JuanJimmy
3.3K posts


@FatMandysBack @ryankatzrosene What to miss? Well to be fair, i havent really tasted them
English

@ryankatzrosene Sir, a life without tacos and tequila is not a life worth living
English

D is the right answer: Not only does it include Butter chicken, Pad Thai, Dim Sum, Pho, Ramen noodles, and Korean BBQ, it also includes Kebab, Baclava, Shawarma and Falafel… AND… if you zoom in, a little bit of Sicilian pasta, pizza, Greek salad and Moussaka. Seal the deal with a nice New Zealand rack of lamb, a glass of Shiraz and Pavlova for dessert.
Amy Eileen Hamm@preta_6
This is an impossible choice 😭
English

@JPOPmenfess youtu.be/bygiadayxnY?si…
Co Shu Nie layak masuk sini karena dia udah buat label sendiri yaitu RVRNC.

YouTube
Indonesia
JuanJimmy retweetledi
JuanJimmy retweetledi

"idola lu kok ga nunjukin muka? Jelek ya mukanya" YG GUE DENGERIN ITU SUARANYA!!! MUSIKNYA!!! THEYRE A SINGER!!!!
Kecakepannya poin plus
inta•🦈 ᶜᵉᵏ ʰᵉᵃᵈᵉʳ ˢᵉᵇᵉˡᵘᵐ ᶠᵒˡˡᵒʷ@litxolitz
Jujur ya guys, imo, suka idol karena musiknya tuh lebih seru. karena kalo udah jatuh cinta jalur karya percaya deh lu pasti bakal stay lama di fandom itu. Dan idol adalah seorang musisi btw. Jadi, lumayan rugi rasanya kalo yang diincer visual doang #prinsip #rispek
Indonesia
JuanJimmy retweetledi

Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang.
Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri.
"Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?"
Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah.
Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya.
Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal.
Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah.
Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori.
Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi.
Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan.
Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan.
Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar.
Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan.
Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop.
Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel.
Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti.
Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu.
Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira.
Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa.
Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya.
Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja.
Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana.
Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf.
Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan.
Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti?
Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib.
Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.

Indonesia

@muncorner Serem, tapi itu makanya kita belajar kan? Semangat nder, percaya sama persiapanmu, dan jangan lupa berdoa 🙏
Indonesia
JuanJimmy retweetledi

jpop pas lagi perform :
nyanyi geter ✅
salah lirik ✅
tiba-tiba keselek ✅
tiba-tiba teriak ✅
ganti nada suka-suka ✅
sambil ketawa/bercanda ✅
kita yg nonton kek yaudah chill aja 😭
チーズ🇵🇸 1312 // @Phoenix🇸🇬@murahokuchan
Jangankan nyanyi geter,,,salah lirik pun sering klo jpop 😭
Indonesia
JuanJimmy retweetledi

NEW: MMA trainer chokes out Russian tourist in a headlock who was allegedly touching local girls inappropriately.
Belda Brig Sando, who is a Balinese Fighter and gym owner, is seen putting a Russian tourist in a headlock and choking him until he passes out.
Sando claims the man was drunk, touching people, walking in the middle of the road, and even slapping people on the head.
Sando said on his Instagram post of the video, “I’m tired of seeing some foreigners come here and act without respect.”
📹belda_brig_sando | IG
English
JuanJimmy retweetledi

Di Indonesia, banyak yang nganggep kerja remote itu identik sama freelance.
Padahal… banyak banget yang full-time, digaji bulanan, bahkan standar global.
Masalahnya bukan skill aslii.
Orang Indonesia itu asli ga kalah sama Singapore, Malaysia, India, atau Philippines.
Secara capability, kita bisa bgt compete.
Sayangnya, alesan yang dapet kerja remote masih sedikit di 🇮🇩 dibanding negara berkembang lainnya:
1.Karena belum jadi “normal” di Indo
Di luar, pdhl sama2 negara berkembang, misal phillipines, kerja remote itu udah common.
Di sini, masih dianggap alternatif, bukan career path yang diincer banget. Ngertinya ya PNS, dll.
2.Exposurenya masih rendah banget.
Apalagi di luar kota besar, banyak yang bahkan belum tau opsi ini ada.
3.Bahasa Inggris jadi bottleneck
Padahalll asli gak harus fluent, tapi cukup buat interview & komunikasi kerja sehari2 aj cukuppp. Lama2 lo jg bakalan lancar asli pas kerja nanti.
Dan ini yang banyak orang males latihan, pdhl tinggal bikin script interview bahasa inggris, hafalin deh. .
Padahal opportunity-nya ada dan skill kita alias orang indo jago jago banget woi.
Cuman kalah berani dan yang pada apply kerja remote sedikit dibanding sebelah. 😅
adityapram@adityapramoudya
Unpopular opinion tentang kerja remote.
Indonesia
JuanJimmy retweetledi

seharusnya hari kamis itu cuti bersama. jadi tri hari suci bisa fokus ke gereja
natal ada cuti bersama, paskah kagak
Protestan Garis Lucu@Protestan_GL
Unpopular opinion about Christianity (?) I'll go first: "Kitab Kisah Para Rasul, bagian dari Injil." -- FS
Indonesia

@embolicagent Sy kekx lebih mau nanya ke jobdesc dan requirement sih sblmnya gaji, siapa tau nd cocok disitunya kan
Indonesia
JuanJimmy retweetledi










