Sabitlenmiş Tweet
@nandiit0_0
284 posts

@nandiit0_0
@nandiit0_
suka membaca dan mengulas buku lewat #nandiitoreviewbuku di Instagram.
Katılım Mart 2023
275 Takip Edilen83 Takipçiler
@nandiit0_0 retweetledi

Kita harus berhenti mereduksi Keluarga Cemara (1996) cuma sebagai tontonan "romantisasi keluarga miskin tapi harmonis" atau poverty porn. karya Arswendo ini sebenarnya adalah antitesis dan kritik struktural terhadap hegemoni Keluarga Cendana di era Orde Baru.
Banyak yg gagal paham dan mengira kemiskinan Abah itu diglorifikasi. Padahal, narasi awalnya sangat politis. Abah dulunya pengusaha sukses yg bangkrut karena ditipu rekan bisnisnya. Di era 90-an yg penuh kroniisme dan KKN, hukum itu tumpul. Abah adalah representasi kelas menengah yg dihancurkan oleh sistem yg korup. Kemiskinan keluarga ini bukan "takdir romantis", melainkan korban struktural.
Lalu, lihat permainan Oposisi Biner pada namanya: Cendana vs Cemara.
Cendana itu eksklusif, mahal, dan wangi—metafora absolut buat oligarki dan sentralisasi kekayaan elit penguasa saat itu. Sementara Cemara (Pine tree) itu daunnya tajam, bisa tumbuh di tanah tandus pinggiran, dan tahan dihantam badai. Cemara adalah simbol resiliensi kelas pekerja (working class).
Yg bikin sinetron ini aslinya sangat radikal adalah sikap Abah. Setelah bangkrut, dia bisa aja menjilat penguasa atau main kotor (survival of the fittest ala Orba) buat kaya lagi. Tapi dia memilih turun kelas jadi tukang becak. bukan kepasrahan yg melankolis, ini adalah penolakan secara sadar. Abah menolak berpartisipasi dalam sistem kapitalisme rakus yg nir-moral. Dia lebih milih miskin secara finansial daripada harus mengorbankan integritasnya.
Bahkan lirik legendaris "Harta yang paling berharga adalah keluarga" itu bukan sekadar lirik sedih buat ngehibur orang miskin. Itu adalah tamparan ideologis buat Keluarga Cendana yg saat itu sibuk memonopoli proyek negara dan menumpuk kapital. Arswendo mendekonstruksi metrik kesuksesan Orde Baru (Bapak Pembangunan): bahwa martabat dan kewarasan manusia itu gak bisa dibeli oleh negara.
Jadi, Keluarga Cemara itu bukan ngajarin kita buat nrimo dan pasrah jadi miskin. karya ini adalah manifesto kultural tentang bagaimana menjaga integritas dan kewarasan di tengah negara yg sedang dirampok oleh elitnya sendiri.


Penikmat Keributan X@uzy__
Cewek cewek feminisme mending dipamerin keluarga cemara atau ngga harmonic relationship Biar makin marah marah dia WKWKWKWKKW
Indonesia
@nandiit0_0 retweetledi

Karena saya suka sekali dengan konten ini jadi saya akan membagikan sedikit hal yang saya ketahui tentang perkembangan manga di indonesia.
instagram.com/p/DWaNQ9HASgx/…
Indonesia

Ternyata keinginan mules tiap ke Gramedia bukan sekedar rumor belaka
𝐒𝐚𝐢𝐧𝐭𝐋𝐮𝐱@irajenar
ada yang berak di lantai gramedia cibinong
Indonesia
@nandiit0_0 retweetledi

@berhomonim web.archive.org/web/2018033009…
akses ke sini aja kalo mau baca esainya Katrin, Maman S. Mahayana, dkk
Indonesia

@afanditeguh Halo kaka editor, semoga dilancarkan segala urusan fellowship nya.
Btw, kalau diizinin, aku mau banget baca buku terbarunya Norman. Aku enggak mau menyesal lagi melewati karya beliau yang satu ini, soalnya bukunya beliau yang pernah masuk Booker itu elah menjadi barang rare.
Indonesia




