan psikologis. Saat seseorang jujur, pikiran berada dalam satu jalur. Tidak ada cerita ganda, tidak ada ingatan yang harus disesuaikan, tidak ada kecemasan tentang kebohongan mana yang harus dipertahankan. Otak berada dalam kondisi koheren. Tubuh pun relatif tenang. Sistem imun bekerja tanpa gangguan stres kronis. Sebaliknya, kebohongan adalah utang mental. Setiap kebohongan menuntut kebohongan lanjutan untuk menutupinya. Otak dipaksa hidup dalam konflik internal: antara fakta dan narasi, antara realitas dan citra. Dalam ilmu saraf dan psiko-neuro-imunologi, kondisi ini memicu stres kronis—kortisol naik, peradangan meningkat, dan sistem imun perlahan melemah. Tubuh membaca kebohongan sebagai ancaman yang tak pernah selesai. Dalam konteks Joko Widodo, polemik yang tak kunjung usai—terutama soal ijazah—bukan sekadar perkara hukum atau politik. Ia telah berubah menjadi beban emosi kolektif dan, lebih dalam lagi, beban psikobiologis bagi subjek utamanya. Setiap klarifikasi yang setengah, setiap transparansi yang tertunda, setiap narasi yang berubah-ubah, menambah lapisan stres baru. Bukan hanya pada publik, tetapi pada diri sendiri. Masalahnya, tubuh tidak bisa diajak berbohong. Pikiran boleh merekayasa cerita, aparat boleh mengatur prosedur, media boleh membingkai narasi, tetapi sistem imun hanya mengenal satu bahasa: kejujuran biologis. Ketika seseorang terus hidup dalam ketegangan mempertahankan kebohongan, tubuh akan menagihnya dalam bentuk kelelahan, penyakit autoimun, inflamasi kronis, atau kerusakan kesehatan yang tampak “tidak ada sebabnya”. Di titik ini, berbohong menjadi jauh lebih mahal daripada jujur. Mahal secara mental, mahal secara emosional, dan mahal secara biologis. Kejujuran mungkin menjatuhkan citra sesaat, tetapi ia menyelamatkan integritas diri. Kebohongan mungkin menyelamatkan kekuasaan sementara, tetapi ia menghancurkan ketenangan jiwa dan daya tahan tubuh. Sejarah berulang kali menunjukkan: kekuasaan bisa dipertahankan dengan manipulasi, tetapi kesehatan dan ketenangan hidup hanya bisa dirawat dengan kejujuran. Pada akhirnya, bukan pengadilan yang paling keras, melainkan tubuh sendiri yang akan memutuskan vonisnya.
Indonesia
409
888
2.4K
48.2K
Raden Nuh
Raden Nuh@RADEN_NUH_·
Skrg baru Ijazah Sarjana & SMA nya yg sdh terbukti palsu Eh Esemka juga palsu dink Walikotanya juga palsu Gub DKInya Palsu Presidennya Palsu Yg asli cuma korupsi dan tipunya Thn 2010-2014 saya bongkar ijazah palsunya 10 hari dia jd presiden eh saya lgsg ditangkap polisi
Raden Nuh tweet media
Indonesia
362
2.1K
8.7K
552.5K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Renungan dr. Tifa "Jokowi tidak jatuh karena kebohongan, dia jatuh karena ketakutannya mengakui kebenaran" Bismillahirrahmanirrahiim 1. Semakin lama kasus ijazah ini dibiarkan tanpa kejelasan, semakin tampak betapa besar luka kejujuran yang sedang kita hadapi sebagai bangsa. Ini bukan lagi tentang selembar dokumen akademik, bukan tentang satu  atau dua nama yang dituduh, bukan tentang memenangkan argumen publik. Ini telah berubah menjadi persoalan jauh lebih dalam: persoalan moralitas negara. 2. Ketika seorang mantan presiden  dimintai keterangan mengenai hal paling mendasar dalam riwayat hidupnya, namun memilih untuk tidak mengakui atau menjelaskan dengan terang, maka ruang hening yang tercipta tidak kosong. Ia terisi oleh kecurigaan, kemarahan, dan rasa dikhianati. Dalam ruang kosong itulah rakyat mulai bertanya-tanya, bukan hanya tentang satu orang, tetapi tentang struktur kekuasaan yang mungkin selama ini menutupi sesuatu yang harusnya menjadi terang. 3. Dan di titik inilah kegelisahan itu berubah menjadi getaran sosial. Rakyat bisa hidup dalam kekurangan ekonomi, tapi mereka sulit hidup dalam ketidakpastian moral. Rakyat  bisa menghadapi harga naik, pajak tinggi, utang negara menumpuk,  tetapi mereka sulit menerima ketidakjujuran pemimpin. Di saat itulah  sebuah bangsa mulai goyah dari dalam. 