fsalmaaa

5.9K posts

fsalmaaa banner
fsalmaaa

fsalmaaa

@masalmaaa

Bandung, Indonesia Katılım Ağustos 2011
274 Takip Edilen119 Takipçiler
fsalmaaa retweetledi
Giri Kuncoro
Giri Kuncoro@girikuncoro·
Sesuai arahan pak presiden, kalau ada yang mau referral, feel free to DM interested roles sama one liner what exceptional works you have done. Preferably London/Tokyo office, supaya bisa kerja bareng, dan ngurus visa lebih mudah. Akan lebih selektif untuk ngasih referral kali ini, dari 20 referrals anak Indo yang disubmit kemarin, belum ada yang berhasil sampai offering, 4 sampai final round, mayoritas belum berhasil di 15 mins screening round, dan 1 no show (tidak hadir saat jadwal interview - very unprofessional). Gojek/Traveloka masih sekolah engineering terbaik saat ini di Indonesia, melihat proses interview kemarin. I would advise to "study" here first, to build strong resume, grinding technical skills, and professionalism. x.ai/london
CNN Indonesia@CNNIndonesia

Prabowo Kembali Sindir Indonesia Gelap: Kalau Mau Kabur, Kabur Aja! cnnindonesia.com/nasional/20260…

Indonesia
68
609
2.8K
142.2K
fsalmaaa retweetledi
Indonesian Pop Base
Indonesian Pop Base@iPopBase·
Prabowo says “smart” people are free to leave if they believe the nation is moving toward a “dark age”: “Matanya buram, Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur, kabur saja. Kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman. Silakan. Mau kabur ke mana. Hei orang-orang pintar, bukalah berita, lihatlah kita ditempatkan sebagai tempat yang paling aman di dunia sekarang. Kabur saja deh. Iya, kabur saja, biar kita enggak gaduh.” (nasional.kompas.com/read/2026/04/2…)
Indonesian Pop Base tweet media
Indonesia
1.9K
2.9K
15.5K
1.2M
fsalmaaa retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Prof. Feri Latuhihin ekonom yang sudah setahun lalu memprediksi dolar akan tembus Rp17.000 ketika belum ada yang percaya baru bicara lagi. Dan kali ini lebih keras, lebih konkret, dan lebih mengerikan dari sebelumnya. Gue mau rangkum dan kritisi semuanya termasuk pertanyaan yang menurut gue paling penting: para ekonom sudah kasih saran, tapi apakah pemimpinnya mau dengar? Atau yang kasih saran justru akan disebut antek antek asing? Prediksi yang sudah terbukti dan peringatan baru yang lebih keras: Setahun lalu Feri bilang dolar akan tembus Rp17.000. Banyak yang tidak percaya. Sekarang dolar sudah di Rp17.300. Sekarang dia memperingatkan skenario yang jauh lebih buruk: dolar bisa tembus Rp25.000 kalau kondisi fiskal tidak segera dibenahi. Bukan angka yang dia lempar sembarangan. Dia punya hitungan. Soal angka pertumbuhan ekonomi dan ini yang paling mengejutkan: Purbaya marah-marah ke World Bank karena World Bank bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7%. Purbaya klaim angkanya jauh lebih tinggi dari itu. Feri bilang sesuatu yang sangat mengejutkan: "Saya bilang 4,7% sudah bagus. Kalau menurut saya bisa 0%." Kenapa? Karena ketika Feri cross check angka pertumbuhan 5,11% versi BPS dengan indikator lain khususnya pertumbuhan kredit perbankan angkanya tidak cocok. Untuk mencapai pertumbuhan 5,11% kredit perbankan harusnya tumbuh minimal 11%. Kenyataannya: kredit tumbuh di bawah 8%. Feri perkirakan pertumbuhan riilnya mungkin di sekitar 4% saja. Dan Moody's serta Fitch sudah men-downgrade outlook ekonomi Indonesia dari stable menjadi negatif. Artinya lembaga rating internasional pun tidak percaya dengan angka yang pemerintah klaim. Soal defisit APBN dan ini yang paling mengkhawatirkan: Feri memaparkan data yang sangat konkret: Defisit APBN Januari: Rp35 triliun.Defisit Februari: Rp135 triliun.Defisit Maret: Rp240 triliun. Kalau dianualisasi secara linear defisit sudah setara 3,72% dari GDP melampaui batas 3% yang menjadi patokan fiskal. Dan di saat yang sama harga minyak