Lik Ado
421 posts


Gerakan mereka makin cepat.
“Dok, obat sudah masuk,” lapor Ella.
“Darah dan urin aman,” lapor Bowo.
Lalu bapak memanggil saya.
“Dok.”
Saya mendekat.
“dok, Saya... kangen... istri saya.”
Rahangnya gemeretakan.
“Saya rindu sekali.”
Ia menarik napas pendek.
“Tolong.. Saya... enggak usah... diapa-apain lagi.”
Saya menghela napas.
Saya mengerti maksudnya.
“Gus, panggil putranya.”
Agus mengangguk.
Saya tahu rindu itu berat. kehilangan adalah salah satu beban terbesar yang diderita seseorang.
Saya juga tahu, pada kondisi tertentu, tubuh dan jiwa saling berbicara. Ketika jiwa terlalu gelisah, jantung ikut berdebar kencang.
Saya memegang bahu bapak.
“Pak, saya mengerti.”
Beliau menatap saya.
“Saya yang bertemu sebentar saja susah lupa. yang paling saya ingat adalah cerianya. Semangatnya. Apalagi Bapak yang bersama Ibu puluhan tahun.”
Bapak tersenyum tipis.
“Pak, bolehkah ceritakan ke saya tentang Ibu. Apa yang paling Bapak rindukan?”
Pelan-pelan, bapak mulai bercerita.
Tentang masakan istrinya. Tentang cara istrinya memaafkan. Tentang kebiasaan istrinya membuat beliau tertawa. Tentang mereka yang pernah pergi ke pantai. Tentang momen Lebaran. Tentang rumah selama istrinya masih ada.
Semua ia ceritakan dengan begitu rincinya, seperti sedang melihat istrinya berdiri di sebelahnya.
Putranya yg ikut mendengar, meneteskan air mata.
Saya pun ikut terharu.
Saya menepuk pelan pundak bapak.
“Pak, ada satu hal yang belum Bapak sebut.”
Beliau menatap saya.
“Itu yang paling sering Ibu ucapkan waktu Bapak dirawat karena Covid. Ibu menyebutnya berulang-ulang. Sepertinya itu permintaan yang paling sering Ibu titipkan untuk Bapak.”
"Beliau bilang bapak harus sehat."
Bapak menarik napas dalam.
Matanya basah.
“Dia minta aku harus sehat.”
Saya mengangguk.
“Iya, Pak. Betul.”
Saya menatap beliau lebih dekat.
“Itu juga permintaan Ibu ke saya. Bapak harus sehat.”
Bapak mengangguk lalu tarik nafas dalam dan panjang.
Seperti ada kekuatan baru yang masuk ke dalam dadanya. Obat yang tidak ada di lemari farmasi. Obat yang tidak bisa ditulis di resep.
Rasa ingin sembuh.
“Kita berikan apa yang Ibu inginkan ya, Pak.”
Beliau mengangguk lagi.
Ajaib. Beberapa detik kemudian, bunyi monitor berubah.
“Nit... nit... nit...”
Angka nadi mulai turun.
Dari 150, turun perlahan.
140.
141.
142.
Lalu mendekati 100.
Tensinya ikut membaik.
“Alhamdulillah,” saya takjub melihat monitor.
Keharusan untuk tindakan kardioversi menghilang.
Saya berdiri sebentar di sisi ranjang, lalu dalam hati saya berdoa untuk Ibu. Semoga segala amal ibadahnya diterima. Semoga Allah menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Hari itu saya kembali belajar, bahwa rindu punya kekuatan besar.
Rindu bisa membuat tubuh runtuh.
Tetapi rindu juga bisa menjadi alasan seseorang bertahan.
Karena cinta sejati bisa berteriak dari kejauhan.
Hiduplah.
Sehatlah.
Lanjutkanlah.
Mereka ingin kita tetap hidup dengan baik, membawa cinta mereka dalam setiap napas yang masih Allah titipkan.
Indonesia

