Rex Tukangtidur

1.3K posts

Rex Tukangtidur banner
Rex Tukangtidur

Rex Tukangtidur

@noorhdee

Lessthinker

Depok Katılım Mayıs 2010
290 Takip Edilen362 Takipçiler
Rex Tukangtidur
Rex Tukangtidur@noorhdee·
@Mah_Hwan Hiks bener banget, Mas. Jadi kudu belajar ngomong fafifu di depan orang padahal mah pinginnya nulis doang 😭
Indonesia
1
0
0
330
MAHFUD IKHWAN
MAHFUD IKHWAN@Mah_Hwan·
Jadi penulis di Indonesia harus: 1. Bisa branding 2. Gaul/banyak teman 3. Public speaking bagus 4. Koneksi banyak 5. Sering tampil di publik 6. Kooperatif dgn penerbit/stakeholder terkait 7. Open minded 8. Dll, silakan tambah Makanya semua org bisa jd penulis. Kecuali PENULIS.
Indonesia
38
381
2.1K
52K
Rex Tukangtidur retweetledi
UN Human Rights
UN Human Rights@UNHumanRights·
#Indonesia: Deeply concerned by horrific acid attack on Andrie Yunus, the Deputy External Affairs Coordinator of the Commission for Missing Persons and Victims of Violence (@KontraS). Those responsible for this cowardly act of violence must be held to account. HRDs must be protected in their vital work & able to raise without fear issues of public concern. - @volker_turk
English
472
25.7K
37.5K
2.8M
Rex Tukangtidur retweetledi
Bang Rapip | Batavian “linguist”
Saya pernah mau bahas ini dari sisi pantun Betawi. Banyak orang mengira bahwa pantun, terutama pantun Betawi, (seakan-akan) "mewajibkan" kita untuk menyahut cakep. Kebanyakan orang menggunakan sahutan ini hampir pada setiap baris di bagian sampiran. Misalnya: Biru-biru bukannya kaèn (Cakeepppp!) Kembang melati di pelataran (Cakeepppp!) Sakit rindu bukannya maèn Si jantung ati punya lantaran Apakah sahutan seperti ini sebenarnya memang ada sebagai bagian dari seni pantun, khususnya pantun Betawi? Saya akan membahas ini dari sisi pantun Betawi, yang mungkin saja ada perbedaan dengan pantun dari daerah lainnya. Jadi, sebagaimana dalam pantun di berbagai wilayah di Nusantara, terdapat dua bagian, yaitu: sampiran dan isi, atau dalam istilah Betawi kulit dan isi. Pantun tersebut, di Betawi, umumnya memiliki 4 baris, dan sering juga 2 baris (pantun kontèt), meskipun terdapat pantun 3 dan 6 baris juga yang sangat jarang. Adapun sahutan "cakeppp" ini sebenarnya adalah senggakan, kalau dalam istilah Betawi. Senggakan ini umum diucapkan oleh alok (lawan bicara) dalam berbagai penampilan kesenian Betawi, seperti lagu, wayang kulit, dsb. Misalnya, contoh senggakan dalam lagu Jali-jali pada youtu.be/I2xdp8Al9oA?li… (05:05–05:10): Katènyè, dulu kotè Betawi ... (Témpo dulu, yè, Po'!) Nah, "témpo dulu, yè, Po' " di atas itu adalah salah senggakan. Jadi, senggakan itu dapat berupa perkataan apa pun yang, intinya, untuk "meramaikan" penampilan. Tidak harus cakeppp. Bisa saja lainnya, misalnya "hobat", "Apaan tu, Bang?", "ajib", dsb. Selain itu, tidak ada pakem posisi yang tepat untuk meletakkan senggakan ini, tetapi setidaknya ada hal yang harus diperhatikan dalam penempatannya, yaitu logis, karena senggakan ini kurang lebih seperti "interaksi" antara panjak (seniman) dan alok (lawan bicara). Dan senggakan ini sifatnya TIDAK WAJIB dan hanya sebagai "peramai" penampilan saja yang sifatnya spontan. Adapun untuk kasus pantun, bagian yang paling logis dan cocok untuk menempatkan senggakan ini adalah pada bagian antara kulit dan isi, seakan-akan untuk