Moncii ( ꈍᴗꈍ)
1.7K posts

Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi

Allah selamatkan dia. Tapi kita yg gak selamat
folkative@insidefolkative
Anies Baswedan dalam postingan di Instagram cerita kalau dirinya sejak tahun lalu mendapat amanah sebagai anggota Dewan Penasehat dari Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh
Indonesia
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi

Kalau @TheEconomist udah seaktif ini, sepertinya udah jadi alarm yg sangat keras.
The economist nih bukan media biasa yg gampang dibeli ya capt. Ini media kredibel dari UK yg fokus pembahasannya emang terkait urusan global, politik, bisnis, keuangan, sains, dan teknologi, serta terkenal dengan pandangan redaksinya yang sangat menjunjung tinggi perdagangan bebas dan globalisasi.
Berdasarkan penilaian lembaga pemantau media independen seperti Media Bias/Fact Check dan Ad Fontes Media, publikasi dari media tsb konsisten mendapatkan peringkat "High Factual Reporting" (Pelaporan Fakta Tinggi) dengan rekam jejak pemeriksaan fakta yang bersih.
Mereka juga punya tim riset khusus yang bertugas memverifikasi setiap angka, grafik, dan klaim sebelum artikel diterbitkan.
Jadi, awas aja kalau bilang ini antek² asing suruhan soros 🙃
Chart Investor Saham IHSG,USA,Crypto@TradingDiary2
dalam 1 jam the economist @TheEconomist pagi pagi udah keluarin 2 serangan 😅what is this ? ada apa ini?
Indonesia
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi

Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi

Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish":
"Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024.
Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah.
Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar.
Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis.
Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya.
Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk.
Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman.
Persimpangan jalan baru
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu.
Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan.
Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
The Economist@TheEconomist
Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths econ.st/3RE0Fum Photo: Getty Images
Indonesia
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi

Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi

tuhkan naykilla dicancel grgr blg i love gays wkwkkw goblog itu tenxi blg info hijabers tobrut gak lu cancel anjengg bukti kl homophobes itu mostly emang suka spread kebencian dan gak peduli sm sh thingy #luyangsakit
Indonesia
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi

Gausa jauh2 bahas soal Habibie yang pinter,
Lha kemarin dapet calon presiden lulusan Ekonomi & Kebijakan Publik, sama lulusan Hukum & Politik, pada gamau 😭
Let alone ada cawapres yang lulusan doktor Hukum Tata Negara, pernah ngerasain semua posisi Trias Politika. Langka banget loh itu.
Belom 2 tahun yang lalu pula loh WKWKWK
Indonesia
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi

#intinyadeh The Economist bilang:
"Prabowo Subianto is too spendthrift & too authoritarian, is eroding its finances & its democracy, a thuggish general, temperament is so mercurial, whatever Mr Prabowo’s intentions, dangers loom"
gw translate buat para buzzer:
"Prabowo Subianto terlalu boros & terlalu otoriter, menggerogoti keuangan & demokrasi, seorang jenderal preman, temperamennya tidak stabil & cogil, apa pun niat Prabowo, bahaya mengintai."
Media lokal ga akan berani speak up kek gini.
The Economist@TheEconomist
Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian economist.com/briefing/2026/…
English
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi
Moncii ( ꈍᴗꈍ) retweetledi




