dunia naik karena perang. Subsidi BBM membengkak. Inflasi berpotensi double digit. Jatuh tempo utang tahun ini saja sekitar Rp888 triliun ditambah bunga Rp99 triliun. Itulah mengapa Feri menduga dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot Purbaya kemungkinan memang tidak setuju dengan arah kebijakan bukan karena sabotase sembarangan, tapi karena mereka melihat angka-angka yang tidak memungkinkan untuk terus mempertahankan spending sebesar sekarang. Soal MBG dan ini yang paling tegas: Feri mengucapkan sesuatu yang menurut gue perlu didengar keras-keras oleh siapapun yang masih berargumen bahwa MBG adalah investasi: "Mohon dikasih tahu kepada Pak Presiden bahwa kalau MBG itu dianggap investasi itu bohong besar." Investasi yang sesungguhnya adalah infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan. Atau investasi non-fisik yang menghasilkan produktivitas jangka panjang: pendidikan dan riset dan pengembangan. Makan siang bukan investasi. Makan siang adalah konsumsi. Dan konsumsi yang dibiayai utang itu bukan membangun masa depan. Itu memakan masa depan. Feri menghitung bahwa untuk MBG yang benar-benar targeted ke yang membutuhkan cukup Rp10 triliun per tahun. Bukan Rp335 triliun. Dan sisa Rp325 triliun itu seharusnya bisa jadi buffer fiskal atau dialokasikan ke investasi yang benar-benar menghasilkan produktivitas jangka panjang. Soal class menengah yang semakin tergerus: Dari 57 juta kelas menengah di 2019 sekarang tinggal 47 juta. Turun 10 juta orang dalam kurang dari 10 tahun. Dan tabungan rata-rata kelas menengah yang dulu Rp3 juta per orang sekarang sudah mendekati nol. Mereka tidak lagi makan tabungan. Mereka sudah mulai makan hutang. Dan Feri menyebut satu indikator yang sangat mengkhawatirkan: omset pegadaian sedang melonjak luar biasa. Ketika orang menggadaikan barang untuk kebutuhan sehari-hari — itu bukan tanda ekonomi yang baik-baik saja. Soal BI yang tidak bisa berbuat apa-apa: Feri menjelaskan dilema yang sangat real yang sedang dihadapi Bank Indonesia: Kalau suku bunga dinaikkan untuk melawan inflasi dan menjaga rupiah ekonomi yang sudah lemah akan tambah terbebani. Kredit macet naik. Investasi turun lebih dalam. Kalau suku bunga diturunkan rupiah makin melemah dan inflasi makin tidak terkendali. "BI tidak bisa melakukan apa-apa. Naikkin salah, nurunin salah." Dan intervensi di pasar valas untuk menjaga rupiah cadangan devisa tidak tanpa batas. Kalau outlook ekonominya memang buruk intervensi itu seperti menggarami lautan. Soal komentar terhadap Purbaya dan ini yang paling kontroversial: Feri mengucapkan sesuatu yang sangat bold: bahwa menurut dia Purbaya tidak paham soal ekonomi. Contoh yang dia berikan: ketika perbankan mengalami undisbursed loan kredit yang sudah disetujui tapi belum dicairkan senilai Rp2.735 triliun, Purbaya justru mengucurkan tambahan dana dari BI sebesar Rp227 triliun. Logika Feri: kalau bank sudah kelebihan likuiditas yang tidak bisa disalurkan menambah likuiditas lagi adalah seperti menuangkan air ke ember yang sudah penuh. Itu bukan solusi masalah kredit. Itu memperburuk excess liquidity yang justru bisa memperlemah rupiah lebih jauh. Gue tidak akan menghakimi apakah Feri 100% benar soal ini. T api pertanyaan teknisnya valid dan layak dijawab secara publik oleh Kemenkeu. Dan inilah pertanyaan yang paling fundamental: Para ekonom Feri Latuhihin, Mahfud MD, Feri Amsari, berbagai pengamat lain sudah memberikan saran yang konkret, berbasis data, dan bisa diverifikasi. Saran yang konsisten: rasionalisasi MBG, ramping kabinet, perbaiki kepastian regulasi, prioritaskan investasi produktif, jaga fiskal dari defisit yang melebar. Dan apa respons dari lingkaran pemerintah? Orang yang kritik MBG disebut tidak nasionalis. Orang yang mempertanyakan kebijakan ekonomi disebut tidak mendukung