
Mechanicrafted
1.3K posts

Mechanicrafted retweetledi

My dear front-end developers (and anyone who’s interested in the future of interfaces):
I have crawled through depths of hell to bring you, for the foreseeable years, one of the more important foundational pieces of UI engineering (if not in implementation then certainly at least in concept):
Fast, accurate and comprehensive userland text measurement algorithm in pure TypeScript, usable for laying out entire web pages without CSS, bypassing DOM measurements and reflow
English
Mechanicrafted retweetledi

Kita harus berhenti mereduksi Keluarga Cemara (1996) cuma sebagai tontonan "romantisasi keluarga miskin tapi harmonis" atau poverty porn. karya Arswendo ini sebenarnya adalah antitesis dan kritik struktural terhadap hegemoni Keluarga Cendana di era Orde Baru.
Banyak yg gagal paham dan mengira kemiskinan Abah itu diglorifikasi. Padahal, narasi awalnya sangat politis. Abah dulunya pengusaha sukses yg bangkrut karena ditipu rekan bisnisnya. Di era 90-an yg penuh kroniisme dan KKN, hukum itu tumpul. Abah adalah representasi kelas menengah yg dihancurkan oleh sistem yg korup. Kemiskinan keluarga ini bukan "takdir romantis", melainkan korban struktural.
Lalu, lihat permainan Oposisi Biner pada namanya: Cendana vs Cemara.
Cendana itu eksklusif, mahal, dan wangi—metafora absolut buat oligarki dan sentralisasi kekayaan elit penguasa saat itu. Sementara Cemara (Pine tree) itu daunnya tajam, bisa tumbuh di tanah tandus pinggiran, dan tahan dihantam badai. Cemara adalah simbol resiliensi kelas pekerja (working class).
Yg bikin sinetron ini aslinya sangat radikal adalah sikap Abah. Setelah bangkrut, dia bisa aja menjilat penguasa atau main kotor (survival of the fittest ala Orba) buat kaya lagi. Tapi dia memilih turun kelas jadi tukang becak. bukan kepasrahan yg melankolis, ini adalah penolakan secara sadar. Abah menolak berpartisipasi dalam sistem kapitalisme rakus yg nir-moral. Dia lebih milih miskin secara finansial daripada harus mengorbankan integritasnya.
Bahkan lirik legendaris "Harta yang paling berharga adalah keluarga" itu bukan sekadar lirik sedih buat ngehibur orang miskin. Itu adalah tamparan ideologis buat Keluarga Cendana yg saat itu sibuk memonopoli proyek negara dan menumpuk kapital. Arswendo mendekonstruksi metrik kesuksesan Orde Baru (Bapak Pembangunan): bahwa martabat dan kewarasan manusia itu gak bisa dibeli oleh negara.
Jadi, Keluarga Cemara itu bukan ngajarin kita buat nrimo dan pasrah jadi miskin. karya ini adalah manifesto kultural tentang bagaimana menjaga integritas dan kewarasan di tengah negara yg sedang dirampok oleh elitnya sendiri.


Penikmat Keributan X@uzy__
Cewek cewek feminisme mending dipamerin keluarga cemara atau ngga harmonic relationship Biar makin marah marah dia WKWKWKWKKW
Indonesia
Mechanicrafted retweetledi

Semua orang tau presiden Iran itu dokter bedah jantung. Tapi tau gak kalau Wapres Iran itu punya gelar PhD di bidang electrical and communication engineering?
Thesisnya sampe dikenal dengan istilah "Aref Theory". Edan bener.
When yh punya wapres dengan CV segunung gini....

