Keysha 🌻 retweetledi
Keysha 🌻
3.3K posts

Keysha 🌻
@keysha_zaa
☀️🥃| homophobic dni | kadang hidup kdg egk 🫶
Katılım Ekim 2022
360 Takip Edilen196 Takipçiler

@Han_secretside KAU YANG KE DOKTER CEPAT
MANA ADA CANON NAMA ANAKNYA ARJILAT
JELEK BGT ANZINK 😭
Indonesia
Keysha 🌻 retweetledi
Keysha 🌻 retweetledi

Hadiah ini untuk @Sadewa_Sagara
Thank you, bro, for always accompanying my days with your live Guerilla, bro, even though sometimes you like to surprise me, but I pray that you will always be healthy, thank you, my yellow brother.

English
Keysha 🌻 retweetledi

Kalau candaan yang merendahkan perempuan masih dianggap lucu, jangan heran kalau kekerasan seksual akan terus terjadi.
Ya, yang aku maksud adalah SS grup chat yang diklaim beranggotakan mahasiswa FHUI.
(Catatan: Tulisan ini cukup panjang. Untuk yang ingin mendalami topiknya, aku menyertakan beberapa referensiku menulis artikel ini di akhir.)
Isi SS tersebut bukan sekadar obrolan “nakal” atau humor gelap yang kelewat batas.
Isinya adalah penghinaan terhadap perempuan yang dibungkus jadi lelucon, komentar soal tubuh, candaan tentang alat vital, sampai plesetan “asas perkosa.”
Yang paling meresahkan adalah betapa santai dan entengnya semua itu diucapkan, seolah tidak ada yang salah.
Begitulah cara kerja rape culture yang munculnya di tengah tawa, di tengah canda, dan di tengah kalimat santai, “Yaelah, gitu doang baper.”
Masalahnya bukan hanya pada pembicaraan kotor di grup tertutup. Masalahnya adalah, ada budaya yang membuat mereka merasa aman untuk ngomong seperti itu.
Budaya yang menganggap penghinaan terhadap perempuan sebagai hiburan, objektifikasi sebagai keakraban, dan candaan tentang kekerasan seksual sebagai sesuatu yang masih bisa ditoleransi.
Setiap kali obrolan semacam ini dikritik, responsnya hampir selalu sama: “Itu kan cuma bercanda.” Padahal, bahasa yang terus diulang akan membentuk cara pandang.
Lelucon yang terus ditertawakan akan membentuk batas moral baru. Sesuatu yang awalnya terasa salah, lama-lama terasa biasa.
Sesuatu yang awalnya bikin tidak nyaman, lama-lama dianggap terlalu remeh untuk dipersoalkan.
Intinya, masalahnya bukan soal selera humor. Masalahnya adalah normalisasi.
Grup chat seperti ini adalah bentuk digital dari "locker room talk": obrolan sesama laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai objek, sebagai bahan tertawaan, sebagai alat untuk membangun keakraban antar laki-laki.
Dalam banyak kasus, obrolan seperti ini bukan cuma soal isi, tapi juga soal fungsi sosialnya. Ada laki-laki yang memakai bahasa merendahkan perempuan untuk dianggap lucu, diterima di kelompok, atau terlihat “selevel” dengan teman-temannya.
Perempuan dijadikan alat bonding. Penghinaan dijadikan perekat pertemanan. Di situlah bahayanya.
Karena, kalau keakraban dibangun dengan cara merendahkan perempuan, maka yang sedang dipelihara bukan cuma humor yang buruk, tapi juga pola pikir yang rusak.
Perempuan tidak lagi hadir sebagai manusia utuh yang punya kehendak, batas, dan martabat, melainkan sebagai tubuh, objek, bahan komentar, bahan fantasi, bahan lucu-lucuan.
Bahasa seperti ini tidak netral. Ia melatih cara pandang. Ia mendidik orang untuk terbiasa melihat perempuan tanpa empati.
Salah satu bagian paling mengerikan dari semua SS itu adalah saat konsep consent yang dijadikan bahan candaan.
Kalimat seperti “diam berarti dikabulkan” atau “diam berarti consent” mungkin terdengar seperti permainan kata bagi mereka yang mengetik dan menertawakannya.
Tapi justru itu masalahnya. Consent diperlakukan seolah konsep yang lucu, absurd, atau terlalu dilebih-lebihkan untuk dianggap serius.
Padahal consent adalah batas dasar dalam relasi antarmanusia. Consent bukan sesuatu yang bisa diasumsikan. Bukan sesuatu yang bisa dipelesetkan seenaknya. Dan jelas, diam bukan persetujuan.
Ketika consent dijadikan lelucon, yang sebenarnya sedang terjadi adalah pengaburan batas.
Orang dilatih untuk menganggap bahwa persetujuan itu abu-abu, bahwa ketidaknyamanan bisa diabaikan, bahwa batas tubuh orang lain masih bisa dinegosiasikan lewat tekanan, situasi, atau tafsir sepihak.
Kasus seperti ini sering tumbuh subur di kampus. Bukan karena kampus itu penuh orang jahat, tapi karena kampus adalah ruang sosial yang sangat kuat membentuk norma.
Di sana ada grup pertemanan yang homogen, ruang obrolan yang eksklusif, tekanan untuk terlihat nyambung, dan ketakutan untuk jadi orang yang “terlalu serius” atau “nggak asik.”
Dalam atmosfer seperti itu, banyak orang memilih ikut tertawa daripada dianggap merusak suasana. Banyak orang tahu itu salah, tapi tetap diam karena tidak mau jadi yang berbeda.
Padahal, justru di situlah masalahnya membesar.
Rape culture tidak bertahan hanya karena ada yang membuat lelucon, tapi juga karena ada terlalu banyak orang yang membiarkannya lewat.
Diam memang sering dibungkus sebagai netralitas, padahal dalam konteks seperti ini, pelaku mengartikan diam sebagai izin.
Ketika tidak ada yang menegur, obrolan itu terasa aman. Ketika semua orang tertawa, kekerasan jadi terdengar ringan. Ketika tidak ada konsekuensi sosial, pelanggaran moral lama-lama terasa wajar.
Jadi ini bukan cuma soal “siapa yang ngomong.” Ini juga soal siapa yang membiarkan.
Yang sering luput adalah: banyak orang merasa mereka jelas menentang pemerkosaan atau kekerasan seksual, sehingga menganggap candaan seperti ini tidak ada hubungannya dengan mereka.
Padahal, justru sangat berbahaya jika orang yang menolak kekerasan seksual malah ikut menertawakan bahasa yang menormalisasi tindakan itu.
Orang bilang mendukung perempuan, tapi tetap diam saat perempuan direndahkan dalam obrolan sehari-hari.
Kita terlalu sering membayangkan kekerasan seksual sebagai sesuatu yang jauh, gelap, ekstrem, dan dilakukan oleh “monster”.
Padahal budaya yang menopangnya dibentuk di ruang-ruang yang terasa sangat biasa: tongkrongan, kelas, circle pertemanan, grup chat.
Dibentuk oleh tawa, pembiaran, dan kalimat-kalimat yang dianggap receh.
Itulah kenapa persoalannya tidak selesai hanya dengan bilang, “Ya itu mah bercanda doang.” Justru kalimat itu adalah bagian dari masalah.
Karena selama kita terus menyebut penghinaan sebagai humor, objektifikasi sebagai kelakar, dan candaan pemerkosaan sebagai sesuatu yang masih bisa dimaklumi, kita sedang ikut merawat budaya yang membuat kekerasan seksual lebih mudah dinormalisasi.
Mungkin tidak semua orang di grup seperti itu akan menjadi pelaku kekerasan. Tapi kalau mereka terus-menerus dilatih untuk melihat perempuan sebagai objek dan consent sebagai bahan tertawaan, itu tetap berbahaya.
Karena budaya tidak dibentuk dalam satu malam. Ia dibentuk dari kebiasaan, pengulangan, dan hal-hal yang dibiarkan.
Rape culture dimulai dari kalimat yang dianggap lucu, teman yang tidak ditegur, grup chat yang isinya “becanda doang.”
Dari orang-orang yang tahu itu salah, tapi memilih diam karena takut suasana jadi nggak enak.
Dan kalau semua itu bisa menjadi awal, maka penghentiannya juga harus dimulai dari sana.
Dari mulai berani bilang, “Ini nggak lucu,” menolak ikut nimbrung saat perempuan dijadikan objek, dan keberanian untuk bikin suasana jadi canggung atau bahkan keluar dari circle.
Daftar Pustaka:
University of New Hampshire SHARPP Center: "Rape Culture"
Penjelasan mendasar tentang apa itu budaya pemerkosaan dan bagaimana ia hidup di masyarakat kita.
EBSCO Research Starters: "Rape Culture"
Pengantar komprehensif tentang sejarah dan dampak normalisasi kekerasan seksual.
Everyday Feminism: "10+ Examples of Everyday Language That Supports Rape Culture"
Artikel yang membongkar frasa-frasa "receh" sehari-hari yang ternyata melanggengkan kekerasan.
Culture, Health & Sexuality (2019): "Locker room talk: male bonding and sexual degradation in drinking stories"
Jurnal yang membedah bagaimana laki-laki menggunakan pelecehan verbal terhadap perempuan sekadar untuk diakui oleh teman-teman tongkrongannya.
Coastal Carolina University Honors Thesis (2019): "Grab 'em by the Pussy: How Hegemonic Masculinity Encourages Locker Room Talk and Sexual Violence"
Membahas tuntutan "tampil jantan" (hegemonic masculinity) yang justru mendorong laki-laki mewajarkan kekerasan seksual.
Indonesia
Keysha 🌻 retweetledi
Keysha 🌻 retweetledi
Keysha 🌻 retweetledi