mengantarkan maksud pada isi yang dirimakan oleh kulit. Jadi, kurang lebih seperti ini: Biru-biru bukannya kaèn Kembang melati di pelataran –––––––––––––––––––––––––– (Cakeepppp!) Sakit rindu bukannya maèn Si jantung ati punya lantaran Umumnya, penempatan senggakan seperti ini. Dengan begini, pantun terkesan seimbang. Praktik ini yang sering dilakukan oleh banyak praktisi palang pintu. Adapun praktik yang biasanya dilakukan oleh orang awam dengan menempatkan Cakeppp hampir di seluruh baris pada sampiran atau kulit, ini adalah praktik yang pèdog (timpang) dan terlihat tidak seimbang karena senggakan yang digunakan sama pada kedua baris sampiran, sementara pada bagian isi sama sekali kosong. Ini tampaknya praktik yang agak keliru untuk menggunakan senggakan, apalagi dipahami sebagai "kanon" untuk pantun Betawi. Tradisi senggakan memang tradisi yang ada di kesenian Betawi secara umum, tetapi tidak pernah menjadi bagian kanonikal pada penampilan kesenian Betawi. Artinya, ini hanya sebagai "peramai" saja. Khusus untuk senggakan "Cakeppp" pada pantun, apakah sudah lazim digunakan dari zaman dulu pada pantun Betawi? Tampaknya, yang melazimkan senggakan "Cakeppp" pada pantun Betawi adalah acara Pesbukers pada bagian pantun masak aèr yang dilaukan oleh Bang Opie Kumis dan alm. Bang Sapri. Tapi, kalau diperhatikan, praktik penggunaan senggakan-nya pun masih cocok, yaitu di antara ujung kulit dan isi, tidak seperti praktik pèdog yang dilakukan oleh banyak orang sekarang ini. Coba perhatikan ini youtu.be/lP-W5Jb1ksk Masak aèr biar mateng Daon kélor di atas kedok –––––––––––––––––––––––––– (Cakep!) Sapri, lu jangan so' ganteng Mukè lu kayè telor kodok Sebenarnya, tidak ada masalah dengan senggakan semacam ini. Namun, dari sini, banyak orang kadung lumpar (terlanjur salah kaprah) dalam mengira dan menggunakan senggakan. Akibatnya, banyak yang menggunakannya terlalu sering dan kaga' keruan. Dari sini, para budayawan dan praktisi kesenian Betawi, tampaknya, terbagi dua mengenai hal tersebut: ada yang jeléh (muak) dan ada yang menerima (tentu, dengan penggunaan yang benar). Kalau pendapat pribadi saya, sebagai penikmat kesenian Betawi (bukan sebagai ahli), saya membebaskan saja mao lu paké entu senggakan, kè', engga', kè', sepanjang tahu cara menggunakannya dengan benar dan jangan ketelèngèsan (keterlaluan). Tampaknya, budaya ini, kemudian, juga "diimpor" oleh kawan-kawan kita dari daerah lainnya saat berpantun. Beberapa bulan lalu, saat saya di Kutai, salah satu dari mereka mengeluhkan mengenai "pengimporan" senggakan ini pada pantun mereka yang dilakukan oleh—katanya—institusi yang mengurusi kebudayaan di sana. Mereka menerjemahkan cakep (Betawi) sebagai gerécé (Kutai), yang—menurut perkataannya—kata tersebut kurang tepat dalam konteks ini apabila ingin digunakan. Kata tersebut, menurut pertuturannya, lebih berarti "indah" secara fisik daripada "indah" dalam konteks "mantap" sementara cakep di bahasa Betawi punya kedua makna tersebut. Orang tersebut mengeluhkan bahwa kebiasaan seperti ini menjadi "salah kaprah" baru di kalangan masyarakat sana. Simpulan: Dalam pantun Betawi, ada atau tidaknya senggakan bukanlah menjadi masalah. Hal yang terpenting, gunakan senggakan secara bijak dan benar.
YouTube video
YouTube
YouTube video
YouTube
ꦲꦱꦤ꧀ حسن @𱁬@hanssium

