Nana 🍒 ☽̶☾@spring_cherry27
Uda mulai masuk musim orang nikah ya? Aku jadi pengen cerita tentang pernikahanku yg baru setahun ini.
Aku nikah diusia yg kata orang Indonesia tergolong telat nikah untuk ukuran cewek, hampir 33th.
Sindiran, dicap perawan tua, digosipin tetangga, dibilang semua gara-gara aku sibuk kerja terus uda jadi makanan sehari-hari.
Saudara dan orang terdekatpun uda puluhan kali ngenalin sama kenalannya, sampai ada juga tanteku yg ngatur perjodohan padahal orangtuaku santai-santai aja.
Bohong kalau aku gak pernah mikirin masa depanku khususnya dalam hal pernikahan, kalau sendiri apalagi malam sering terbesit pertanyaan “kapan aku nikah kayak yg lain” dan muncul pertanyaan-pertanyaan lain “kok aku gak nikah-nikah, apa emang aku ditakdirin buat sendiri?”
Kisah percintaanku dari dulu emang gak pernah berjalan mulus, dari pacaran sama yg beda agama 7th sampai dibohongi duda yg ternyata masih punya istri dan anak 🤣
Dari situ aku uda pasrah dan memilih untuk gak mikirin masalah pernikahan lagi.
Dari yang tiap ditanyain orang aku jawab ngegas, nangis, sedih sampai aku bisa balas mereka dengan senyuman.
Tapi memang kalau Allah uda berkehendak segala sesuatu yang menurut kita mustahil bisa jadi kenyataan dalam waktu singkat.
Sahabatku yg selama 6th jadi temen travelling dan tempat curhatku tiba-tiba datang dan ngehibur aku saat aku lagi galau-galaunya.
Bohong kalau kami bilang cuma sahabat karena faktanya emang dia uda dua kali bilang suka ke aku, tapi selalu aku tolak karenaaku uda males pacaran sama yg beda agama. Jadilah hubungan kami waktu itu stuck dengan status sahabat, sekalipun aslinya aku juga naksir.
Siapa sangka dia datang dengan kepercayaan diri yang tinggi, terbang dari Milan ke Bali dengan semua dokumen dirinya lengkap dengan tujuan nikahin aku. Dia terbang dengan rencana yg udah tersusun rapi dengan ijin kedua orangtuaku (dia pernah ke rumah dan punya kontak keluargaku)
2 minggu setelah liburan, aku dilamar di tempat yang gak pernah terbayangkan. Pasar!!!
Gak ada alasan lagi buat nolak dia setelah dia bilang sudah jadi mualaf setahun yg lalu.
Beberapa hari setelahnya, ibuku dengan santainya minta kami untuk akad terlebih dahulu agar tidak menjadi fitnah karena dia uda lama di desa. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami mengiyakan permintaan tersebut.
Kurang dari 3hari persiapan pernikahan kami, waktu itu kami memang hanya melakukan akad alias kami nikah siri. Dan baru beberapa minggu setelahnya kami menikah secara resmi di Hongkong.
Semua persiapan pernikahan di desa diatur oleh Ibu.
Karena kalau harus menunggu dokumen dll terlalu lama dan ribet apalagi ini pernikahan beda negara.
Seminggu setelah lamaran di pasar akhirnya kami jadi suami istri, sah secara agama.