presiden. Dan siapapun yang mengutip data dari lembaga internasional seperti World Bank atau IMF bisa dengan mudah diberi label antek asing. Dari nonblok menjadi goblok kata Feri mengutip kritik terhadap kebijakan luar negeri. Dan label yang sama bisa dikenakan pada kebijakan ekonomi: dari mendengar para ahli menjadi memusuhi para ahli. Indonesia punya banyak ekonom yang kompeten. Punya data yang bisa dibaca. Punya pengalaman sejarah termasuk bagaimana Habibie menyelamatkan ekonomi di 1998 dengan tiga langkah berani yang gue sudah bahas sebelumnya. Yang kurang bukan nasihatnya. Yang kurang adalah keberanian untuk mendengar nasihat yang tidak menyenangkan dan keberanian untuk mengambil keputusan yang menyakitkan jangka pendek demi kepentingan rakyat jangka panjang. Dan selama nasihat para ekonom direspons dengan label "antek asing" sementara rupiah terus melemah, defisit terus membesar, dan kelas menengah terus tergerus Kita semua yang menanggung akibatnya. Bukan para pejabatnya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
120
1.2K
2.4K
255.1K
fsalmaaa retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Berduka mendalam mendengar kabar kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Menurut informasi terakhir, peristiwa ini telah merenggut 14 nyawa dan melukai puluhan korban lainnya. Sesak rasanya mendengar keterangan Basarnas bahwa seluruh korban yang dievakuasi adalah perempuan, terlebih saat membaca kesaksian dari mereka yang mengenal para korban. Semoga para korban yang gugur diterima di sisi terbaik Allah SWT, keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, serta para korban luka segera dipulihkan kesehatannya. Dalam situasi seperti ini, prioritas pertama tentu evakuasi, penyelamatan, serta penanganan para korban. Mari kita berikan apresiasi dan dukungan kepada para petugas yang bekerja di lokasi kejadian, mulai dari tim SAR gabungan, kepolisian, petugas KAI, aparat Pemda setempat, hingga tenaga kesehatan di rumah sakit yang menangani para korban. Semoga mereka semua diberi kekuatan untuk bekerja lugas dan tuntas, sehingga beban para korban beserta keluarga bisa terus berkurang. Prioritas berikutnya, operasional stasiun dan lintasan perlu segera berangsur normal agar warga lain yang harus menjalani aktivitas hariannya tidak ikut terganggu. Apresiasi dan dukungan kembali kita sampaikan kepada semua pihak yang bekerja keras memulihkan layanan publik, baik jajaran KAI, aparat Pemkot Bekasi dan pemerintah pusat yang turun menangani. Juga Pemda sekitar dan pihak-pihak lain yang ikut membantu, seperti TransJakarta yang telah menyediakan shuttle tambahan sebagai pengganti layanan kereta yang terhambat pun patut mendapat apresiasi yang sama. Terakhir, mungkin yang terpenting, semoga peristiwa ini bisa diinvestigasi dan dievaluasi secara menyeluruh. Bukan untuk mencari siapa yang paling salah, karena tidak ada satu pun pihak yang menghendaki kecelakaan ini terjadi. Evaluasi menyeluruh diperlukan agar peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari, baik di Bekasi maupun di daerah lain. Banyak hal yang masih bisa diperbaiki, mulai dari praktik internal armada taksi, pengelolaan perlintasan tidak resmi oleh Pemda, hingga sistem peringatan dini yang lebih efektif bagi kereta terhadap gangguan pada lintasan. Kita bisa belajar dari industri penerbangan dunia yang konsisten melakukan evaluasi menyeluruh terhadap setiap kecelakaan, lalu menjadikan hasilnya sebagai bahan perbaikan standar yang berlaku global. Kecelakaan ini terlalu mahal harganya untuk tidak menjadi pelajaran bagi perbaikan ke depan. Mari sama-sama mendoakan para korban beserta keluarganya, sekaligus memberi dukungan kepada para aparat yang sedang menuntaskan penanganan. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Narasi Newsroom@NarasiNewsroom

