Azzam Mujahid Izzulhaq@AzzamIzzulhaq
"Bukankah Kita Tetap Bersaudara Walaupun Kita Tidak Bersepakat dalam Satu Masalah?" -Imam Syafi'i ra.
Satu ketika, Imam Muhammad ibn Idris Asy Syafi'i (w. 204 H) berdebat tajam dengan Abu Musa Yunus ibn Abdul A'la Ash Shadafi (w. 264 H), salah seorang muridnya yg kemudian menjadi ulama hadits dan ulama Syafi'iyah pada kurun waktu tersebut. Perdebatan hebat mereka berujung pada ketidaksepakatan, tidak menemukan titik persamaan. Sehingga keduanya tetap teguh dengan pendapatnya masing-masing. Bahkan diriwayatkan, Abu Musa Ash Shadafi sampai meninggalkan majelis dan pulang ke rumahnya dengan berdiri dan menampakkan wajah marahnya.
Setelah perdebatan sengit itu, pada malamnya Imam Syafi'i mendatangi rumah Abu Musa Ash Shadafi seraya mengetuk pintu.
"Siapa di depan pintu?" tanya Abu Musa Ash Shadafi.
"Muhammad ibn Idris", jawab Imam Syafi'i.
Mendengar jawaban itu, Abu Musa Ash Shadafi sejenak termenung memikirkan seluruh orang yg dikenalnya dengan nama Muhammad ibn Idris. Tidaklah ia mengenal yg lain kecuali adalah Imam Syafi'i, gurunya.
Ia kemudian membukakan pintu. Dan keduanya saling berpegangan tangan. Kemudian Imam Syafi'i berkata:
"Ya Aba Musa, ala yastaqimu an nakuna ikhwanan wa in lam nattafiq fi mas-alatin? Duhai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara meskipun kita tidak bersepakat dalam satu masalah?" tanya Imam Syafi'i retoris kepadanya.
"Duhai Yunus. Kita bersatu dalam ratusan masalah, lalu kita akan berpisah karena satu masalah saja?
Duhai Yunus. Janganlah engkau berusaha untuk senantiasa menang dalam seluruh masalah. Kita berdua menghidupkan kesamaan hati, itu lebih utama dari kesamaan sikap.
Duhai Yunus. Janganlah engkau robohkan jembatan yg telah engkau bangun dan engkau lewati, khawatirnya suatu hari nanti engkau akan membutuhkannya kembali.
Bencilah kesalahan, tapi jangan membenci pelakunya. Bencilah kemaksiatan dengan segenap hatimu, namun kasihanilah dan sayangi pelakunya.
Kritisi suatu pendapat, tapi tetap hormati dan muliakanlah orang yg menyatakannya. Karena tugasmu adalah membasmi penyakit, bukan membinasakan orang yang sakit," pesan Imam Syafi'i kepada Abu Musa Yunus Ash Shadafi.
Kisah ini hanya satu 'fragmen' di antara ribuan kisah para ulama terdahulu yg kualitas ilmunya jauh dibandingkan kita bahkan para ulama di zaman ini dalam menjaga adab ketika ber-ikhtilaf, berbeda pendapat. Bahkan, di zaman para sahabat Nabi saw pun lumrah terjadi perbedaan pendapat.
Suatu ketika Abdullah ibn Abbas ra berbeda pendapat dan berdebat serta berselisih tajam dengan Zaid ibn Tsabit ra. Sampai Ibnu Abbas ra berkata dengan nada tinggi: "Apakah Zaid ibn Tsabit dan orang-orang yg mengikutinya tidak takut kepada Allah?!"
Namun, walau pun begitu tajam perdebatan di antaranya tidak sedikit pun melunturkan adab dan ukhuwah di antara mereka.
Ketika Zaid ibn Tsabit menaiki bughal (hewan tunggangan yg jenisnya antara kuda dan keledai) di satu kesempatan, Abdullah ibn Abbas bersegera memegang tali kekangnya dari bawah seraya menuntunnya. Terkaget Zaid. Ia lantas mengungkapkan ketidakenakannya dengan bertanya: "Apa yg engkau lakukan duhai anak paman Rasulullah saw?"
"Beginilah kami diajarkan untuk memuliakan ulama kami", jawab Abdullah ibn Abbas ra.
Tak lama berselang, Zaid ibn Tsabit ra pun turun dari tunggannya itu. Ia meminta kepada Abdullah ibn Abbas ra: "Ulurkan tanganmu wahai anak paman Rasulullah saw."
Saat Abdullah ibn Abbas ra mengulurkan tangannya, Zaid ibn Tsabit ra bersegera meraihnya dan mencium tangan Abdullah ibn Abbas dengan ta'zhim-nya.
"Apa yg engkau lakukan duhai Zaid?" tanya Abdullah ibn Abbas ra.
"Beginilah kami diajarkan untuk memuliakan keluarga Rasulullah saw," jawab Zaid ibn Tsabit ra.
Ibnu Tamiyah menjelaskan, "Sungguh para salaf dahulu telah melakukan kekeliruan dalam masalah-masalah ini. Namun, mereka bersepakat tidak mengkafirkan satu sama lainnya."
Ah, indahnya. Sungguh pantas ketika keindahan persatuan dan persaudaraan itu kemudian menjadi sebuah kekuatan besar hingga Allah ridha kepada mereka. Yg dengan keridhaan-Nya itulah kemudian kaum Muslimin pada zamannya mendapatkan kejayaan, memimpin peradaban dunia.
Hari ini? Ada apa dengan hari ini? Mau sampai kapan kita begini? Bukankah kita masih bersaudara?
Keterpecahan kita yg dipertontonkan ke khalayak ramai demi Allah tidak sedikit pun menguatkan. Sebaliknya, melemahkan. Mereka yg tidak suka dengan Islam dan kaum Musliminnya tertawa gembira. Bertepuk tangan bersuka ria. Karena mereka tidak perlu berupaya sekuat tenaga mengalahkan kita. Kita sendirilah yg telah 'bunuh diri' secara terbuka di hadapan mereka.
Nastaghfirullahal 'azhim. Kami memohon ampun kepada-Mu ya Allah Nan Maha Agung...
Allahumma allif baina qulubina wa ashlih dzata bainina wahdina subulassalam. Duhai Allah satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami dan tunjukkanlah kepada kami jalan keselamatan...
Bahan bacaan:
1. Siyar A'lam An Nubala, Imam Adz Dzahabi
2. Adab Ikhtilaf, Ibnu Taimiyah
3. Irsyadul Mu'minin, Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari