“communication is key” but no one talks about how scary real communication is. it’s not cute texts and long calls. it’s “here’s where you hurt me here’s what I need here’s what I’m afraid to say” it’s
swallowing pride risking rejection, choosing honesty over comfort.
you know to be a parents tuh banyak tanggung jawabnya, kalo blm siap memiliki anak MAKA jangan memiliki anak kalo memaksakan itu akan menyakiti keduanya, anak juga harus mendapat HAKNYA.
“ngga ada yg siap berumah tangga, menjadi ibu, dan seorang ayah.”
kalo begitu jangan jadi ketiganya 🙂🙂🙂 kalo belum siap jangan mengambil RISIKO BESAR yg akan mengubah hidup, kalo belum siap berumah tangga artinya kamu ngga siap sm hal apa yg akan datang di masa depan
luka, berdamai dgn masa lalu, dan bahagia sendiri dulu (if God let me, God will) jika semua itu sudah selesai baru aku bisa berkomitmen dengan diriku sendiri dan orang lain untuk menjadi sepasang kekasih.
aku ngga mau bergantung kebahagiaan ku di orang lain lagi, menurutku itu cara yang salah dan kalo aku blm bahagia dan berdamai terhadap diriku sendiri I wont marry anyone. aku bljr dari relationship aku sebelumnya, bahwa itu adalah tindakan yang salah. aku mau sembuh atas luka-
“kamu butuh cowo”
iya, aku emg butuh cowo. butuh tempat buat aku pulang, butuh tempat dimana I can share my life to him and etc tapi, kenapa ngga diri sendiri dulu yg dijadikan seperti itu? maksudnya? aku mau jadi tempat plg untuk aku sendiri, mau jadi orang baik untuk diriku.