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyampaikan berdasarkan data terbaru hingga pukul 08.45 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia akibat insiden tabrakan antara kereta Commuter Line dan kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4/2026) malam. “14 meninggal dunia, 84 korban luka, proses penanganan masih berlangsung,” kata Bobby dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/4/2026). Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat. Imbas insiden tabrakan tersebut, untuk sementara waktu, Stasiun Bekasi Timur belum melayani naik dan turun penumpang. Perjalanan KRL dilayani hingga Stasiun Bekasi, sementara jalur hilir telah dibuka untuk operasional kereta api dengan pengaturan terbatas. | Narasi Daily

Indonesia
116
8.3K
37.9K
444.7K
fsalmaaa retweetledi
TxtdariUGM
TxtdariUGM@Txtdariiugm·
Ada tulisan menarik di buku psychology of money yg akhirnya bikin saya stop dikit-dikit self reward dan belanja barang lucu gak penting tapi overpriced. Sesederhana bisa bedain “wealth” sama “rich” Banyak orang pengen jadi “rich” karena itu yg paling gampang dilihat dan menghasilkan validasi. Mobil mewah, rumah mewah, gadget terbaru, baju branded, aksesories viral, dll. Sementara wealth ga terlihat. Rasa tenang dan aman, freedom, punya pilihan, stabil. Bisa nolak kalo kerjaan ga cocok, ga panik kalo income tiba-tiba berhenti, ga hidup dr gaji ke gaji, punya ruang buat milih, dll. Orang wealthy duitnya ada tapi mereka milih buat ga belanja kayak orang “rich”. Entah diputer, disimpan atau diinvest, mereka akan bangun sistem supaya duit tetap ada tanpa harus kerja yg gimana gimana. Kalo ditanya mana yg lebih kaya pasti semua milih yg “rich” 😂 Padahal bisa nolak kalo kerjaan ga cocok itu mewah banget, butuh duit sm stabilitas buat bisa lakuin itu. Orang wealthy ga ngejar impresi, dibilang miskin juga iya iya aja kayaknya
Khanif Irsyad@khanifirsyad

Mari normalisasikan untuk mengutamakan fungsi, bukan gengsi: • Pakai pakaian yg itu2 aja gapapa • Gak beli barang branded pun gapapa, selama masih layak dipakai • Makan di warteg, warung kaki lima, atau bahkan masak sendiri pun gapapa • Naik motor, naik angkot, atau transum gapapa • Pakai HP yg udah 2–3 tahun pun gapapa, selama masih lancar buat komunikasi dan kerja • Liburan ke tempat deket/staycation di rumah gapapa, yg penting bisa quality time Belajar jg untuk jadi orang yg gak penting, orang lain gak sepeduli itu sama kita

Indonesia
33
1.3K
6K
186K
fsalmaaa retweetledi
Tubagus Siswadi W
Tubagus Siswadi W@tb_siswadi·
Jadi.. selama 10 tahun terakhir, cara parenting yang katanya "lembut dan baik" itu TERNYATA gagal total. Iya, gagal. Penelitian di tahun 2025 di Amerika menunjukan: keluarga yang pake aturan tegas—jam malam nggak bisa ditawar, batasan gadget jelas PUNYA HUBUNGAN SAMA ANAKNYA JAUH LEBIH BAIK.
Tubagus Siswadi W tweet media
Bardan - Digital Marketer@bardanslm

gaes menurutmu orang tua yg keras akan menghasilkan anak2 yg lebih sukses gak??? kalau orang tuamu tipe yg kata2nya harus dituruti apa tipe yg santai dan terbuka untuk diskusi??

