Nad~

9K posts

Nad~ banner
Nad~

Nad~

@natnetnoot

Katılım Mayıs 2011
387 Takip Edilen356 Takipçiler
Nad~
Nad~@natnetnoot·
@ernarahma05 HAHAHA apaseh yaAllah😭🤣🤣
Indonesia
0
0
0
211
Permen Nano Nano
Permen Nano Nano@ernarahma05·
Hidup lagi nggak mood tibatiba dapet kabar, ada kerdus misterius di Gereja. Kebetulan rumah ibuku deket sama Gerejanya, dan anaknya lagi merantau semua. 😩
Permen Nano Nano tweet mediaPermen Nano Nano tweet mediaPermen Nano Nano tweet mediaPermen Nano Nano tweet media
Indonesia
49
121
2.9K
296.9K
Nad~ retweetledi
Tubagus Siswadi W
Tubagus Siswadi W@tb_siswadi·
Cewek-cewek, kalian tau PCOS? PCOS adalah gangguan hormonal pada perempuan yang bisa memengaruhi haid, metabolisme, kesuburan, kulit, sampai berat badan. Nah, sekarang ada update baru 👀 PCOS mulai resmi berganti nama menjadi PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome). Kenapa diganti? Karena nama “PCOS” selama ini dianggap terlalu misleading. Banyak orang mengira: “PCOS = banyak kista di ovarium.” Padahal faktanya: banyak pasien bahkan tidak punya “kista” seperti yang dibayangkan masyarakat. Masalah utamanya juga bukan cuma di ovarium, tapi melibatkan: • hormon • metabolisme • resistensi insulin • kulit & jerawat • mental health • sampai risiko diabetes dan penyakit jantung Makanya para ahli memilih istilah: Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome Supaya lebih menggambarkan kalau ini adalah kondisi multisistem, bukan sekadar “kista ovarium”. Nama lama juga disebut berkontribusi terhadap: • diagnosis terlambat • stigma • miskonsepsi penyakit • dan penanganan yang kurang menyeluruh Jadi kalau haid kalian sering berantakan, jerawatan berat, berat badan gampang naik, atau tumbuh rambut berlebih… Jangan dianggap normal terus ya 🙂‍↔️
Tubagus Siswadi W tweet media
Indonesia
24
1.9K
6.2K
160.1K
Nad~ retweetledi
Handout
Handout@Zeefire02·
Wahh sedih banget kalo kayak ginii 🥺
Indonesia
593
6.8K
29.3K
874.5K
Nad~ retweetledi
zzus
zzus@markizusss·
untuk perempuan yang gak sengaja baca twit ini, semoga wishlist mu yang gatau diri itu disupport rezeki yang unlimited
Indonesia
257
12.3K
46.5K
396.7K
Nad~ retweetledi
Senja
Senja@kopidansenjaa·
Karena banyak yg tanya, aku jelasin stepnya ya.. [thread] 1. Pertama kalian harus download dulu aplikasi namanya Digital Korlantas.. yang peru disiapin itu - Foto SIM - Foto KTP - Pas Foto 3x4 (latar biru) - Foto Tanda Tangan latar putih 2. Tes Kesehatan di e-rikkes/id ini ada di aplikasi korlantasnya tinggal ikuti stepnya, ini tes umum kaya riwayat sakit dan tes buta warna, ini gratis 3. Tes Psikologi di epPsi, ini ada didalam aplikasi korlantasnya, tinggal ikuti stepnya aja, ini lumayan banyak soalnya jadi harus sabar2, ini berbayar Rp 77.500 4. Kemudian pembayaran perpanjangannya SIM = Rp 75.000 Biaya layanan = Rp 10.000 Biaya pengiriman = Rp 22.501 (kalau express 31.501 Total = Rp 107.501 pembayarannya hanya melalui virtual account bni Jadi total aku bayar sekitar Rp 185.000 Dan pengiriman itu kurang lebih 3-5 hari tergantung lokasi, dan usahakan maksimal 2 minggu sebelum masa aktif SIM habis. Selamat mencoba!
Senja@kopidansenjaa

Kalian ada yg udh pernah perpanjang SIM secara online? gampang bgt loh

Indonesia
149
2.2K
8K
446.7K
Nad~ retweetledi
muklas
muklas@mukaikhlas·
yang pengen bubarin mbg boleh retweet
Indonesia
192
69.9K
57.7K
1.1M
Nad~ retweetledi
SiraitBatakDusun™️
SiraitBatakDusun™️@bachrum_achmadi·
Giliran KAI ada kecelakaan, itupun krn taksi, Dirut KAI diminta mundur oleh DPR. Ehh…pas MBG byk anak sekolah yg keracunan, kpl BGN malah tambah foya2 pake anggaran dibiarkan DPR. Bangke ga tuh! 🤣🤣🤣
Indonesia
119
18.2K
50.3K
399.3K
Nad~ retweetledi
Kangkung
Kangkung@pedas__manis·
Ini tuh dulu buatan istri pak Soeharto. Supaya ibu negara gak kesepian, biar ada kegiatan. Jadi dibuatlah perkumpulan istri2 dari abdi negara. Bhayangkari buat istri polisi. Persit buat istri tentara Jadi, ini warisan Orba yang masih dipake sampe sekarang. Tujuannya? Ya buat ajang pamer kalo suaminya abdi negara.
Lambe Saham@LambeSahamjja

