J.

18.8K posts

J. banner
J.

J.

@kwonjicoo

@Stray_Kids my mood booster || 🐺🐰

Katılım Ekim 2022
382 Takip Edilen301 Takipçiler
J. retweetledi
Kapten Haddock
Kapten Haddock@SeekHustle·
Jahat banget cok!! 😠 Kalau semua yg diomongin nadiem ini bener, dahlah hopeless banget sama penegak hukum di negara kita capt. Antara inkompeten atau emang ada niat jahat. Kenapa gue bilang gitu? Coba lo tonton video ini sampe kelar. Lo bakal merasa apa yg disampaikan nadiem itu semua logis dan seluruh tuntutan jaksa jadi ga berdasar. Lo inget ga suami dewi Sandra, Harvey Moeis? Berapa potensi kerugian negaranya? Berapa tahun dia dituntut jaksa? Berapa banyak denda yg harus dia bayar?? Jauh banget dari tuntutan ini capt! At least, Gue gatau nadiem ini kesalahannya seberapa besar, tapi dengan tuntutan setidak masuk akal itu gue rasa ini sangat ga adil. Semoga ada keadilan di negeri tercinta kita ini.
Kapten Haddock@SeekHustle

Kalian ada yg paham kasus chromebook ini ga capt? Kalau paham tolong enlighten me dong. Gue masih pelajari apa yg terjadi dengan kasus chromebook ini. Cuma, tuntutan 18th penjara dan denda+ganti rugi hampir 5T menurut gue sangat2 berlebihan. Dari kasus ini, semoga kalian paham ya. Kalau kalian bukan siapa2, ga punya dekengan politik, better jangan deket2 dgn proyek pemerintah. Banyak calon nadiem2 yg baru dari proyek yg jelas2 korup. So, stay aware guys!

Indonesia
641
11.4K
28.2K
1.5M
J. retweetledi
elzgatza
elzgatza@liogtttscrp·
GUYS HELP BANTU VIRALINN!!!
kakak ini kena kekerasan fisik sama cowok bajingan yang ngerasa tangan lebih hebat dari otak. muka perempuan dijadiin samsak buat ego dia. tolong ramein, biar pelaku ga hidup tenang seolah ga ada yang terjadi!!!!
elzgatza tweet media
Indonesia
183
4.9K
11.6K
472.4K
J. retweetledi
Sumatera Adil & Federal
Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera·
TIDAK ADA TV NASIONAL TIDAK ADA PEJABAT NEGARA YANG HADIR. Sebagai bukti negara tidak peduli ketika yang jadi korban rakyat Sumatera, Cahaya keadilan telah mati Turut berduka atas musibah besar ini yang menewaskan 16 jiwa 💔😭
Indonesia
242
14.2K
34.4K
625K
J. retweetledi
한-灿😼🥊 || PO TEAMCHENLE JACKET📌
Tutorial mempermudah pengisian data saat ticketing ANTI TYPO KARENA GEMETARRR, tanpa aplikasi tambahan😆😆 Khusus pengguna IPhone..
Indonesia
44
726
7K
659.5K
J.
J.@kwonjicoo·
@eepynuts Kak aku ada tiket detox box harga web aja, bisa cod full di venue
Indonesia
0
0
0
148
Adri
Adri@eepynuts·
wtb tiket oor one ok rock detox jakarta
Indonesia
17
0
1
1.6K
J. retweetledi
kale
kale@kalistohenituse·
BJ Habibie Butuh 35 Menteri buat bikin rupiah dari 16.800 ke 6.550. Sedangkan Prabowo butuh 48 Menteri, 5 Pejabat Sekelas Menteri, 56 Wakil Menteri untuk membuat rupiah dari 16.000 ke 17.400
folkative@insidefolkative

