Sabitlenmiş Tweet
ara
20.8K posts

ara retweetledi

Yang bilang belum move on…
Mulan ini dulu orang yang dibantu dari 0 sama maia dan jadi sahabat, bayangin rasa sakit dikhianati sahabat kentel. Trus si dhani adalah orang yang memisahkan maia ama anak2nya, beneran ga boleh ketemu sampai maia manjat pager buat ketemu anaknya
Haluan Media@haluandotco
DEFINIS RASA SAKIT YG GAK ADA OBATNYA, SEMANGAT BUNDAA
Indonesia
ara retweetledi
ara retweetledi
ara retweetledi
ara retweetledi
ara retweetledi

guru penjas coach nadin
SMP pilates amizah
👽🍋@icurina
turning the airport into their personal runway
Indonesia
ara retweetledi

when kpop relays used to be fun little thing idols did while waiting for their performance slot on mnet and not super rehearsed dance video where nobody is allowed to smile
twodaeng@ioi_ang
When ioi did this the whole kpop industry followed it
English
ara retweetledi

Idols have been doing this since the start of Kpop actually...
K@kimstark23
notice how not single famous kpop group has ever done this like ever lols
English
ara retweetledi

oh we’re losing ANCIENT texts
K@kimstark23
notice how not single famous kpop group has ever done this like ever lols
English
ara retweetledi
ara retweetledi

MAU KAYAK SYIFA HADJU AJA, RELA NINGGALIN YANG UDAH LAMA DEMI YANG BARU, TAPI LANGSUNG DIAJAK NIKAH.
DARIPADA BERTAHUN-TAHUN PACARAN TAPI NGGAK ADA KEPASTIAN SAMA SEKALI.
SYIFA HADJU, KAMU BERUNTUNG PUNYA EL RUMI. BUKAN CUMA DATANG, TAPI JUGA BAWA TUJUAN.
Rania Calista@raniacalista_
Pilihan warna cipa ga pernah gagal😭
Indonesia
ara retweetledi
ara retweetledi
ara retweetledi

FYI,
Dulu, Pop Ice pernah kena denda Rp 11 Miliar.
Bukan karena produknya… tapi karena cara mainnya di pasar.
Ceritanya menarik 👇
Pop Ice itu bukan brand kecil. Dia udah lama jadi “raja” minuman bubuk di Indonesia. Dari kantin sekolah sampai warung pinggir jalan.
Karena kuat di pasar, strategi marketing jadi agresif.
Salah satunya: program ke kios dan pedagang minuman.
Tujuannya sederhana: biar Pop Ice makin dominan.
Ada program tukar produk. Pedagang bisa tukar produk pesaing ➡️diganti dengan Pop Ice. Sekilas kelihatan seperti promo biasa.
Tapi bukan cuma itu.
Ada juga “insentif”:
- produk gratis
- kaos
- bahkan blender
Dengan satu syarat…
Pedagang dimintauntuk tidak menjual produk pesaing. Atau minimal… tidak memajangnya. Di sini mulai jadi abu-abu.
Kasus ini akhirnya dilaporkan. Dan masuk ke ranah hukum oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha
Setelah investigasi panjang, diputuskan bahwa praktik ini:
➡️ dianggap menghambat persaingan usaha
➡️ memanfaatkan posisi dominan di pasar
Hasilnya? Produsen Pop Ice, PT Forisa Nusapersada dikenakan denda Rp 11,4 Miliar.
Program marketing tersebut juga diminta untuk dihentikan. Bukan karena produknya jelek. Tapi karena cara distribusinya dianggap tidak fair.
Dari sini ada pelajaran menarik:
Dalam bisnis, menang itu penting. Tapi cara menang…juga harus dijaga. Karena di titik tertentu, strategi bisa berubah jadi pelanggaran. Dan dominasi bisa berubah jadi masalah.
Pop Ice tetap jadi brand besar sampai sekarang.
Tapi cerita ini jadi pengingat:
bahkan brand besar pun pernah “salah langkah”
END.

Txt dari Kuliner@txtdrkuliner
Indonesia
ara retweetledi
ara retweetledi
ara retweetledi
ara retweetledi
ara retweetledi
ara retweetledi

Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.

Indonesia