Keysha 🌻 retweetledi

MAKER APPRECIATION POST SOALNYAAA AKU SUKA BGT SAMA HASIL JADI SUMPING DAN ARMBAND SADEWA NYAA🥹🥹 you guys should check zuhal . Art on shopee because look at the details.. 🩷🩷 the maker is so kind and VERY responsive to my request! Thankyou!🥹 id.shp.ee/rFXzbZur


English
Keysha 🌻 retweetledi
Keysha 🌻 retweetledi

#beercandle gw ngeditnya sambil cekikikan parahhhh nemu aja lagi vt nya si🕯yang soal suami brewokan 😭🤏
Indonesia
Keysha 🌻 retweetledi
Keysha 🌻 retweetledi
Keysha 🌻 retweetledi

꧁༺ 𝐖𝐞𝐞𝐤𝐥𝐲 𝐒𝐜𝐡𝐞𝐝𝐮𝐥𝐞 ༻꧂
:: 13 April - 19 April 2026 ::
█▓▒░ 𝐇𝐚𝐬𝐡𝐭𝐚𝐠𝐬 ░▒▓█
⚔️ General: #PANDAVVA
🎨 Art: #MEVVARNAI
😂 Meme: #KETAVVA
🖊️ AU/Fanfic: #PANDAVVRITES
🎥 Clips: #PANDAVVACLIP
🥳 JUMAVVA: #JUMAVVA

English
Keysha 🌻 retweetledi
Keysha 🌻 retweetledi


























