neila
8.4K posts






Novel penulis perempuan yg diterjemahkan @MoooiPustaka dan @marjinkiri tuh apa aja ya??? Pengen koleksi lengkap karya dari penulis perempuannya, sepertinya begitu. Eh sama penerbit indie lainnya juga, yg menerjemahkan sastra penulis perempuan, aku mau baca dan koleksi.



kayaknya kalian semua tau aku sering curhat soal rambutku yg adaaa ajaaa masalahnya, tapi seneng sekarang udah nemu solusinya buat bikin rambut sehat lagi💆🏻♀️🤍



self reward setelah gajian yang bikin glow up? yaa jajan skincare, makeup dan parfum dong💅🏻✨ mumpung lagi ada payday sale up to 70% off dan voucher up to 50k nih! klaim vouchernya disini bit.ly/4tYVClT


Kalau diminta untuk menciptakan kampanye baru soal membaca buku, saya akan mengusulkan ini: “Normalisasi membeli buku yang bukan BEST SELLER.” Saat memasuki toko buku besar seperti Gramedia, sedari dulu saya cenderung menghindari rak paling mencolok dengan label Best Seller. Bukannya sok beda atau apa, hanya saja ada perasaan mengganjal tiap kali saya melihat satu judul buku bertengger di rak best seller selama berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun. Mari kita ambil contoh novel Laut Bercerita, yang setidaknya sudah dipajang di rak Best Seller sepanjang tahun 2021–2026. Saking larisnya, novel tsb bahkan sudah cetak ulang lebih dari 115 kali. Pertanyaannya, mengapa novel itu begitu laris? Oke, katakanlah isinya bagus. Lalu apa? Di luar sana masih banyak novel bagus lainnya. Salah satu teori yang dapat menjelaskan fenomena larisnya Laut Bercerita adalah Efek Bandwagon (Bandwagon Effect) yang muncul di Amerika sejak abad ke-19. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan fenomena sosial di mana seseorang cenderung ingin menjadi bagian dari mayoritas. Generasi sekarang mungkin lebih akrab dengan istilah fear out of missing out (FOMO), tapi secara konsep sedikit berbeda. Perilaku kita yang punya kecenderungan untuk membeli buku yang sudah populer dan dipajang di rak Best Seller adalah contoh paling tepat dari Efek Bandwagon. Sering kali kita tak sadar bahwa keputusan kita membeli buku bukan lagi soal preferensi pribadi, melainkan sudah jadi tren ikut-ikutan. Paradoksnya terletak pada hilangnya orisinalitas dalam keputusan membeli sesuatu karena didorong oleh popularitas massa.

















