zhil@zhil_arf
Satu inovasi tata negara LKY adalah perekrutan & kaderisasi politisi.
Yang direkrut bukan modelan mahasiswa HM*I, tapi pakar.
Profesor, bankir, direktur multinasional dibujuk resign dan masuk parpol. Digaji tinggi. Dilatih debat kusir, kampanye, menggerakkan ormas dan media.
Dalam sistem pemerintahan Singapura yang diktator, nasib negara ditentukan politisi penguasa.
"Negara diktator maju kalau diktatornya bagus".
Konsekuensinya jelas. Berarti, para calon diktator dan anak buahnya harus dengan sengaja dibentuk dan dididik oleh *sistem* yang kuat dan ketat.
Tidak ada yang namanya "nyalon" ngasal. Politisi itu harus dibentuk secara sistematis lewat jenjang karir, sebagaimana manajer dan direktur di perusahaan. Tugasnya ya berpolitik: kampanye, ormas, aspirasi, melobi, bikin kebijakan, viral masuk ke got.
Karena betulan bisa berpolitik, orang-orang PAP mampu kampanye dan menang pemilu dengan adil tanpa perlu tirani yang parah-parah amat. Rakyat beneran suka sama mereka dan beneran milih mereka saat pemilu.
"Politisi parpol" menjadi pekerjaan profesional yang tertata, dengan standar dan norma etika yang profesional, seperti dokter atau guru.
Rezim LKY melancarkan perang perburuan bakat yang sadis sebagaimana Google vs Meta vs Amazon melakukan perang perburuan bakat. Bakat yang direkrut diberikan gaji, status sosial, dan kekuasaan yang besar.
Monopoli bakat ini mengakibatkan kaum oposisi di Singapura tereduksi menjadi gerombolan badut bodoh.
Bandingkan dengan Indonesia. Artis jadi politisi. Preman jadi politisi. Oligarki daerah jadi politisi. Bocil baru 3 tahun walkot jadi pejabat sangat tinggi negara.
LKY sendiri adalah politisi lulusan Soshum yang tumbuh dari gerakan buruh, bukan "teknokrat". Ia ahli pidato dan ahli mengompori massa. Kebanyakan kebijakan bagus di Singapura itu adalah bikinan anak buahnya LKY dan merupakan produk kerja tim, bukan hasil pemikiran LKY pribadi.
Karena teknokrat-politisi yang dikader LKY bisa ngomong sendiri dan bisa sat set sendiri seperti Bahlil, mereka mampu survive sendiri di medan persaingan politik yang sadis.
Mereka tidak dilindungi dan dimanjakan kediktatoran militer seperti Mafia Berkeley atau Habibie di zaman Soeharto. Mereka mandiri, menguasai "ilmu lapangan", dan mampu berkuasa.