Dolar AS tembus 17.404

Indonesia
450
23.1K
55.1K
941.5K
J. retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, sebelum semua drama trantrum AD pasca menikahnnya El Rumi dan Syifa Hadju meledak ke publik ada satu podcast yang menurut gue sangat penting untuk dipahami konteksnya. Maia Estianty duduk dan bicara jujur tentang hidupnya. Dan kalimat yang dia pilih sebagai judul episode itu bukan kebetulan: Semakin diserang mantan, gue semakin diratukan suami. Siapa Maia Estianty untuk yang perlu konteks: Maia adalah salah satu musisi perempuan paling berpengaruh di Indonesia. Mantan istri Ahmad Dhani salah satu hubungan yang paling banyak dibicarakan dan paling dramatis dalam sejarah industri musik Indonesia. Dari pernikahan itu lahir tiga anak: Al, El, dan Dul. Setelah perceraian yang penuh sorotan Maia menikah lagi dengan Irwan Mussry. Dan itulah yang menjadi latar belakang dari kalimat yang dia ucapkan di podcast itu. Yang paling jarang dibicarakan orang hubungan Maia dengan Al, El, dan Dul setelah cerai: Ini bagian yang menurut gue paling penting dan paling sering terlewat di antara semua drama yang mengelilingi keluarga ini. Maia mengakui sendiri di podcast ini dengan sangat jujur dan ini butuh keberanian untuk diucapkan seorang ibu di depan publik: Kalau melihat masa lalu yang paling gue sedihin adalah ketika lihat video anak-anak masa kecil. Gue ngerasa bahwa gue enggak full ada di situ. Golden moment-nya enggak ada. Dia cerai dari Dhani ketika Al berumur 9 tahun, El 8 tahun, dan Dul baru 6 tahun. Setelah perceraian pertemuan dengan anak-anaknya sangat terbatas. Kadang hanya sekali setahun. Bahkan ada periode di mana intensitasnya sangat rendah. Yang membuat situasi ini semakin kompleks: anak-anak tinggal bersama Dhani artinya Maia kehilangan akses ke momen-momen tumbuh kembang yang tidak bisa diulang. Ulang tahun. Hari pertama sekolah. Pertandingan. Momen-momen kecil yang justru membentuk ingatan seumur hidup. Titik balik yang mengubah semuanya dan ini kisah yang jarang diceritakan: Maia menyebutkan satu peristiwa yang mengubah dinamika hubungannya dengan anak-anaknya: kecelakaan yang dialami Dul pada usia 13 tahun. Ketika Dul kecelakaan Maia masuk kembali dengan intensitas penuh ke kehidupan anak-anaknya. Dan dari situlah semuanya mulai berubah. Setelah itu anak-anak kemudian pindah ke rumah Maia. Kebersamaan yang selama bertahun-tahun hanya bisa dia impikan akhirnya terjadi. Cara Maia bertahan di tahun-tahun paling gelap — dan ini yang paling mengejutkan: Selama tahun-tahun ketika dia tidak bisa dekat dengan anak-anaknya sendiri Maia melakukan sesuatu yang menurut gue sangat reveal tentang karakternya. Dia membiayai banyak anak yatim piatu. Membangun pesantren. Merawat anak-anak yang bukan anak kandungnya. Logika yang dia pakai untuk bertahan secara mental adalah sesuatu yang sangat profound: Sama aja antara membesarkan anak yang titipan Tuhan dan membesarkan anak-anak yatim yang juga punya Tuhan. Karena aku belum bisa ngebesarin anak-anak tiga ini, aku ngebesarin yang lain-lain dulu. Dan aku yakin suatu saat anak-anak akan kembali. Dan mereka kembali. Hubungan Maia dan anak-anaknya sekarang dan ini yang paling heartwarming: Di podcast ini Maia bicara tentang hubungannya dengan Al, El, dan Dul dengan cara yang sangat berbeda dari narasi "ibu yang ditinggalkan" yang sering dibentuk media. Sekarang Al dan istrinya Alisa tinggal dekat dengan rumah Maia di Pejaten jarak yang bisa ditempuh dalam hitungan menit. Maia bilang hubungan mereka sudah sangat natural bukan lagi yang awkward atau penuh jarak. Yang menarik Maia juga sangat sadar dengan perannya sebagai mertua. Dia belajar dari pengalaman pernikahan Al untuk tidak membuat kesalahan yang sama di pernikahan El. Salah satu hal konkret yang dia siapkan untuk pernikahan El dan Syifa: memastikan baju keluarga seragam atau senada supaya tidak ada kesan pilih kasih yang terbaca publik dan menyakiti perasaan siapapun. "Kita penginnya supaya enggak terjadi banyak polemik. Kasihan ke anak-anak sendiri juga." Soal posisinya sebagai ibu setelah semua