Seriusss , mau tanyaa krna ga ngerti Fungsi ibu2 bhayangkari apaa sih? Trus emg di kasih seragam gitu kah? Soalny liat di sosmed klo army2 di Luar negeri kayanya ga ada istri bule ato istri org korea yg jadi kaya ibu-ibu bhayangkari gituu Mohon pencerahan nya yaa

Indonesia
181
2.9K
20.1K
1.4M
Nad~
Nad~@natnetnoot·
@tanyakanrl Ngga malu nder nambahin bilang gini? Wkwkwk kerjaaa kerjaaaa
Indonesia
0
0
0
48
Nad~ retweetledi
Han🍀
Han🍀@0xhanyfa·
gue suka banget kalimat ini: “Orang yang gak terbiasa komunikasi sehat, tiap masukan kerasa kayak sindiran. Orang yang kurang tanggung jawab, tiap kritik kerasa kayak disudutkan.” Ego itu harus dikontrol, bukan diturutin. Karena kalau ego yang selalu pegang kendali, semua hal bakal diputer jadi soal harga diri. Dikit-dikit ngerasa diserang, dikit-dikit pengen ngebela diri, padahal belum tentu orang lain punya niat seburuk itu. Ego bikin kita susah denger, susah nerima, dan akhirnya susah berkembang. Padahal gak semua masukan itu jatuhin kadang itu cara orang lain biar kita bisa jadi versi yang lebih baik. Kalau ego terus diturutin, yang ada kita bakal stuck di situ-situ aja. Gak belajar, gak berubah, cuma makin pinter ngehindar dan nyalahin keadaan.
Indonesia
114
12.4K
33.8K
547.2K
Nad~ retweetledi
kale
kale@kalistohenituse·
Semua pihak harus bertanggung jawab! 1. Taxi mogok di perlintasan, Kalo baterai habis salah TAXI dan SOPIR, kalo bukan baterai habis, failure dari VINVAST. 2. perlintasan tanpa palang artinya salah PEMKOT BEKASI. karena pasti PT KAI maunya jalur steril dan kewenangan tutup jalur itu ada di PEMKOT BEKASI. 3. Keterlambatan ngirim sinyal ke argo bromo, artinya kesalahan di PEGAWAI PT KAI Pemkot dan KAI harus klarifikasi kenapa perlintasan tidak ditutup permanen. TAXI, sopir dan VINFAST harus klarifikasi kondisi mobil.
Indonesia
98
3.8K
18.9K
1.3M
Nad~ retweetledi
Fiersa Besari
Fiersa Besari@FiersaBesari·
Namanya juga hobi. Kita cuma tahu rasanya bahagia, meskipun orang lain nanya faedahnya apa
Indonesia
118
4.3K
11.4K
716K
Nad~ retweetledi
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
UPDATE: Tragedi Daycare Little Aresha, Jogja - 13 tersangka: 1 kepala yayasan, 1 kepala sekolah, 11 pengasuh - 30 orang diperiksa polisi: 25 pengasuh, 5 pejabat yayasan, 1 satpam - 53 anak terverifikasi jadi korban kekerasan fisik, verbal, & penelantaran - 103 anak pernah dititipkan - Usia dedek bayi jadi korban mulai yang baru lahir sampai bawah 2 tahun 😭😭 - Ada satu kamar 3x3 meter diisi sampai 20 balita 🤯 Jahat bangeeett siihh!!! 🤬🤬 Ini kekerasan massal terhadap anak-anak yang belum bisa teriak sakit & minta tolong! cuma bisa nangiss 😭 Shock berat, kok bisa tempat penitipan anak jadi tempat penyiksaan gini? Astagaaaaa udah beroperasi 1 tahun lebih! SEMUA PELAKU HARUS DIHUKUM BERAT!!!!
Indonesia
180
4.9K
10.5K
906.8K
Nad~ retweetledi
Zaka✨
Zaka✨@zakariamlk·
Zaka✨ tweet media
ZXX
281
7.9K
26K
288.8K
Nad~ retweetledi
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Merayakan Kartini Secara Radikal Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran. Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan. Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi. Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT). Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.    "Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30). Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan. "Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya." (12 Januari 1900, HGTT, 2009:34). Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan. "Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29). Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran. "...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?" (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.  Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung?  Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri? Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”. Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan. --- Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜 (Link artikel lengkap di utas berikutnya)

Indonesia
59
6.5K
18K
1.3M
Nad~
Nad~@natnetnoot·
@cowosukamatcha Mba? Lu bilang begitu sadar? Waras mba? Intinya "elu siapeee?" 😭🙏
Indonesia
0
0
0
37
F
F@cowosukamatcha·
kok ada orang begini ya!!!
F tweet media
Indonesia
1.4K
406
11.5K
1.8M
Nad~ retweetledi
𝝑𝝔
𝝑𝝔@byamarachi·
𝝑𝝔 tweet media
ZXX
115
18.1K
82.2K
681.9K