Suatu Pagi di IGD, seorang bapak datang bersama putranya.
Saya memperhatikan tubuhnya sejak ia masuk pintu IGD. Badannya kurus sekali. Keringat membasahi pelipisnya. Tangannya gemetaran.
Matanya menonjol, seperti selalu terbelalak. Leher bagian depannya tampak sedikit membesar. Napasnya cepat.
Saya menyapa beliau dan putranya dengan senyum.
“Halo, Pak.”
Beliau menatap saya lama. Bibirnya bergetar.
“Dok... lupa ya... sama saya?”
Suaranya terdengar bergetar, seakan ada gemuruh di dalam dadanya.
“Dokter... yang bantuin... saya waktu Covid.”
Bicaranya patah-patah, tetapi cepat sekali, sampai saya butuh beberapa detik untuk memahami.
Seketika saya ingat.
Bapak ini dulu pasien saya. Yang paling saya ingat, beliau romantis sekali dengan istrinya. Selama di rumah sakit, mereka hampir selalu bergandengan tangan. Istrinya selalu duduk di samping ranjang, memandang beliau seperti sedang menjaga separuh hidupnya.
Perubahan tubuhnya hari itu membuat saya pangling. Terutama matanya yang menonjol.
“Oh iya, Pak. Saya ingat. Ibu apa kabar?”
Putranya yang menjawab.
“Ibu sudah enggak ada, Dok. Hashimoto disease. Bapak kena Graves’ disease.”
Saya terdiam sebentar.
Graves’ disease adalah penyakit autoimun yang membuat kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid berlebihan. Kondisi ini disebut hipertiroid.
Itu menjelaskan banyak hal.
Kenapa bapak menjadi kurus sekali. Kenapa matanya menonjol dan Kenapa tangannya tremor.
“Agus, Bapak ke bed satu ya. Cek suhu, pasang oksigen, monitor tanda vital.”
“Mari, Pak.”
Putranya melanjutkan cerita.
“Ibu dulu hipotiroid, Dok. Lemas terus. Lemaknya jadi enggak terkontrol. Jantungnya bengkak. Daya pompanya turun. Sampai akhirnya kena serangan jantung.”
Saya mengangguk pelan.
Pedih sekali.
Suami istri ini seperti memiliki takdir yang saling bercermin. Masalahnya sama-sama di kelenjar tiroid, tetapi bergerak ke arah yang berlawanan.
Kelenjar tiroid itu seperti knop kompor di tubuh manusia. Ia mengatur sebesar apa api metabolisme menyala.
Kalau apinya terlalu besar, tubuh masuk ke keadaan hipertiroid. Jantung berdebar, tubuh gemetar, berat badan turun, keringat berlebihan, dan organ-organ bekerja terlalu cepat.
Kalau apinya terlalu kecil, tubuh masuk ke keadaan hipotiroid. Badan lemas, metabolisme melambat, berat badan mudah naik, kolesterol terganggu, jantung ikut terbebani.
Dua-duanya berbahaya.
“Dalam lima bulan terakhir, Bapak sudah enggak mau minum obat rutin, Dok,” kata putranya. “Hari ini ke sini karena mual, muntah-muntah, dan diare.”
Saya menatap putranya.
“Enggak minum obat lima bulan?”
Ia mengangguk khawatir.
Apa pun yang dikhawatirkan putranya, saya sepuluh kali lebih khawatir.
“Dok!”
Agus berteriak dari sisi ranjang.
Saya menoleh ke monitor.
Nadi 150. Lalu naik terus.
“Suhu 39,5 derajat,” lapor Agus.
Di dalam kepala, saya mulai menghitung skor Burch-Wartofsky.
Demam. Takikardia. Gejala saluran cerna. Gangguan sistemik. Riwayat putus obat.
Angkanya bergerak cepat di kepala saya.
25 + 10 + 10 + 20.
Ini Badai tiroid.
Saya mendekat ke pasien.
“Agus, pasang infus.”
“Siap, Dok.”
“Bowo, cek darah. Pasang kateter, cek urinnya. Ella, ambil RL, siapkan PTU tablet 600 mg, paracetamol drip, bisoprolol, sama dexa ampul.”
Saya memeriksa leher bapak. Teraba pembesaran tiroid, dan terdengar bruit halus di sana. Aliran darahnya deras, seperti organ kecil berbentuk kupu-kupu di bawah jakun itu sedang bekerja terlalu keras.
Lalu saya menempelkan sensor EKG di dada beliau.
“Pak, jangan tidur dulu ya, Pak.”
Beliau mengangguk.
Anehnya, ia tersenyum.
Kami mengelilingi bapak. Semua sibuk, tetapi setiap orang tahu tugasnya.
Saya membaca monitor tanda vital dan EKG. Angka dan grafik di sana membuat dada saya ikut tegang.
“ini SVT. Tensi mulai turun.”
Semua menengok ke monitor.
“Perlu kardioversi.” saya melihat ke tim saya.
Mereka paham. Kardioversi berarti memberi kejutan listrik ke jantung dengan energi terukur, untuk mengembalikan irama jantung ke jalur yang benar.
Indonesia

Kalau istrinya mau shopping, satu lantai Plaza Indonesia harus ditutup.
Tebak siapa?
xA@xAvellesch
ciri-ciri old money: rumahnya punya dua dapur: dapur kotor dan dapur bersih. apalagi ya?
Indonesia

@KWijono @Opposite6888 @MurtadhaOne1 Itu pasti di kasur dalem selimut, mesem-mesem tuh ☺☺
"Duh kapan dateng ya? Duh bntr lagi pada dateng nih.. Duhh kok lama sih, mana yaa ☺☺"
Bgsddd!!! 🤣🤣
Indonesia

Akhirnya…..Nemu juga versi yg dikasur…
Pokoknya aku gak mau muntah sendirian…
Mari rame2 muntah…🤮🤮
@Opposite6888
@MurtadhaOne1
Indonesia

