yang terjadi: Maia mengakui bahwa ada masa ketika dia sangat keras ke anak-anaknya terutama ketika mereka baru mulai mengenal dunia pergaulan. Dia pakai istilah "FBI" dia monitor, dia kasih tahu, dia arahkan. Sampai pernah ada momen di mana anak-anaknya pindah karena merasa terlalu dikekang. Tapi Maia bilang itu semua dia lakukan karena dia tahu dari pengalaman hidupnya sendiri apa yang bisa terjadi kalau seseorang tidak punya pegangan yang kuat di usia muda. "Bukan aku enggak mau mereka mengalami seperti yang aku alami." Dan yang membuat anak-anak akhirnya lebih nyaman bercerita ke Maia dibanding ke pihak lain justru karena Maia dikenal sebagai orang yang bisa menjaga cerita. Tidak bocor. Tidak reaktif berlebihan. Mendengarkan dulu. Soal Ahmad Dhani dan cara Maia bicara tentang dia: Maia tidak berbicara dengan kepahitan tentang Dhani. Tapi dia juga tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ketika ditanya tentang Dhani jawabannya singkat dan sangat revealing: Mata gua ke mana-mana. No komen deh sama orang ini. Tapi dalam konteks anak-anak Maia sangat jelas: Dhani tetap bapak dari Al, El, dan Dul. Dan sebagai bapak dia harus dihargai posisinya. Urusan hubungan mereka sebagai mantan suami istri itu urusan mereka. Urusan Dhani dengan anak-anak itu urusan berbeda yang tidak dicampuradukkan. Bahkan ada cerita kecil yang cukup revealing: ketika El menelepon dari Swiss setelah lamaran Maia yang pertama dia hubungi justru menegurnya karena dia belum telepon ayahnya duluan. "Gimana sih kamu? Harusnya telepon ayah dulu dong." Dari seorang mantan istri yang kata orang "berseteru" dengan mantannya itu adalah sikap yang menurut gue jauh lebih dewasa dari yang banyak orang bayangkan. Irwan Mussry dan mengapa hubungan ini berbeda: Maia tidak berbicara tentang Irwan dengan cara yang kliché. Yang dia ceritakan lebih spesifik: Irwan adalah seseorang yang tidak perlu dipengaruhi suara luar untuk menentukan bagaimana dia melihat istrinya. Di era di mana opini publik begitu mudah terbentuk kemampuan seseorang untuk memilah mana yang dia tahu sendiri dari mana yang hanya dia dengar dari orang lain adalah sesuatu yang sangat langka. Dan setiap kali serangan dari luar datang Irwan tidak bergeser. Justru semakin memperlihatkan posisinya. Itulah yang Maia maksud dengan "diratukan". Bukan dalam arti glamor. Tapi dalam arti yang paling fundamental: dia merasa aman. Dia merasa dipilih. Berulang kali. Bahkan di kondisi yang paling tidak mudah. Cerita Maia bukan cerita tentang perempuan yang hidupnya hancur lalu diselamatkan oleh pernikahan kedua. Itu terlalu simplistis. Cerita Maia adalah tentang seorang perempuan yang kehilangan banyak hal termasuk tahun-tahun bersama anak-anaknya yang tidak bisa dikembalikan yang kemudian belajar untuk melepas kepahitan, memilih kedamaian, dan menemukan kembali dirinya. Dan di ujung perjalanan itu dia tidak hanya menemukan suami yang tepat. Dia menemukan kembali anak-anaknya. Dan itu yang menurut gue jauh lebih berharga dari semua hal lain yang sering jadi headline.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
68
607
5K
434.1K
J. retweetledi
sasha tseng
sasha tseng@TsengSasha·
26.04.29 [SKZ VLOG] Lee Know: LEE KNOW LOG 12 (HD)Lee Know CUT. 13P 🩵😺🩵 #リノ #리노 #leeknow
sasha tseng tweet mediasasha tseng tweet mediasasha tseng tweet mediasasha tseng tweet media
English
2
1.2K
5.5K
44.7K
J. retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada kasus yang menurut gue perlu lo dengar karena ini bukan cuma soal satu anak di satu sekolah di Pemalang. Ini adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar. Seorang orang tua di Randudongkal, Kabupaten Pemalang sebut saja Bapak ini memposting sesuatu di media sosialnya. Isinya dua hal: kritik terhadap implementasi MBG dan pengingat bahwa sekolah negeri dilarang memungut biaya LKS dan infak berdasarkan aturan pemerintah yang sudah berlaku. Dia tidak menyebut nama sekolah anaknya. Tidak menyebut nama kepala sekolah. Tidak menyebut nama guru siapapun. Tapi anaknya Mas Azhim, siswa SD N 01 Banjarayar dikeluarkan dari sekolah. Yang