Beggar
536 posts

Beggar retweetledi

Gangguan Jiwa dan Risiko Bunuh Diri, Apa Kata Riset?
Gangguan jiwa secara konsisten terbukti meningkatkan risiko bunuh diri secara signifikan.
Menurut riset yang diterbitkan di PMC/NIH, setidaknya 90% orang yang meninggal akibat bunuh diri diketahui pernah mengalami gangguan jiwa, dengan depresi sebagai yang paling berisiko.
Sebuah systematic review di ScienceDirect (2021) menemukan bahwa seluruh jenis gangguan jiwa merupakan prediktor signifikan bunuh diri, dengan depresi mayor mencatat risiko relatif tertinggi hingga 7,64 kali lipat dibanding populasi umum.
Studi di Psychiatric Services mempertegas bahwa risiko bunuh diri tertinggi ada pada penderita bipolar disorder, gangguan depresi, dan skizofrenia.
KucingTidur1945@TempeMenjes12
@KalanaraDika @Ahmadso15 Orang kalau ngga berakal ngga akan kepikirian mau bundir harus di cangar dulu 😁✌️
Indonesia
Beggar retweetledi

Gak semua proses harus di umumin, dan gak semua luka harus diceritakan. Kadang perubahan paling besar, justru datang dari yg paling sepi. Buat kamu yg lagi belajar jadi versi diri yg lebih baik, meski terlihat seperti gak ada yg lihat, percayalah ada yg diam-diam memperhatikan dan bangga sama kamu.
Indonesia
Beggar retweetledi

Kadang kita terlalu sibuk melihat kekurangan diri sendiri sampai lupa kalau keberadaan kita ternyata berarti untuk banyak orang. Ada masa di mana kita merasa tidak cukup baik, tidak pantas dicintai, tidak layak berada di samping siapa pun. Kita meragukan diri sendiri, membandingkan hidup dengan orang lain, lalu tanpa sadar menilai diri lebih rendah dari yang seharusnya.
Indonesia
Beggar retweetledi

Gue baru tahu kalo ternyata cahaya matahari ternyata bisa punya manfaat terhadap gangguan mental
Jadi ada penelitian yang melibatkan lebih dari 80 ribu orang dewasa yang menggunakan sensor accelerometer di pergelangan tangan untuk mengukur paparan cahaya secara objektif selama 7 hari.
Nah pas baca hasilnya gue jujur cukup amaze, karena gak nyangka kalo 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗽𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗰𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝘀𝗶𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗿𝗶 (𝗱𝗮𝘆𝗹𝗶𝗴𝗵𝘁 𝗲𝘅𝗽𝗼𝘀𝘂𝗿𝗲), 𝗺𝗮𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗮𝘀𝗼𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗿𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼 𝗴𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝗹 𝗯𝗲𝗿𝗮𝘁.
Secara spesifik, orang-orang yang mendapat cahaya matahari siang lebih banyak punya risiko lebih rendah untuk terjadinya:
-Major Depressive Disorder (depresi berat)
-PTSD (gangguan stres pasca-trauma)
-Psikosis
-Self-harm (perilaku menyakiti diri)
Mekanismenya adalah cahaya matahari membantu mengatur ritme sirkadian tubuh kita. Ia membantu otak dan tubuh tahu kapan harus waspada, kapan harus istirahat, mengatur hormon kortisol di pagi hari (yang sehat), dan membuat kita lebih siap menghadapi stress sehari-hari.
Cahaya matahari, terutama saat pagi hari, diketahui dapat mengaktifkan sel-sel khusus di retina mata yang mengirim sinyal ke otak untuk menyesuaikan jam internal. Efeknya adalah tidur menjadi lebih baik, mood lebih stabil, energi lebih terjaga, dan risiko depresi turun hingga 20% di kelompok dengan paparan cahaya siang tertinggi
Semoga bermanfaat!
Nicholas Fabiano, MD@NTFabiano
Greater daylight exposure is associated with a reduced risk of mental disorders. Sunlight is the most underrated antidepressant.
Indonesia
Beggar retweetledi
Beggar retweetledi

