nori #maknaeholic retweetledi
nori #maknaeholic
400 posts

nori #maknaeholic retweetledi
nori #maknaeholic retweetledi

semoga bunyi bunyi ompreng itu bisa menghindarkan gue dr kengantukan berat
tempo.co@tempodotco
Kepala BGN Minta Kampus Ikut Bangun Dapur MBG
Indonesia

@tempodotco industri kan berkembang ya, klo ini cuma liat jangka pendek kebutuhan industri sekarang dan nnti ‘standar industri’ nya berubah, trs mau dikemanain org2 dr prodi yg ‘relevan dengan industri’?
Indonesia
nori #maknaeholic retweetledi
nori #maknaeholic retweetledi

Bu Wamendikti, begini loh
Pendidikan (termasuk kesehatan, transportasi publik, dsb) itu bukan pasar bebas.
Itu Kebutuhan Dasar.
Pendidikan seperti sekolah dan kampus negeri itu semestinya gak for profit. Negara butuh supply SDM berkualitas utk generasi berikutnya.
Toh, gimana mereka mau compete kalau perutnya kosong? Kalau fasilitas kampusnya ga disediakan?
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen
Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok
Indonesia
nori #maknaeholic retweetledi
nori #maknaeholic retweetledi

Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia
nori #maknaeholic retweetledi
nori #maknaeholic retweetledi

Kalo prodi ini relevan sama kebutuhan industri ga?
1. Prodi Strategi Perang Semesta
2. Prodi Peperangan Asimetris
3. Prodi Diplomasi Pertahanan
4. Prodi Strategi Pertahanan Laut
5. Prodi Manajemen Pertahanan
6. Prodi Ekonomi Pertahanan
7. Prodi Magister Keamanan Maritim
8. Prodi Damai dan Resolusi Konflik
9. Prodi Hukum Keadaan Darurat
10. Prodi Industri Pertahanan
11. Prodi Teknologi Persenjataan
12. Prodi Magister Teknologi Daya Gerak
13. Prodi Magister Terapan Rekayasa Pertahanan Siber
ayo dong ditutup, berani ga?🤫
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia
nori #maknaeholic retweetledi
nori #maknaeholic retweetledi

nori #maknaeholic retweetledi

HIDUP PEREMPUAN YG MELAWAN!!!
bia@bersuwara_
"HADAPI SANKSI, JANGAN MINTA BANTUAN ORANG TUA KALIAN! KALAU BISA CABUT!! ANGKAT KAKI SELAMANYA" LANTANG BGT OUR QUEENNNNNN
Indonesia