terjadi secara kronologis: Bapak ini memposting kritik soal MBG dan pungutan liar di sekolah negeri di akun media sosialnya. Kepala sekolah memanggil dia. Dan setelah pertemuan itu anaknya diberhentikan secara sepihak. Tidak ada surat resmi pemberhentian yang prosedural. Tidak ada proses klarifikasi yang fair. Tidak ada mekanisme banding. Satu pertemuan dan anak itu tidak boleh masuk sekolah lagi. Dua bulan lebih Mas Azhim tidak mengikuti pelajaran. Dua bulan lebih seorang anak SD kehilangan haknya atas pendidikan bukan karena dia berbuat salah, tapi karena bapaknya berani bicara. Dan di atas itu semua Mas Azhim juga mengalami bullying. Bukti percakapan yang beredar dan ini yang paling mengejutkan: Ada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar. Pihak sekolah melalui salah satu guru membalas pesan si Bapak dengan kalimat yang menurut gue sangat mengungkapkan segalanya: Meskipun njenengan tidak menyebutkan identitas sekolah, tapi kan masyarakat tahu kalau Mas Azhim sekolah di SD N 01 Banjarayar, jadi menggiring opini publik ke SD kami. Berhenti sebentar di sini. Pihak sekolah sendiri yang mengakui bahwa yang jadi masalah bukan tindakan si Bapak secara hukum tapi dampak reputasi ke sekolah. Bukan soal anak yang melanggar aturan. Bukan soal proses belajar yang terganggu. Tapi soal opini publik yang mengarah ke SD mereka. Artinya anak ini dikeluarkan bukan karena dia salah. Tapi karena bapaknya membuat sekolah tidak nyaman di mata publik. Apa yang dilakukan si Bapak itu sebenarnya? Dia mengingatkan bahwa sekolah negeri tidak boleh memungut biaya LKS dan infak. Ini bukan opini. Ini fakta hukum. Permendikbud dan berbagai regulasi turunannya sudah jelas melarang pungutan di sekolah negeri yang sudah mendapat BOS Bantuan Operasional Sekolah. Sekolah negeri mendapat dana BOS dari APBN untuk membiayai operasional sekolah. Dana itu sudah termasuk untuk pengadaan buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar siswa. Memungut LKS tambahan di atas BOS adalah pelanggaran regulasi. Si Bapak tidak mengarang. Dia mengingatkan aturan yang memang ada. Dan untuk itu anaknya dikeluarkan. Soal kritik MBG yang dia sampaikan dan ini relevan dengan konteks yang lebih besar: Kita sudah bahas panjang lebar soal MBG dari Rp340 miliar yang menurut Mahfud MD hanya sampai ke makanan dari total triliunan yang dianggarkan, sampai 33.000 kasus keracunan, sampai 1.720 SPPG yang tutup tapi tetap dibayar Rp6 juta per hari. Orang tua yang kritis terhadap MBG bukan musuh program. Mereka adalah orang-orang yang paling langsung terdampak ketika program itu tidak berjalan dengan baik. Anak-anak merekalah yang makan makanan dari program itu. Anak-anak merekalah yang keracunan ketika standar sanitasinya tidak terpenuhi. Mengkritisi MBG bukan kejahatan. Mengkritisi sekolah yang memungut biaya ilegal bukan kejahatan. Tapi di Banjarayar Pemalang melakukan dua hal itu ternyata cukup untuk membuat anakmu kehilangan akses pendidikan. Ini bukan hanya masalah satu sekolah ini adalah masalah sistemik: Yang terjadi di sini adalah penggunaan kekuasaan institusional untuk membungkam kritik warga. Dan yang dikorbankan bukan si orang tua tapi anaknya yang tidak berdaya. Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat kejam justru karena targetnya bukan si pengkritik secara langsung. Targetnya adalah orang yang paling dicintai oleh pengkritik itu anaknya sendiri. Kalau lo mau membungkam seseorang tanpa kelihatan melanggar hukum secara terang-terangan sakiti anaknya. Itu yang terjadi di sini. Dan kalimat dari guru itu tadi "menggiring opini publik ke SD kami" menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang diambil secara sadar untuk melindungi reputasi institusi, bukan untuk kepentingan terbaik anak didik mereka. Apa yang seharusnya terjadi secara hukum: Pertama — sekolah tidak punya kewenangan hukum untuk mengeluarkan siswa secara sepihak hanya karena orang tuanya mengkritik di media sosial. Ini melanggar hak anak atas pendidikan yang dijamin Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UUD 1945 Pasal 