@SistersInDanger @mixtoxk Pagi Kakak-kakak, salah satu rekan yang cukup memahami isu gender ada rekan Psikologku namanya Virginia Hanny, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Saat ini praktik di Personal Growth setahuku. Lebih lengkapnya bisa cari di websitenya langsung ya.
Indonesia

Biaya konseling itu sangat mahal. Belum lagi, hanya sebagian kecil dari tenaga konseling yg ramah terhadap "lgbt"
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger
Jika kamu laki-laki, pernah berbuat atau berniat melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan, baik secara emosional, fisik atau seksual, segeralah mencari bantuan dari tenaga profesional. Kunjungi lembaga layanan yang menyediakan konseling untuk laki-laki 🙏💜
Indonesia
Beggar retweetledi

Beggar retweetledi

SUMPAH MARAH BANGET!!!
"𝗔𝗯𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗷𝗮, 𝘃𝗶𝗿𝘂𝘀 𝗛𝗜𝗩 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮, 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗿𝗮𝗰𝘂𝗻𝗶𝗻 𝗷𝗮𝗻𝗶𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗥𝗩" adalah salah satu misinformasi paling berbahaya yang pernah gue temui.
Bayangin kalo ada ibu hamil dengan HIV mendengar atau membaca informasi itu, maka ia membahayakan janinnya. Menurut gue urusannya udah BUKAN soal opini, tapi soal nyawa.
Maaf kalo gue ulang-ulang terus.
𝗩𝗶𝗿𝘂𝘀 𝗛𝗜𝗩 𝗶𝗻𝗶 𝗔𝗗𝗔. HIV sudah diisolasi, dikarakterisasi, dan dipelajari secara ekstensif oleh banyak sekali ahli sejak 1983. Banyak banget paper peer-reviewed yang mengonfirmasi eksistensinya, termasuk gambar mikroskop elektron, analisis genomik, dan uji klinis yang merekrut ratusan ribu pasien di seluruh dunia.
Data menunjukkan bahwa tanpa intervensi APAPUN, termasuk ARV, risiko penularan HIV dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, dan menyusui berkisar antara 15–45%. Artinya, sekitar satu dari tiga bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif tanpa pengobatan, bisa terinfeksi HIV.
𝗡𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗹𝗼 𝗽𝗮𝗸𝗲 𝗔𝗥𝗩, 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗔𝗡𝗚𝗔𝗧 𝗠𝗘𝗡𝗨𝗥𝗨𝗡. ARV bisa menekan angka penularan dari ibu hamil ke janin hingga di bawah 5%, bahkan mendekati 1–2% di setting ideal. Selain itu tentunya ada berbagai metode lain untuk menurunkan risiko penularan dari ibu hamil ke bayi, antara lain dengan opsi caesar, hingga pemberian ARV profilaksis.
Pada ibu hamil, manfaat ARV dalam mencegah infeksi HIV jauh lebih besar daripada risikonya.
Panduan dari WHO, NIH, dan semua guideline klinis major secara tegas merekomendasikan inisiasi ART pada semua ibu hamil HIV positif tanpa memandang viral load atau CD4 count, karena manfaatnya untuk ibu dan bayi sudah terbukti.
𝗣𝗘𝗦𝗔𝗡 𝗣𝗘𝗡𝗧𝗜𝗡𝗚
Ibu yang menangis sambil bertanya "saya reaktif HIV" itu tidak butuh dibilangin "abaikan saja". Ia lebih butuh dirujuk ke dokter, mendapat konseling, dan jika konfirmasi positif, segera mendapat ARV.
Respons yang tepat di sana bisa menyelamatkan dua nyawa, yaitu ibu dan bayi.
Jadi, wajar kan gue MARAH PAKE BANGET?!!!

Indonesia

nope, semoga tidak ada lagi anak yang terlahir queer. menjadi seorang queer sangat melelahkan
tife⭐@heytife
i pray no queer child is born into a homophobic family. 🙏🏻
Indonesia
Beggar retweetledi

Beggar retweetledi