Sahutan penonton "cakep" setiap setelah baris pantun tuh… ada istilah teknisnya kah? Sejak kapan populer di (hampir seluruh?) Indonesia? Kayak, sekarang setiap orang pantun seolah kudu dicakepin gitu 😔 malah seolah nggak afdol tanpa dicakep-cakepin kyk ???

Indonesia
32
533
1.7K
171.5K
BiasalahAnakMuda
BiasalahAnakMuda@biasalahanakmud·
buku apa ini tolong 😭😭
BiasalahAnakMuda tweet mediaBiasalahAnakMuda tweet mediaBiasalahAnakMuda tweet mediaBiasalahAnakMuda tweet media
Indonesia
565
3K
18.3K
524.2K
windy ariestanty
windy ariestanty@windyariestanty·
sekarang, kalo nemu teks yang ada saltiknya, jarang manyun. setidaknya itu indikasi pertama kalau teks tersebut ditulis oleh manusia. :)))
Indonesia
14
67
918
32.2K
Logos ID
Logos ID@logos_id·
Habis mendigitalisasi 20+ buku langka Indonesia. Yuk bantu mimin menemukan buku-buku yang jarang ditemui di Indonesia agar bisa mimin bantu digitize (sebelum lulus sekolah 3 bulan lagi 🥲) Semua diupload perlahan di langka.logosid.app
Logos ID tweet media
Indonesia
60
1.3K
6.7K
126.8K
Rex Tukangtidur
Rex Tukangtidur@noorhdee·
@astridwasis Kayaknya dulu ga masalah deh bilang buku ini jelek buku ini oke. Kok sekarang jadi rame begini cuma perkara menilai buku anu jelek atau bagus. Toh emang ga selamanya kok kita bisa bikin karya bagus mulu. Ada kalanya butut.
Indonesia
1
0
5
843
Astrid W.
Astrid W.@astridwasis·
sekadar nyebut 1-2 judul buku di QRT contoh buku jelek bisa ya diartikan: “merasa dirinya dan bacaannya keren.” aku jadi pengen nanya, terus kapan kah waktu yang tepat untuk kita bebas (di medsos) berkomentar “menurutku, buku A itu jelek”? ketika ekosistem literasi kita sudah gak kacau balau? ketika minat baca sudah gak rendah? what’s the ideal indicators really do you have in mind? menurutku, kalau dialog sesama pembaca cuma terus-menerus diisi hal-hal positif, bagus, baik, indah-indah, itu mengkhawatirkan sih; ada potensi melahirkan banyak sosok seperti FZ—yang pengen narasi sejarah kita pakai tone positif. 💩🤡
Dayat Piliang (;)@dayatpiliang

Di saat minat baca orang Indonesia masih rendah serendah-rendahnya, sekelompok pembaca yang merasa dirinya dan bacaannya keren sibuk mencibir buku jelek di media sosial. Ekosistem literasi di Indonesia ini masih kacau balau. Tak usah jauh kita bahas isi buku, duit di industri ini juga tidak seberapa besar dan tidak bisa bikin pelakunya sejahtera hanya dari industri ini saja, belum lagi ada banyak pembajakan di mana-mana dan dibiarkan oleh platfom jual beli. Daripada sibuk mencibir buku jelek atau tidak, mending fokus pada menyuarakan buku-buku bagus yang pernah kamu baca. Biarlah buku-buku yang menurutmu jelek itu menjadi salah satu pemicu tumbuhnya minat baca bagi pembaca-pembaca baru.

Indonesia
17
228
672
32.6K
Erwin Setia
Erwin Setia@vorofon·
“Sastra Indonesia lebih banyak menerbitkan surat pernyataan, klarifikasi, dan permintaan maaf, ketimbang menerbitkan karya-karya monumental." — Da Roka, pemerhati sastra Indonesia yang nggak punya akun medsos
Indonesia
6
48
267
7.2K
Dr.Mohammed🇵🇸
Dr.Mohammed🇵🇸@hmd_mhmd9832·
I'm not exaggerating if I tell you that we are really living the last moments of our lives. If you’re scrolling, PLEASE leave a dot . it's just a dot
English
48.5K
36.7K
392K
11.5M
Science girl
Science girl@sciencegirl·
This woman drew hopscotch outside her house and all the pedestrians loved it
English
454
5K
49.1K
1.9M
Rex Tukangtidur retweetledi
Soe Tjen Marching
Soe Tjen Marching@SoeTjenMarching·
Banyak partai sengaja merekrut artis untuk jadi anggota Dewan. Kenapa? Karena kebanyakan tidak begitu cerdas, jadi gampang disetir. Asal ditabok duit banyak, diberi fasilitas mewah, mereka bakal manut. Beginilah duitnya rakyat dipakai. Buat pesta-pora & ugal2an pejabatnya!
Indonesia
15
390
947
42.7K
Rex Tukangtidur
Rex Tukangtidur@noorhdee·
Sedihnya, semua itu terjadi seperti organic. Dari situ gue akhirnya mikir, ternyata di sirkel aktivis ada abang2annya juga. Apalagi ada yg sampe nyinyir soal influencer. Lah, masih untung influencernya ngajak berpikir kritis. Bingung maunya gimana dah.
🍜@DataSprinkle

I'll never be that harsh to someone who barely poses harm like afutami. She doesn't get paid by our taxes, took lots of great initiatives, researched & actually gave a sh*t about the ppl and yall are making parallels between her & DPR. Like do yall hear yourselves??