31. Kedua — pungutan LKS dan infak di sekolah negeri yang sudah menerima BOS adalah pelanggaran regulasi yang seharusnya dilaporkan dan diinvestigasi oleh Dinas Pendidikan dan inspektorat daerah. Ketiga — bullying terhadap anak karena tindakan orang tuanya adalah pelanggaran serius yang masuk dalam kategori kekerasan berbasis relasi kuasa. Kasus ini sudah masuk ke Polres Pemalang. Dan si Bapak memohon agar Kapolres mengawal proses penyidikan ini agar berjalan sesuai hukum bukan sesuai keinginan pihak tertentu. Yang paling menyentuh dari seluruh cerita ini: Si Bapak menulis: "Saya tidak mampu membayar pengacara untuk mencari keadilan." Dan di sisi lain dia bilang: "Tidak apa-apa, saya bisa mendidik anak-anak walaupun tanpa ada ijazah." Ini adalah seorang ayah yang sudah pasrah dengan sistem tapi belum menyerah pada kebenaran. Yang tahu dia mungkin tidak punya kekuatan finansial untuk melawan. Tapi tetap berjalan karena dia yakin masih ada orang-orang baik yang bisa membantu. Dan si Bapak menutup pernyataannya dengan kalimat yang menurut gue harus diingat oleh setiap pejabat dan kepala sekolah di Indonesia: "Jangan semena-mena dengan jabatan yang kau sandang karena itu semua hanya titipan." Kalau kita bisa marah pada triliunan rupiah MBG yang tidak sampai ke makanan anak-anak kita juga harus bisa marah ketika satu anak SD kehilangan haknya atas pendidikan hanya karena bapaknya berani mengingatkan aturan. Keduanya adalah wajah dari sistem yang sama sistem di mana institusi lebih sibuk melindungi dirinya sendiri daripada melayani mereka yang seharusnya dilayani. Mas Azhim berhak atas pendidikannya. Dan bapaknya berhak atas keadilannya.
Lambe Saham tweet mediaLambe Saham tweet media
Indonesia
362
5.3K
9.1K
492.9K
J. retweetledi
Vikir Van Baskerville
Vikir Van Baskerville@VikirBaskervl·
Guys, kalian udah pada tau gak? Ini berita yang bikin dada sesak banget. Pelajar SMA berumur 16 tahun, Ilham Dwi Saputra, warga Bantul Yogyakarta, meninggal dunia setelah diduga dikeroyok habis-habisan sama gerombolan orang. Ayahnya, Sugeng Riyanto (53), cerita secara blak-blakan: Selasa malam (14 April 2026) jam 21.30 WIB, Ilham lagi main sama keponakannya di rumah. Tiba-tiba ada teman jemput naik motor. Dibawa ke belakang SMA di Bambanglipuro, terus dijemput lagi sama dua orang naik Scoopy. Kakak kelasnya curiga, ikutin sampe ke Lapangan Gadung Mlaten. Di situ udah ditunggu hampir 10 orang. Ilham cuma disuruh duduk, ditanya “lu ikut geng apa?” — dia jawab “tidak”. Langsung diserang. Dipukul pake selang, paralon, gunting. Lebih kejam lagi: disundut rokok berulang kali + digilas sepeda motor. Miris banget. Anak sekolah biasa, gak ikut geng, tapi dihabisi gini. Ayahnya masih shock, belum tahu pasti siapa pelakunya.
Vikir Van Baskerville tweet media
Indonesia
182
5.6K
18.9K
514.2K
J. retweetledi
szzzh
szzzh@konglostocks·
Sini sini aku jelasin pake bahasa sederhana buat yang belum paham Kenapa ini menjadi trigger warning buat perekonomian Indonesia? Just simple Perbankan itu masih jadi salah satu big caps di Indonesia, artinya kalau sektor utamanya aja carut marut begini artinya trust investor ke pasar modal dalam sentimen negatif. Setelah bulan lalu IHSG koreksi karena perang USA & Iran hari ini IHSG memerah karena nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar
Bayrich 龍@buywle

Hancur sudah semua mimpi dan harapan

Indonesia
114
6.1K
22K
932.3K
J.
J.@kwonjicoo·
Gue mana tau bjirrr pw wifi rumah di ganti dah lama juga gak balik, kenapa sih manusia unik unik banget 😭
Indonesia
0
0
0
7
J.
J.@kwonjicoo·
Pernah gak lu di kejar2 tetangga lu, di spam call sama chat perkara password wifi? Dia minta pw wifi macem gue punya hutang sama dia bjirrr dem dud yang lucu nya dia minta pw yg rumah di tebet sedangkan gue sekarang tinggal di jakbar 😭😭😭
Indonesia
1
0
0
65
J. retweetledi
Mas Pur
Mas Pur@rasjawa·
Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA. Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?" Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Mas Pur tweet mediaMas Pur tweet media
Indonesia
288
7K
25.6K
1.4M