4. Ketika kriminalisasi terhadap Roy, Rismon, dan saya sendiri tidak dihentikan, rakyat membaca situasi ini bukan sebagai penegakan hukum, melainkan sebagai upaya membungkam pertanyaan. Dan manusia, sejak awal sejarahnya, tidak pernah menerima dengan tenang ketika mulutnya ditutup dan pikirannya dibatasi. Setiap penekanan justru melahirkan tekanan balik. Setiap pembungkaman menghasilkan gema yang lebih keras. Itu sebabnya saya sering mengatakan: kebenaran tidak pernah bisa dibungkam, karena ia tidak hidup di mulut seseorang. Ia hidup di kepala jutaan orang. Dan saat satu orang dibungkam, sembilan orang baru akan membuka mata. 5. Sejarah bangsa ini tidak bergerak secara lurus; ia selalu bergerak seperti gelombang. Ada masa ketika kita diuji oleh pengkhianatan ideologi, masa lain oleh pengkhianatan ekonomi. Kini kita berada pada masa ketika bangsa ini sedang diuji oleh pengkhianatan kejujuran. Bukan tuduhan, bukan asumsi, tetapi kegelisahan kolektif yang muncul dari inkonsistensi, ketidakjelasan, dan cara negara merespons rakyatnya sendiri. 6. Dalam membaca situasi, saya selalu menggunakan tiga lensa: data, teori, dan sejarah. Dari sisi data, kronologi yang tidak konsisten, pernyataan yang berubah-ubah, serta berbagai kontradiksi dari berbagai pernyataan,  menimbulkan tanda tanya yang wajar dalam sebuah masyarakat demokratis. Dari sisi teori, setiap kali negara diam ketika ditanya, itu artinya ada sesuatu yang tidak ingin disentuh, entah karena jawabannya berbahaya atau karena efek domino yang mungkin terjadi tidak bisa dikendalikan. Dan dari sisi sejarah, kita tahu: sebuah peradaban tidak pernah runtuh oleh musuh dari luar. Ia selalu runtuh oleh kebohongan yang dibiarkan terlalu lama di dalam. 7. Oleh karena itu saya selalu mengatakan: jika negara ingin selamat, hentikan kriminalisasi. Jika bangsa ingin tenang, ungkaplah kebenaran. Jika ingin mencegah kerusuhan, pulihkan keadilan. Karena sejatinya rakyat tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin tahu bahwa negara yang mereka bayar pajaknya, yang mereka pelihara tanahnya, yang mereka bela setiap waktunya, tidak dibangun di atas fondasi dusta. ----- Semua ini adalah renungan yang muncul dari ruang batin saya yang paling dalam, ruang yang selalu berusaha membaca fenomena bukan hanya sebagai fakta-fakta yang berserakan, tetapi sebagai pola besar yang sedang membentuk masa depan bangsa. Kita sedang berdiri di tepian sejarah. Jika kita memilih kebenaran, maka kita akan melangkah memasuki zaman baru dengan kepala tegak. Tetapi jika kita terus membiarkan kebohongan, maka sejarah sendiri yang akan menghukum kita. Salam takzim dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
185
980
3.2K
34.7K
| A K |
| A K |@__AnakKolong·
GENG SOLO | Ketika 'IMIP Private Airport, di mana sy lebih memilih sebutan "Republik IMIP", yg diresmikan Drs. Ir. Joko 'Whoosh Widodo • Presiden RI ke - 7, bisa sedemikian merdeka beroperasi, rakyat "ketjil" seperti saya hanya bisa bertanya, apakah Kapolri & Panglima TNI benar² tidak tahu ? Sebab, probabilitasnya jadi berlapis ; 1. benar² tidak tahu; 2. tahu, tapi tak berdaya; 3. tahu, tapi tersandera; 4. tahu, tapi memilih bungkam; 5. tahu, tapi pura - pura tidak tahu; 6. terjebak di zona abu - abu kebijakan; 7. menikmati zona abu - abu itu; 8. DUNGU. . . ___________ Nasionalisme ? Patriotisme ? Profesionalisme ? Integritas ? Reformasi ? INDONESIA EMAS 2045 ?! Seperti Vladimir dan Estragon yg menunggu GODOT, yg tak pernah datang. . . | @sjafriesjams @JimlyAs @Kemhan_RI
| A K | tweet media
Indonesia
72
177
457
10.1K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Ya Allah, tunjukkan padaku yang benar sebagai kebenaran, dan karuniakan aku kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan padaku yang salah sebagai kesalahan, dan karuniakan aku kekuatan untuk menjauhinya. (QS 2:286)
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
444
845
4.2K
67.1K
| A K |
| A K |@__AnakKolong·
Yang pasti bukan tamatan SMP • spek tamatan SD Filial • "masuk siang pulang jelang magrib", lalu "bimbel" di Oz & "rehab" di Singapura, tiba² sarjana. Pun, yang pasti gelar akademik dan ijazahnya ; - A S L I - tak dicetak di pojokan Pasar Pramuka, dilegalisir di Gadjah Mada. Sehingga tak perlu bolak - balik reuni, atau tiba² muncul di panggung sinetron Dies Natalis di kampus @UGMYogyakarta, yg disutradarai Pratikno & Ova Emilia, hanya utk meyakinkan publik bahwa ijazahnya tak palsu. . . 😁 ________ Selamat Mas Uceng | @zainalamochtar . . #FufufafaAibNasional
| A K | tweet media
Indonesia
52
230
755
15.6K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Kemana tahi lalatnya? KEMANA TAHI LALATNYAA?
Dokter Tifa tweet mediaDokter Tifa tweet media
Indonesia
662
658
2.2K
93.2K