
lia🧧
120 posts





Selamat Malam, Manda Maafkan aku. Saat sedang menggunakan toilet, telfon genggamku jatuh. Megumi tidak mau membantu mengambilkan. “Itu kotor” ucapnya. Maka aku flush toiletku supaya sedikit kadarnya lebih bersih. Namun telfon genggamku malah hanyut. Aku panik dan segera membeli telfon genggam baru. Tak ku sangka seluruh akses perbankanku terblokir. Transaksi tersebut gagal. Otosan pelakunya. Ia memaksa menjodohkanku dengan seorang gadis dari perusahaan konglomerat lain. Aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Maka aku pergi. Meninggalkan rumah dan pekerjaanku. Aku lakukan semua ini karena aku memilihmu, Manda. Aku tidak terima ruh dan jiwaku dihisap oleh kuku-kuku cengkraman Otosan. Megumi tidak bisa membantuku karena Otosan melarangnya. Kemarin aku ingin menemuimu untuk menjelaskan hilangnya telfon genggamku. Sudah ku jual jam tanganku. Aku beli tiket, dan langsung terbang menuju rumahmu. Hanya bermodal pakaian yang aku gunakan dan paspor yang selalu aku simpan dan persiapkan manakala sesekali kamu merajuk, agar mudah untukku segera menemuimu. Setibanya di kotamu, rumahmu kosong. Sudah 1000 toko aku datangi dan 1000 jiwa aku tanyakan. Aku tidak menemukan jejakmu sama sekali. Informasi terakhir kudapatkan. dari seekor kucing Yokai depan tokomu @trakteerID , ujarnya kamu pergi ke Tokyo. Mengetahui kabar ini akhirnya aku kembali pulang untuk menyusulmu. Jepang sangat dingin di bulan ini. Aku sangat khawatir tangan lembutmu beku. Di Tokyo, Tori @torch_indonesia yang membantuku untuk membeli telfon genggam baru ini agar aku bisa segera aktif dan membalas pesanmu. Dia adalah sepupuku. Dia punya ide ceroboh untuk memastikan bahwa ke-tidak-percayadiri-anku hanya maya di kepala, dan bukan fakta. Maaf jika sikapnya kepadamu berlebihan. Ia sangat ingin adanya kejelasan denganmu. Tapi ia kesal kala aku berkata aku tidak percaya diri dan memang ini maumu juga bukan? Untuk selalu berada di ruang tanpa makna. Semoga dengan seluruh lapangnya hatimu kau mau memaafkanku, Manda. Kamu sekarang di mana? Aku merasa tidak pantas mengatakan ini, tapi izinkanlah aku menjemputmu. Kan ku temani dirimu untuk menebus waktu selama seminggu yang lalu. Lalu kan ku antarkan kau pulang sampai ke depan pintu kamarmu.








