Beli buku cuma buat difoto, bukan dibaca. Beli journal mahal biar keliatan “productive”, isinya cuma 2 halaman terus ditinggal. Meja kerja rapi buat konten, kerja aslinya di kasur sambil tengkurap. Hidup buat estetika, bukan hasil.
Hidup sendiri berantakan, tapi paling rajin ngatur hidup orang. “Kamu harusnya gini, harusnya gitu”. Komentar di TikTok orang kayak dosen pembimbing. Giliran disuruh beresin kamar sendiri: “Nanti aja lah”.
Ngaku anak kos hemat, tapi nggak bisa masak selain Indomie + telur. Nasi padang 15 ribu dibilang mahal, tapi kopi kekinian 22 ribu dibilang “self love”. Lambungnya demo tiap malam, tapi tetep belain “ini seni bertahan hidup”.
Chat dari bos nggak dibales 3 jam dengan alasan “strategi”. Chat dari gebetan dibales 0,1 detik. Giliran ditanya deadline: “Belum kebaca kak”. Padahal centang birunya udah nyala dari zaman Majapahit.
Dikit-dikit “aku introvert” buat alasan nggak mau bersosialisasi, nggak mau kerja kelompok, nggak mau jawab telepon. Tapi kalau diajak konser gratis, tiba-tiba jadi ekstrovert garis keras. Introvert kok pilih-pilih.
Olahraga nggak pernah, tapi jempol bisa marathon 5 jam nonstop di TikTok. Pas disuruh jalan ke warung 200 meter: “Mager, panas”. Giliran disuruh scroll drama orang, kuat sampai subuh. Keringat cuma keluar pas panik liat saldo ATM.