Indonesia
0
0
0
115
Rex Tukangtidur
Rex Tukangtidur@noorhdee·
@Remmentifleur @rgantas Saya udah baca artikel di atas dan penasaran. Ada ga sih kelompok aktivis di sini yang terstruktur, berideologi, memiliki pemimpin? Kalau ada, keberhasilannya kayak gimana? Kalau belum ada yg berhasil, ya menurut saya mah sama aja atuh.
Indonesia
1
0
0
118
Ganta Semendawai
Ganta Semendawai@rgantas·
Apa benang merah penangkapan Delpedro, Khariq, dan Syahdan? Mereka itu bukan influenzer. Mereka itu aktivis sipil yang berjejaring di akar rumput. Penangkapan ini sebenernya menandai kekhawatiran kekuasaan terhadap gerakan massa akar rumput yg terorganisir dengan baik. Ini sebenernya usaha pembunuhan momentum Tentu gerakan sipil sangat terbantu dengan peran influenzer. Kita butuh kanal mereka untuk memberikan tekanan sosial media. Dan ane sangat apresiasi kepada para influenzer yang terlibat, karna hal tersebut butuh keberanian. Tapi keriuhan dan viralitas media aja ga cukup. Inget buku "If We Burn: The Mass Protest Decade and the Missing Revolution" karya Vincent Bevins. Banyak gerakan yang kini gagal mencapai tujuan dan kehilangan momentum, meski mendapat perhatian sosial media yang luas, sebut aja Arab Spring, Wall Street Occupy, dan Umbrella Movement. Mengapa? Sederhananya karna kegagalan mempertahankan momentum. Menurut Bevins ini berkaitan dengan ketiadaan struktur organisasi yang solid dengan kepemimpinan yang jelas dalam rangkaian aksi tersebut. Pada akhirnya kekuatan institusional (partai, serikat, organisasi) tetap penting dalam transformasi politik jangka panjang. Lagi-lagi tentang membina akar rumput. Ini kerja-kerja yang sulit emang... Tapi ini sesuatu yg masih atau pernah dikerjakan oleh tiga orang di atas pada titik tertentu. Thats why belum ada influenzer besar yang ditangkep. Ada dua kemungkinan, pertama dengan kanal sebesar itu, penangkapan influzer bakal memicu gelombang protes yang besar. Kedua karna memang influenzer belum bener-bener menjadi ancaman serius. Gue ngerti penjelasan Bevins terdengar sangat mendasar. Tapi percayalah kita kemungkinan tengah mengulang siklus kegagalan, dengan adegan-adegan yang sama di beberapa gerakan besar di seluruh dunia. NB: Maaf desainnya kek pamflet diskusi 😐
Ganta Semendawai tweet media
Rin | 🎈#1312@Dyanasthasia

Y'll SO ANGRY pas ada kritik soal influencer dan artis-artis kaya yang tidak menyertakan grassroot dalam pergerakan, tapi sekarang liat deh, DPR cuma mau turun pas influencer yang ngomong. Pas grassroot yang ngomong, dikacangin. This is a long-term systemic problem.

Indonesia
9
781
1.3K
81.2K
Rex Tukangtidur retweetledi
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono@Dandhy_Laksono·
@ARSIPAJA Patokannya rumahmu? Bukan Kanjuruhan? KM 50? Munir, Marsinah, Affan, atau Papua? Atau pembantaian 1965?
Indonesia
67
2.2K
6.2K
92.8K
Rex Tukangtidur retweetledi
dhn 🌧️🌼
dhn 🌧️🌼@arman_dhani·
Ibu jilbab pink yang berkata kasar bikin kamu ga nyaman? Good. Because there are ibu with soft-spoken words protesting in front of the presidential palace every Thursday since 2007, and you don’t give a damn. You don’t care about polite language. You just don’t give a shit.
English
391
69K
133.2K
4.8M