Mojtaba Arbelei 🇵🇸 ⚽@akunbolabola
@mhuseinali Tapi serius Iran ini keren banget masalah HDI, apa motivasinya ya 🤔
Indonesia
Mechanicrafted retweetledi
Mechanicrafted retweetledi

Ini kasus yang ngga sesederhana "males" atau "nggak niat". Empat tahun mandek dengan data yang sudah ada, tantrum kalau ditanya progress, dan pola nyalahin dosen yang ternyata bukan akar masalahnya... ini lebih mirip gejala seseorang yang sedang stuck secara psikologis, bukan akademis.
I've seen similar pattern on my circle of friend during my theses writing. Data udah lengkap, dosen udah oke, tapi yang bersangkutan kayak lumpuh tiap kali mau buka laptop untuk nulis.
Itu bukan malas biasa. Itu bisa jadi campur aduk antara takut gagal, takut di-judge, dan makin lama makin malu karena sadar diri sudah kelamaan.
Jadi bukannya maju, malah makin menghindar. Lingkaran setan.
Tapi saya juga nggak mau romantisasi hal beginian. Ada titik di mana empati keluarga perlu diimbangi dengan kejujuran. Kalau memang DO sudah di depan mata, mungkin justru itu momentum yang dia butuhkan untuk berhenti lari.
Kadang seseorang baru bisa jujur sama diri sendiri, kalau sudah nggak ada lagi tempat sembunyi.
Yang bikin saya mikir, reaksi tantrumnya itu. Kalau setiap ditanya langsung defensif, kemungkinan besar dia sendiri tahu ada yang salah tapi belum siap menghadapinya.
Menurut saya pribady anxiety-nya udah cukup parah dan bentuknya bukan panik, melainkan diam dan menghindari.
Mungkin yang perlu dicoba bukan lagi nanya "gimana skripsinya?" tapi duduk bareng dan tanya "kamu baik-baik aja nggak?"
Mungkin akan beda efeknya. Semangat yah nder 🤍🤍🤍
Indonesia

@mysanctuarium @fraviato Max itu yg kutangkep semua perbedaan dirangkul, ga jarang setelah roasting dia balikin lg
Kyak mbak2 yg slalu beli tiket utk almarhum ayahnya (kursi kosong front row) dibilang wasting money tp ujungnya dibilang bapaknya pasti bangga di surga slalu dibeliin tiket stand-up
Indonesia
Mechanicrafted retweetledi

@tanmalaweung @ikhwanuddin Baru tadi pagi banget lewat shortnya wkwkw
Indonesia

Mechanicrafted retweetledi
Mechanicrafted retweetledi

@imberuangmadu @baseconvo Iya istilahnya appstinent, kemarin kebetulan baca berita soal fenomena ini
cnbc.com/2026/03/10/a-2…
Indonesia

@baseconvo Bener, saudaraku di Belanda malah bilang kalo di sana pada prefer baca buku daripada scrolling seharian buat ngabisin waktu. Selain itu, masak atau jalan-jalan. Abis kerja, ya tidur istirahat gitu. No doom scrolling
Indonesia
Mechanicrafted retweetledi
Mechanicrafted retweetledi
Mechanicrafted retweetledi

@kamentrader Bg Pras apa aja yang berhubungan sama teori evolusi sama antropologi masi ada ga yaa? :)
Indonesia
Mechanicrafted retweetledi

Di rumah kayaknya udah lebih dari 1100an buku. Gw stop ngedata ketika jumlahnya dulu 800an.
Mau ngurangin jadi sekitar 500an aja. Sekarang justru mau bagi buku2 yg udah selesai gw baca.
Tapi ya gitu, ada yg ketekuk, kertasnya kusam, gw corat2 coret. Masih ada yg mau ga ya?
Hannah Ward 👩🏻🏫 Mom (x3) | Learning Designer@HannahWardEdu
How does your home library stack up? In 2023 YouGov surveyed 29,000 Americans to see how many books they have in their homes. The results were disappointing to say the least. - 0 books: 9% (no books AT ALL) - 1–10 books: 20% - 11–25 books: 14% - 26–50 books: 13% - 51–100 books: 12% - 101–200 books: 10% - 201–500 books: 7% - 501–1,000 books: 4% - More than 1,000 books: 3%
Indonesia
Mechanicrafted retweetledi
Mechanicrafted retweetledi















