risolmayou

2K posts

risolmayou banner
risolmayou

risolmayou

@livbdump

risol

Katılım Kasım 2025
33 Takip Edilen9 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
risolmayou
risolmayou@livbdump·
"Jangan karena dia seperti doamu, kamu berpikir dia jawaban dari doamu."
Indonesia
0
0
0
290
risolmayou retweetledi
Ken Hans
Ken Hans@kenhans03·
Hanya dalam 17 bulan (Mei 1998 – Oktober 1999), B.J. Habibie berhasil melakukan keajaiban ekonomi: menekan Rupiah dari Rp16.800 ke level Rp7.000 per Dolar AS. Meski latar belakangnya teknik dirgantara, langkah beliau sangat jenius. Alfatihah untuk Pak Habibie 🙏
Indonesia
88
1.8K
5.3K
78.4K
risolmayou retweetledi
Dravenwe
Dravenwe@DravenweX·
Profesor Herawati Sudoyo, Pahlawan Bom Bali yang "dikalahkan" oleh tembok birokrasi negara sendiri. Lo bayangin, kepolisian dunia aja hormat sama beliau karena sukses bongkar identitas pelaku Bom Bali cuma dari serpihan DNA. Tapi pas di negaranya sendiri, nasib beliau dan timnya malah berakhir ngenes gara-gara urusan administratif. Namanya Prof. Herawati Sudoyo, salah satu otak paling cerdas di Lembaga Eijkman. Pas kejadian Bom Bali 2002, beliau dan timnya kerja gila-gilaan buat identifikasi pelaku lewat sisa-sisa DNA di lokasi ledakan. Berkat beliau, kasus-kasus terorisme besar bisa terungkap secara ilmiah. Di tangan beliau, Lembaga Eijkman jadi markas riset genetika paling bergengsi di dunia. Bukan kaleng-kaleng, ilmuwan luar negeri aja segan sama riset mereka. Tapi ya gitu, musuh terberat orang pinter di sini bukan virus, tapi birokrasi. Plot twist paling pahitnya terjadi awal 2022. Lembaga bersejarah ini dibubarin dan dilebur secara paksa ke instansi riset baru. Alhasil? Ratusan ilmuwan dan peneliti elit dipecat massal dalam semalam cuma karena mereka bukan PNS. Bayangin, orang-orang yang udah ngabdi puluhan tahun demi kemajuan sains Indonesia, disuruh angkat kaki cuma karena masalah dokumen status pegawai. Dr. Herawati dan timnya harus ninggalin laboratorium tempat mereka nyetak sejarah internasional. Ini jadi bukti nyata kalau di sini, "surat sakti" birokrasi kadang lebih berkuasa daripada otak jenius yang diakuin dunia. Padahal kita butuh lebih banyak orang kayak mereka, bukan malah bikin mereka "patah hati" sama negaranya sendiri. Respek buat Prof. Herawati dan para ilmuwan Eijkman. Mereka udah kasih yang terbaik buat Indonesia, meskipun akhirnya harus "menelan luka" gara-gara sistem yang kaku. Pahlawan sains yang sebenernya.🫡✨
Dravenwe tweet mediaDravenwe tweet media
Indonesia
258
6.7K
17.2K
920.9K
risolmayou retweetledi
neyi kaybettiğini hatırla
neyi kaybettiğini hatırla@neyikaybettik·
🚨 Rihanna: İlk "Özgür Filistin" dediğimde "tarafsız kal, İsrailli dinleyicilerini kaybedersin" dediler. Zaten amacım, dinleyen İsrailliler varsa Filistin’in özgürlüğünü hatırlayıp rahatsız olmalarıydı.
neyi kaybettiğini hatırla tweet medianeyi kaybettiğini hatırla tweet media
Türkçe
445
13.5K
102.4K
1.7M
risolmayou retweetledi
Elmo
Elmo@elmo·
Of course, Elmo has @BTS_twt on speed dial! Elmo is so excited to see them soon! ❤️
Elmo tweet media
English
396
27.7K
90.3K
672.9K
risolmayou retweetledi
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Kemarin, @TheEconomist mempublikasikan dua artikel soal Indonesia Judul artikel pertama: Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi Subjudulnya: Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter Perlu diketahui, Spendthrift artinya orang yang menghamburkan uang secara tidak bijak. Diksi ini lebih keras dari sekadar “boros”. Dalam konteks negara, ada kesan ceroboh dan tidak bertanggung jawab secara fiskal. ======== Judul artikel kedua: Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko Subjudulnya: Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara—dan demokrasinya. Di artikel ini, pemilihan diksi “Eroding” rasanya memperkuat artikel lainnya. Jeopardising (membahayakan) masih bicara soal risiko ke depan. Eroding (menggerogoti) berarti prosesnya sudah berlangsung. Rasanya pelan, diam-diam, tapi nyata. Bagaikan batu yang berlubang oleh tetesan air.
M. Ridha Intifadha tweet mediaM. Ridha Intifadha tweet media
Indonesia
277
15.8K
29.3K
380.2K
risolmayou retweetledi
Pedro Sánchez
Pedro Sánchez@sanchezcastejon·
Quienes consideran que ondear la bandera de un Estado es “incitar al odio”, o han perdido el juicio o han sido cegados por su propia ignominia. Lamine solo ha expresado la solidaridad por Palestina que sentimos millones de españoles. Otro motivo más para estar orgullosos de él.
Español
10.3K
59.4K
282.3K
6.6M
risolmayou retweetledi
Pop Base
Pop Base@PopBase·
Drake calls out DJ Khaled for not speaking up for Palestine on ‘ICEMAN’: "Your people are still waiting for a 'Free Palestine' but apparently everything isn't black and white and red and green.”
Pop Base tweet mediaPop Base tweet media
English
897
6.4K
83.2K
4M
risolmayou retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
149
4.9K
14.5K
653.7K
risolmayou retweetledi
cozy 🕷️
cozy 🕷️@cozyaltruis·
Kangen deh era duit sejuta udah bisa beli emas 1 gram 😭
Indonesia
201
4.1K
22.9K
225.7K
risolmayou retweetledi
ajee sayang jila🐚 mentok
ajee sayang jila🐚 mentok@norasupremacy·
jadi sebenernya merch tuh ga mahal anjir, kita aja yg wni
Indonesia
428
26.7K
82.6K
844.5K
risolmayou retweetledi
ferizandra
ferizandra@ferizandra·
Wartawan : "Menurutmu gimana soal tindakan Lamine Yamal kemarin (mengibarkan bendera Palestina) pas selebrasi juara Liga Barcelona...? apakah pemain bola emang harusnya gak usah ikut campur urusan di luar lapangan?" Pep Guardiola: "Lah, emangnya kamu juga harusnya gak usah ngurusin hal yang bukan urusanmu...? bukannya kamu di sini mau nanya soal pertandingan (Manchester City) lawan Crystal Palace? Tapi ya, udah, deh... aku jawab aja... Pemain bola itu panutan buat jutaan orang, suaranya didenger... jadi kalo perlu, ya mereka harus ngomong... Coba bayangin kalau istri dan anakmu ketimbun reruntuhan rumah kayak orang-orang di sana... apa kamu masih mau datang ke konferensi pers cuma buat ngomongin pemain pakai jersey lari-lari ngejar bola.. ? gak mungkin kan...?!?! Kamu gak bisa milih-milih topik yang mau dibahas... Lamine harusnya bangga sama sikapnya... sekarang dia jadi bahan omongan seluruh dunia..."
ferizandra tweet media
Indonesia
109
1.9K
8.4K
353.9K