fillainart@fillainart
Ghost in The Cell (2026) yang disutradarai oleh Joko Anwar barangkali memang sengaja memborbardir penonton dengan tumpukan kritik sosialnya lewat rentetan dialog. Namun, di tengah upaya tersebut, ada satu celah yang justru membuat film ini terperosok ke dalam jurang ambivalensi, yaitu representasi queer.
(spoiler alert!)
Film ini menghadirkan dua karakter queer yang berdiri di kutub yang sepenuhnya berseberangan, yakni Tokek (Aming) dan Novilham (Magistus Miftah).
Tokek digambarkan sebagai algojo kejam dari geng Rendra (Ho Yuhang) yang tak segan menyiksa hingga menghabisi nyawa siapapun atas perintah sang bos. Kehadiran Dimas (Endy Arfian) sebagai tahanan baru menarik perhatian Tokek. Ia memanggil Dimas dengan sebutan “cantik”, dan secara gamblang divisualisasikan ia melakukan serangkaian kekerasan seksual terhadap Dimas.
Di sisi lain, Novilham memikul peran sebagai pencair suasana (comic relief) sekaligus sebagai sosok seniman. Eksistensinya seolah didesain murni untuk meredakan ketegangan, memancing gelak tawa penonton lewat gestur gemulai dan tarian femininnya.
Dua potret ambivalen ini adalah cerminan dari bagaimana masyarakat Indonesia mengkonstruksi keberadaan kelompok queer.
Karakter Tokek mewakili lensa yang memandang individu queer sebagai sebuah ancaman. Sebuah perspektif yang merupakan proyeksi dari alam bawah sadar (unconscious mind) laki-laki hetero yang menyiratkan bahwa mereka juga predator yang memosisikan perempuan sebagai mangsanya.
Perspektif yang sama digambarkan dalam adegan KS yang dialami Dimas waktu adegan mandi. KS yang harusnya traumatik, direduksi menjadi sebuah lelucon, terutama bila yang mengalami laki-laki.
Sementara itu, karakter Novilham menggambarkan eksistensi queer di Indonesia yang cenderung lebih “ditoleransi” asalkan mereka mengambil peran sebagai seniman dan atau komedian. Ada semacam pemakluman bersyarat dari masyarakat untuk profesi ini.
Kedua karakter ini sangat kontras efeknya pada penonton ketika muncul di layar. Kemunculan Tokek menebar teror dan ketakutan, sedangkan gerak-gerik Novilham senantiasa disambut dengan gelak tawa.
Bagian yang ironis dari film ini adalah konklusinya. Terlepas dari perbedaan peran yang mencolok antara sang predator dan sang komedian, kedua karakter queer ini pada akhirnya berujung pada nasib yang persis sama.
Ini seolah menegaskan bahwa apapun wujud representasinya, individu dengan identitas queer di dalam narasi arus utama tidak akan pernah mendapatkan cerita happy ending.
Namun, tentu saja film ini “berbaik hati” memberikan mereka ruang di kredit akhir, membiarkan mereka menari bersama seluruh jajaran cast dan crew sebagai bentuk apresisasi semu. Diberi panggung untuk merayakan di luar cerita, asalkan nasib mereka tetap dihabisi di dalam teks naratifnya.