fillainart@fillainart
Beberapa waktu yang lalu, aku pernah bilang bahwa salah satu kelemahan film Indonesia adalah “too much telling, so little showing”. Namun, apakah “show don’t tell” ini mutlak berlaku di segala situasi?
Jawabannya tentu tidak. Ada salah satu topik krusial di mana sebaiknya filmmaker menggunakan “tell don’t show”, yaitu topik kekerasan seksual (KS).
Ada dua film yang langsung terbersit ketika membicarakan ini, yaitu Spotlight (2015) dan Sorry, Baby (2025).
Dalam film Spotlight, trauma para korban KS disampaikan melalui dialog dengan jurnalis, tanpa perlu satu pun adegan flashback yang memvisualisasikan kejadiannya.
Dalam film Sorry, Baby, ketika Agnes (Eva Victor) mengalami KS oleh dosennya, kamera hanya menyorot diam dari luar rumah dosen tersebut. Transisi malam harinya memperlihatkan Agnes keluar terburu-buru dengan raut wajah kalut. Tanpa adegan eksplisit, penonton langsung memahami bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Agnes. Penegasan peristiwa itu kemudian disampaikan melalui cerita kepada sahabatnya, Lydie (Naomi Ackie), dan dokter saat mengambil visum. Sekali lagi, nihil visualisasi KS.
Pada dasarnya, medium film cenderung mengglorifikasi apa pun yang masuk ke dalam frame. Sayangnya, ini berlaku juga untuk adegan KS. Meskipun filmmaker berniat untuk menyebarkan awareness, memvisualisasikan KS seringkali berakhir menjadi sensasionalisme, eksploitasi, dan bahkan erotisasi.
Ada justifikasi keliru yang merasa KS perlu divisualisasi agar penonton paham seberapa keji tindakan tersebut. Padahal, empati penonton seharusnya bisa digugah untuk memahami kedalaman trauma korban tanpa harus disuguhi reka ulang kejadiannya secara gamblang.
Pola pikir “harus melihat agar percaya” ini jugalah yang melanggengkan budaya patriarki di dunia nyata, di mana masyarakat sulit mempercayai korban KS yang melapor tanpa bukti fisik.
Alih-alih menjadi katarsis, visualisasi KS di layar kaca justru beresiko memicu ulang trauma (triggering) bagi para penyintas. Dengan memasukkan adegan KS ke dalam frame, filmmaker sebenarnya gagal menyoroti seberapa destruktifnya dampak KS terhadap kehidupan korban, dan malah mereduksi trauma tersebut menjadi sekadar twisted entertainment yang mengeksploitasi tubuh perempuan.