Sabitlenmiş Tweet
aiden
23.8K posts

aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi
aiden retweetledi

@NCTDreamINA 7dream itu spesial dan akan selamanya dikenang, kenal mereka adalah salah satu keputusan terbaik dma ga pernah aku sesali seumur hidupku, karena kenal mereka aku JD tau artinya hidup
Indonesia
aiden retweetledi

Terima kasih prof gema sudah berbagi pengalaman mengenai komparasi antara biaya pengobatan gigi di US dengan di indonesia. Tapi izin berbagi juga yah prof..
Menurut saya, tarif biaya pengobatan di indonesia menurut saya juga terbilang cukup mahal melihat kondisi ekonomi di indonesia. Karena memang pendapatan rata2 diindonesia yaitu sekitar 6-7jtan. Jadi jika dicompare kurang apple to apple.
Kebetulan saya punya pengalaman juga perawatan saraf gigi di indonesia:
Perawatan di rumah sakit ternama, jaksel
Per 1x visit sekitar 2,5-3jt
Pasien ideal visit 4-5x
Artinya range per 1 gigi perawatan syaraf gigi cost yang keluar 10-12jt
Hasil? Jujur ini oke banget, dan recomended
Lalu pernah juga nyoba di klinik ternama
Per 1x visit lebih murah 1,5-2jt
Visit sekitar 2-3x
Artinya range per 1 gigi yaitu 5-6jt
Terkahir saya juga nyobain, bedah mulut pake BPJS. Zero cost tidak ada biaya sama sekali.
Tapi ampun penangananya beda, pengalaman disuntik pake penghilang rasa sakit, suntikannya itu beda.. biasanya pake suntikan kecil gitu, kali ini yang gede.. pas mau dicabut giginya, masih berasa😭.. akhirnya dokter ngasi suntikan yang jarum kecil baru, hilang rasa. Dan berhasil cabut serta dijahir.
Nah kesimpulannya apa prof? Kesimpulannya yang paling bener dan bijak, adalah rawat kesehatan seluruh anggota tubuh udah paling bener. Jujur berobat di indonesia ini cukup mahal bagi saya. Sebisa mungkin harus bener-bener jaga kesehatan...
Dan menyesuaikan kemampuan serta kapasitas kita..
Indonesia
aiden retweetledi

Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang.
Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri.
"Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?"
Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah.
Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya.
Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal.
Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah.
Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori.
Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi.
Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan.
Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan.
Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar.
Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan.
Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop.
Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel.
Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti.
Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu.
Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira.
Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa.
Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya.
Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja.
Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana.
Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf.
Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan.
Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti?
Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib.
Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.

Indonesia
aiden retweetledi
aiden retweetledi

mama sama ayahku keduanya PNS. Hidup stabil. Pas ayah meninggal, mamaku dapet uang duka terus tiap bulan dapet tunjangan janda dari pemerintah,
Menurutku, PNS tuh kerjaan yg stabil. Pensiun dapet gaji tiap bulan, dapet gaji ke 13, dapet THR. Keuntungan dari orang tua sama sama PNS, pas masuk sekolah atau kuliah selalu dapet potongan.
Kalau ditanya, mau gak jadi PNS? jawabanku mau banget. Meskipun kek monoton kerjanya, tapi tetep aja buat hari tua tuh bener bener terjamin.
kale@kalistohenituse
unpopular opinion tentang PNS/PPPK :
Indonesia
aiden retweetledi
aiden retweetledi




























