han 🇳🇱

1.5K posts

han 🇳🇱 banner
han 🇳🇱

han 🇳🇱

@nederjongens

imma just 'hehe' my way thru life

fib ui'25 Katılım Aralık 2022
366 Takip Edilen389 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
han 🇳🇱
han 🇳🇱@nederjongens·
ASSALAMUALAIKUM FIB UI 🤩
han 🇳🇱 tweet media
Indonesia
7
0
14
5.6K
han 🇳🇱 retweetledi
❀
@xoxoceles·
❀ tweet media
ZXX
17
9.2K
45.1K
383.6K
han 🇳🇱 retweetledi
🐂
🐂@ppppanteqqqq·
sekarang setiap ada tragedi, kek kebakaran kantor dan kecelakaan kereta, lebih kerasa makdeg dan kena bgt karena korbannya seumuran. maksudnya, dulu tuh kalo ada kejadian gini, mikirnya orang dewasa yg meninggal, tapi ini bisa aja kita sendiri atau temen. umur gak ada yg tau 😭
Indonesia
75
11.4K
47.9K
485.3K
han 🇳🇱 retweetledi
Lily Gilly
Lily Gilly@floatinbloom·
Namanya orang meninggal yah pasti bakal ngerepotin orang lain bjir, nggak peduli penyebab meninggalnya karena apa. Emang lu ntar kalo mati bakal gali kubur terus nanem diri sendiri gitu? Udah nirempati, bodoh pula kepala kao itu.
Indonesia
35
4.6K
25.6K
441.1K
han 🇳🇱 retweetledi
HRD BACOT
HRD BACOT@hrdbacot·
Kiranya gambar dan video keretanya sudah cukup menggambarkan kengerian dari kecelakaan malam ini. Jangan ditambah share foto korban.
Indonesia
20
1.1K
4.6K
96.9K
han 🇳🇱 retweetledi
salam4jari
salam4jari@salam4jari·
😯
salam4jari tweet media
QME
69
17.1K
38.5K
420.9K
han 🇳🇱 retweetledi
Aisa! ★
Aisa! ★@sorenavistha·
Temen-temen, gak ada namanya politik tidak mempengaruhi kita, siapapun presidennya. Mungkin bukan hari ini, bisa jadi hari esok. Bukan kita, tapi bisa jadi anak-anak kita. Jadi jangan asal pilih, jangan masa bodoh. Jangan gak peduli. Hidup kita itu diikat politik.
Indonesia
12
14.6K
28.8K
373.3K
han 🇳🇱 retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
419
20.8K
51.6K
1.3M
han 🇳🇱 retweetledi
nana kopaja (deera)
you (indonesia) seem pretty anti intellectual for a country with "mencerdaskan kehidupan bangsa" in its uud
Indonesia
1
15.6K
33.9K
300.1K
han 🇳🇱 retweetledi
Leony
Leony@leony_ip·
Gmn kl ternyata doi bukan saking cinta sm Indo, tp saking bencinya jd rela nyapres berkali-kali buat hancurin ni negara wkwk
Indonesia
73
6.7K
39.9K
573.3K
han 🇳🇱 retweetledi
nana kopaja (deera)
indonesia panas bgt fakmen ini kita dihukum mother nature karena presidennya wowok
Indonesia
107
22.3K
61.4K
479.9K
han 🇳🇱 retweetledi
Farhan | 24
Farhan | 24@Hayacbusa·
My favorite part of kulish is mahasiswa dan dosen sama-sama bingung
Indonesia
89
4.3K
22.8K
263.7K
han 🇳🇱 retweetledi
𝝑𝝔
𝝑𝝔@byamarachi·
𝝑𝝔 tweet media
ZXX
182
25.9K
194.7K
2.5M
han 🇳🇱 retweetledi
tubina
tubina@tubbirfess·
apa yg ada di kepala gue tiap minggunya
tubina tweet media
Indonesia
316
26.6K
79.4K
1.1M
han 🇳🇱 retweetledi
bia
bia@bersuwara_·
scroll twitter, scroll ig, scroll tiktok, scroll shopi, scroll chat lama, scroll apa lagi lu
bia tweet media
Indonesia
79
9.4K
28.3K
213.1K