Indonesia
192
3.9K
12.4K
1M
fsalmaaa retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
418
20.8K
51.6K
1.3M
fsalmaaa retweetledi
Recehin Aja
Recehin Aja@RecehinAjaid·
Recehin Aja tweet media
ZXX
136
12.1K
32.3K
372.7K
fsalmaaa retweetledi
Araa .☘︎ ݁˖
Araa .☘︎ ݁˖@awharaa·
jadi pinter itu bisa dipelajarin, literally semua orang bisa kejar knowledge, intelligence, bahkan experience. tapi “jadi manusia yang bener” itu beda level. gak semua orang punya awareness buat respect orang lain dan bersikap proper. makanya adab itu always di atas ilmu. karena akhirnya yang dilihat bukan cuma kamu tau apa, tapi kamu treat orang lain kayak apa.
Indonesia
149
7.8K
21.8K
292.5K
fsalmaaa
fsalmaaa@masalmaaa·
W kira bakal di cancel wfc nya, udah seneng padahal…
Indonesia
0
0
0
15
fsalmaaa retweetledi
Alejandra
Alejandra@AlejandraM78461·
Al CASARSE, una MUJER debe vivir mejor de lo que vivía sola. Nunca PEOR.
Español
400
8.9K
47.7K
839.4K
fsalmaaa retweetledi
ℕ
@Ahmaadnajib·
Sebenarnya, anak-anak yang "jago bohong" dari strict parents itu sedang mempraktikkan cara bertahan hidup paling dasar. Dalam psikologi, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang muncul ketika kejujuran tidak lagi menawarkan rasa aman, melainkan ancaman hukuman. Saat ruang untuk berbuat salah ditutup rapat, otak anak otomatis beralih ke mode survival. Ayo kita bahas:
kur karampruy@babynaatu

setuju ga sama statement “strict parents melahirkan anak anak yg suka bohong”

Indonesia
85
5.4K
20.1K
1.3M
fsalmaaa retweetledi
Bagas Naufal Insani
Bagas Naufal Insani@BagasN7·
"Dunia proffesional gak butuh empaty" Let me tell you one thing: Empati itu salah satu hal penting yg menyusun level professionalism seseorang. Karena kerja itu bukan cuma soal skill & output, tapi juga soal gimana kita berinteraksi sama manusia lain. • Tau kapan harus nge-push, kapan harus kasih ruang • Ngerti kalo performa orang bisa turun bukan karena males, tapi karena ada hal lain • Bisa deliver feedback tanpa ngejatuhin Orang yg "terlalu kaku" dan cuma fokus ke hasil, seringkali keliatan profesional di awal. Tapi untuk jangka panjang, malah bikin tim cepet burnout, komunikasi kacau, dan trust hilang.
BingBong@bingchillin489

@BagasN7 gwa gak ada centang biru gwa gak farming elon buck jadi yah bebas bebas aja kok. dunia proffesional gak butuh empaty yang penting profit, arr, pnl is king culture empaty bikin indonesia gak maju.

Indonesia
16
560
1.8K
51.5K
fsalmaaa retweetledi
Dhaval Makwana
Dhaval Makwana@heyDhavall·
Instead of watching Netflix tonight, watch this 2-hour Stanford lecture. You’ll learn more about how ChatGPT, Claude, and other LLMs are built than most people at top AI companies learn in years.
English
77
2.3K
13.9K
1.8M