G

34.5K posts

G banner
G

G

@lergalerr

pejah gesang nderek Gusti Allah | Your forbidden fruit, not an eater | deep water

Katılım Ağustos 2009
500 Takip Edilen462 Takipçiler
G retweetledi
Marlistya Citraningrum
Marlistya Citraningrum@mcitraningrum·
Ada 2 tulisan saling terkait hari ini di @jakpost dan @hariankompas. Jadi aku mau tanya, apa yang membuatmu masih percaya ahli, berita, atau institusi (ini govt dan non-govt ya)? Atau faktor apa yang membuatmu mempercayai sebuah sumber (apapun itu)?
Marlistya Citraningrum tweet mediaMarlistya Citraningrum tweet media
Indonesia
26
226
724
26.5K
G retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
204
6.9K
19.3K
827.5K
G retweetledi
jeli🌙
jeli🌙@casuaalheart·
salah satu alesan ex coworker ku resign adalah waktu dia lagi capek capeknya sm kerjaan dia yg jam kerjanya makin hari makin gak jelas (harus ttp jawab-jawabain klien pas tengah malem) terus dia liat ex atasan kita keliling eropa dan dinner di tempat-tempat mahal -c-
🪾jati whines@burnoutjati

orang miskin kerja keras demi orang kaya njajan dubai chewy coklat, liburan ke jepang 3 bulan sekali, liburan ke bali dan sekitarnya 1 bulan sekali

Indonesia
125
3.3K
28.9K
1.6M
G retweetledi
Kompas.com
Kompas.com@kompascom·
Jalan Kaki Tembus Cuaca Panas Sidoarjo, Para Biksu Thudong Singgah di Masjid
Indonesia
22
96
694
24.7K
G retweetledi
Hendri F. Isnaeni
Hendri F. Isnaeni@hendrifisnaeni·
Majalah sastra Horison mendapat dana 10.000 dolar AS per tahun hingga 1977 dari IACF, yang sebelumnya bernama CCF, organisasi kebudayaan yang dibiayai CIA untuk melawan komunis. Pendiri dan pemimpin redaksi Horison, Mochtar Lubis adalah anggota dewan eksekutif IACF. Selengkapnya bisa dibaca dalam biografi kritis Mochtar Lubis, Jurnalisme dan Politik di Indonesia karya David T. Hill; Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang; dan untuk konteks dunia, operasi CIA melalui CCF baca buku Finks: Bagaimana CIA Mengelabui Para Sastrawan Besar Dunia karya Joel Whitney.
Historia.ID@historia_id

Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade. historia.id/article/horiso…

Indonesia
13
173
548
27.2K
G retweetledi
Hendri F. Isnaeni
Hendri F. Isnaeni@hendrifisnaeni·
Ali Sadikin mengajukan istilah wadam setelah bertemu dengan mereka pada akhir 1968. Mereka membentuk Himpunan Wadam Djakarta (Hiwad) pada 1973. Namun, Hiwad berubah nama jadi Himpunan Waria (Hiwaria) pada 1978. Menteri Agama Alamsjah Ratu Perwiranegara keberatan pada istilah wadam karena menyinggung nama Nabi Adam dan istrinya, Hawa. Presiden Soeharto setuju mengganti istilah wadam jadi waria. historia.id/article/takdir…
Indonesia
1
18
101
15.4K
G retweetledi
bernando J. sujibto 🇮🇩
Bang Zezen bravely dismantled the practice of mafia citation among the management of Indonesian academic journals, particularly within Islamic higher education. It is time to pause and leave all this fraud behind. Read this @Scopus! The journal's names clearly mentioned here!
bernando J. sujibto 🇮🇩 tweet media
English
1
102
251
8.3K
G retweetledi
Alvino Kusumabrata
Alvino Kusumabrata@ARKusumabrata·
Studi soal gerakan mahasiswa selalu menarik. Banyak orang yang mengelukan mahasiswa sebagai agen perubahan. Tapi tak sedikit yang tak percaya mahasiswa bisa bawa perubahan. Jadi, kudu gimana mahasiswa harus bergerak? Artikelku terbit di jurnal Prisma, terbit 15 Mei mendatang.
Alvino Kusumabrata tweet media
Indonesia
6
107
555
17.9K
G retweetledi
International Poop Base
International Poop Base@iPoopBased·
THAT WAS FUN WHILE IT LASTED 2026 is the New 1984.
International Poop Base tweet media
English
181
6.9K
21.8K
994.9K
G
G@lergalerr·
Emang bener, semua berawal dari niat. Kalau niatnya enggak tepat, ada aja sandungannya. Ya walaupun dicurangi, tapi emang begini ya gimana lagi.
Indonesia
0
0
0
8
G retweetledi
Chris Wibisana
Chris Wibisana@ChrisWibisana·
Setelah 8 bulan, akhirnya saya bisa menguliti kedok para intelektual salon di balik 17+8 yang membuat kematian Affan cepat terlupakan. Tinjauan 3.500 kata buku Naar de Republiek Indonesia Edisi 100 Tahun telah terbit di Prisma 45 No. 3 (2026). Pesan via wa.me/628118845741
Chris Wibisana tweet mediaChris Wibisana tweet media
Indonesia
6
352
1.3K
48.2K
G retweetledi
Engineers of Manila is BACK!
no you’re not middle class you’re working class with a little savings that’s just one medical emergency away from poverty hating the poor won’t make you rich
English
49
7.6K
22.9K
305.4K
G retweetledi
Al Jazeera English
Al Jazeera English@AJEnglish·
Banksy has unveiled a new sculpture of a man stepping off a stone base with his face obscured by a flag. The overnight installation in Waterloo Place, London, was revealed in a video shared by the artist, and has drawn fans of his politically charged works.
English
85
1.7K
4.8K
189.2K
G retweetledi
Logos ID
Logos ID@logos_id·
Coming Soon! Gerwani transnational networks! Ketika mendigitalisasi arsip Gerwani, mimin menemukan betapa terkoneksinya Gerwani dengan dunia internasional. Baru selesai sampai 1961 tapi sudah seperti ini. Semoga ini juga mempermudah pembaca untuk mapping perjalanan Gerwani.
Logos ID tweet media
Indonesia
5
326
1.1K
18.2K
G retweetledi
Video & Arsip Sejarah
Video & Arsip Sejarah@VideoSejarah·
Secara nurani, sulit menerima fakta bahwa ratusan ribu hingga jutaan nyawa hilang dalam operasi pembersihan pasca G30S tanpa proses peradilan yang jelas. Tahanan politik (tapol) yang sudah dibebaskan pun tetap mendapat stempel di KTP mereka dengan kode ET (Eks-Tapol). Memastikan mereka sulit mendapatkan kesempatan apa pun dalam kehidupan mereka selanjutnya. Keluarga dan keturunan mereka pun mendapat diskriminasi dalam kehidupan bernegara seperti larangan menjadi pegawai negeri dan TNI/Polri. Jarang ada yang mau menampung dan merekrut mereka untuk bekerja di sektor formal karena ancaman teror dari negara. Fenomena ini menciptakan kemiskinan struktural bagi keluarga eks-tapol selama beberapa generasi.
Video & Arsip Sejarah tweet media
jakartalk@Jakartalk

Fakta yang paling gak bisa lo terima

Indonesia
28
584
1.4K
80.4K