َ
4.8K posts

َ retweetledi
َ retweetledi
َ retweetledi
َ retweetledi

here’s your daily click reminder: arab.org
Call for Ceasefire: ceasefiretoday.com
decolonizepalestine: decolonizepalestine.com
Donate Esims: gazaesims.com
Care for Gaza: gofundme.com/f/careforgaza
Hygiene Kits for Women: piousprojects.org/campaign/2712
English

I wish for a free Palestine within my lifetime and that zionism crumbles and fades into distant history.
Pop Base@PopBase
Today marks the 78th anniversary of the Nakba (catastrophe), during which more than 750,000 Palestinians were expelled and over 400 villages were destroyed to establish the State of Israel.
English
َ retweetledi

Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian economist.com/briefing/2026/…
English
َ retweetledi

Saya rangkum poin-poin penting dari tulisan @TheEconomist terkait Indonesia terbaru. Silakan renungkan sendiri:
The Economist menilai pemerintahan Prabowo Subianto terlalu boros secara fiskal dan makin otoriter secara politik.
Program makan gratis dan koperasi desa dianggap membebani anggaran di tengah penerimaan pajak melemah dan subsidi energi membengkak.
Defisit mendekati batas 3% PDB, dengan risiko penurunan rating utang, pelemahan rupiah, dan keluarnya modal asing.
Pencopotan Sri Mulyani Indrawati disebut sebagai tanda melemahnya disiplin fiskal.
Kekuasaan politik dan ekonomi dinilai makin tersentralisasi melalui Danantara, BUMN, dan pelemahan independensi Bank Indonesia.
Artikel juga menyoroti menguatnya peran militer dan melemahnya oposisi parlemen, memunculkan kekhawatiran kembalinya pola Orde Baru. The Economist menyebut gaya sentralisasi dan kontrol elite Prabowo lebih mirip Sukarno, tetapi kekhawatiran publik terhadap militerisme mengingatkan pada era Soeharto.
Meski begitu, The Economist mencatat Prabowo belum sepenuhnya represif dan masih menunjukkan beberapa sikap moderat.
Kesimpulan utamanya: Indonesia dinilai sedang bergerak menjauh dari semangat Reformasi, dengan risiko ekonomi dan demokrasi yang sama-sama meningkat.
Ahmad Arif@aik_arif
Kalau yang nulis orang Indonesia bakal dicap antek asing nih. Nah, sekarang yang nulis dari luar beneran. Artinya, mata dunia semakin terbuka tentang situasi di Indonesia. Dan ini bukan hanya media Barat, sebelumnya Kamar Dagang China juga komplain ttg situasi Indonesia. Apa masih akan menggunakan narasi antiasing untuk delegitimasi kritik dan masukan? Khawatir rupiah bakal terus nyungsep.
Indonesia

















