na֟d𖥔
717 posts

na֟d𖥔 retweetledi

Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.

Indonesia

@kdrama_menfess mau ikutan dong hihi
first kdrama : The K2
last kdrama : Because This is My First Life
best kdrama : The Veil 😜
English

Tugu Jogja "Ambruk" : Konten TikTok Viral Picu Reaksi Keras Publik
Yogyakarta—Sebuah postingan di platform media sosial TikTok baru-baru ini menjadi viral dan memicu perdebatan sengit di kalangan warganet, khususnya warga Yogyakarta. Konten tersebut menampilkan hasil editan gambar ikonik Tugu Yogyakarta seolah-olah ambruk, disertai narasi yang mengesankan peristiwa itu benar-benar terjadi.
Dalam tangkapan layar postingan yang beredar, terlihat Tugu Jogja, salah satu simbol filosofis dan sejarah penting kota tersebut. Konten ini disertai caption yang ditulis dalam bahasa Jawa: "salahe takon kok ragenah" (salahnya bertanya kok tidak jelas), serta tagar seperti #tugujogjaambruk.
🧐 Manipulasi Gambar dan Konfirmasi Hoaks
Berdasarkan penelusuran, foto "Tugu Jogja ambruk tersebut merupakan manipulasi gambar atau konten digital yang dibuat untuk tujuan viral semata. Tidak ada laporan atau peristiwa nyata mengenai ambruknya Tugu Yogyakarta
Peristiwa-peristiwa yang pernah melibatkan Tugu Jogja dan dikaitkan dengan kerusakan adalah:
1. Runtuh akibat Gempa: Tugu Golong Gilig (nama awal Tugu Jogja) pernah runtuh akibat gempa bumi dahsyat pada tahun 1867 dan kemudian dibangun kembali oleh Belanda dengan bentuk yang berbeda (Tugu Pal Putih) seperti yang kita lihat saat ini.
2. Hoaks Lama: Isu hoaks mengenai bagian puncak Tugu Jogja ambruk juga pernah beredar di media sosial beberapa tahun yang lalu, namun cepat diklarifikasi sebagai informasi palsu.
Konten visual yang beredar di TikTok kali ini murni hasil rekayasa gambar yang memanfaatkan citra ikonik Tugu Jogja untuk menarik perhatian.
🗣️ Reaksi Keras Warganet: Melanggar Kesakralan Sumbu Filosofis
Postingan ini tidak disambut baik oleh mayoritas warganet, terutama warga Yogyakarta yang sangat menjunjung tinggi nilai sejarah dan filosofi Tugu tersebut. Kolom komentar, seperti yang terlihat dalam tangkapan layar, dipenuhi kritik dan teguran.
Salah satu komentar dari akun beridentitas "SRI SULTAN HB X FAMILY" menyoroti masalah etika pembuatan konten:
"nyuwunsewu nggih mas,lain kali kalau mau buat konten difikir"dlu yaa,ini tugu jogja loh iconickya yogyakarta sumbu filosofi jg yg mna sdh diakui sangat bersejarah dan sakral sampeyan wong jogja kan?jdi pasti sdh tau asal usul tugu ini,yo rapopo nek buat konten" tpi kalau buat tempat bersejarah kyk gni jgn dibuat bahan bercandaan..."
Warganet lain menekankan bahwa Tugu Yogyakarta merupakan bagian dari Sumbu Filosofis yang sarat makna dan telah diakui secara internasional. Menggunakan simbol sakral dan bersejarah sebagai bahan candaan atau konten hoaks dinilai melanggar etika dan sensitivitas budaya lokal.
📣 Imbauan: Bijak dalam Membuat dan Menyebarkan Konten
Insiden konten viral ini menjadi pengingat penting bagi para pembuat konten untuk lebih bijak dan bertanggung jawab, terutama ketika melibatkan simbol-simbol kota, budaya, atau sejarah yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat setempat. Mencari viralitas dengan mengorbankan etika, akurasi, atau nilai-nilai lokal dapat memicu kontroversi dan menuai kecaman.


Indonesia

@kdrama_menfess sama lovely runner. biarpun Wooseok setampan itu, tapi kalo scenenya bikin nangis brutal kayaknya cukup ditonton sekali aja.
Indonesia
na֟d𖥔 retweetledi

Ternyata alasan Hua Ruyue dendam kesumat karena ini 😭😔
#BaiLu #JosephZeng #AydenSng #Feud #Viu #DramaChina
Indonesia
na֟d𖥔 retweetledi
na֟d𖥔 retweetledi

na֟d𖥔 retweetledi

@tanyarlfes 2017 GUA GA BAKAL DOWNLOAD TIKTOK NAJIS
2021-sekarang= HEHE
Filipino
na֟d𖥔 retweetledi

@ynxvgx @tanyakanrl a baru aja nanyain Shopee kak, emang dibales ga ada shopee huhu
Indonesia

@tanyakanrl Pada intinya klo transaksinya lewat wa dan gamau lewat shopee janngan mauuu
Indonesia














