choco

22.8K posts

choco banner
choco

choco

@noteschoco

˚˖𓍢🌷✧˚.🎀⋆

cornelia st Katılım Temmuz 2024
865 Takip Edilen6.4K Takipçiler
choco retweetledi
aochi 🔜 DDAM2026
aochi 🔜 DDAM2026@aochiorta·
kabarnya paspor indo skrg jd paspor terkuat guys 🥹 . . . . …. buat ke surga 💔
Indonesia
139
7.7K
34.5K
288.8K
choco retweetledi
nayi
nayi@afaintghost·
Hari kebangkitan nasional tp yang bangkit cm amarah gw
Indonesia
139
47.6K
79K
816K
choco retweetledi
jepri
jepri@callmejeprian·
dibilang antek-antek asing saya diam, dibilang ndasmu saya diam, dibilang warga desa tidak pakai dolar saya diam, dibilang “tidak bermimpi kaya raya?” SAYA AKAN LAWAN!!!
Indonesia
843
35.1K
73K
651.7K
choco retweetledi
yogis
yogis@yoogiiss·
nyari duit keringet sampai ke sempak-sempak dibilang ga mau kaya raya
Indonesia
407
16.3K
37.7K
454.4K
choco
choco@noteschoco·
Mak gue di rumah emang jago masak… tapi kalo urusan ayam bumbu hitam, aku tetep nyari Mak Dura 😭
Indonesia
1
0
6
191
choco
choco@noteschoco·
penasaran ga sih jadi pengen coba jugaaa? 🥹
Indonesia
1
0
1
109
choco
choco@noteschoco·
ayamnya juicy, sambelnya medok, nasinya anget 🤌 combo yang bikin mood langsung naik, bikin nagih beneran 🥹✨️
choco tweet mediachoco tweet media
Indonesia
1
0
2
516
choco retweetledi
♥︎ نيبي
♥︎ نيبي@meursalette·
mimpi basah bukan lagi soal mimpi jorok, tapi mimpi rupiah menguat, embege bubar, pendidikan gratis, kesehatan diprioritaskan, gak banyak pungli, umr 2 digit, bisa makan enak dan jalan kaki nyaman.
hey@quackGshock

Halu sekarang bukan jadi y/n idol K-Pop, tapi rupiah menguat, embege bubar, pendidikan gratis, kesehatan lebih diperhatikan, ga banyak pungli, UMR 2 digit, bisa makan enak dan nyaman tanpa embel embel "in this economy" sedangkan ybs ulang tahun, dirayainnya ga kelar kelar🫪

Indonesia
38
21.7K
53.3K
630.4K
choco retweetledi
Cow
Cow@haloopulici·
6 dimsum mentai 2 dollar jirr
Indonesia
510
9.1K
58.6K
1.1M
choco retweetledi
è.
è.@1998ur_·
“Indonesia baik-baik aja, nggak ada ngaruh apa-apa di hidup gua. Mungkin elunya aja yang miskin.” MATA LU BUKAAA, BUKA MATA LUUUU. Jangan idup dalem tempurung, anjeeeengggggg
Indonesia
29
8.1K
22.4K
171.1K
choco retweetledi
Cow
Cow@haloopulici·
gw tebak, duluan idr 19k daripada 19 juta lapangan kerja itu
Indonesia
304
13.1K
47.1K
410K
choco retweetledi
Cow
Cow@haloopulici·
rupiah turun, tensi gua naik
Indonesia
225
17K
42.6K
398.9K
choco retweetledi
🥀
🥀@boxxtoc·
1. dollar saat ini tembus Rp 17.600 2. ⁠pidato presiden prabowo: "orang di desa nggak pake dollar” anak kecil pun tahu didesa bayar pake rupiah bukan dollar, dampaknya itu loh keharga barang dan kebutuhan pokok jadi naik, seplenger inikah kita punya presiden
Indonesia
378
19.7K
48.6K
443.9K
choco retweetledi
𓂃۶ৎ
𓂃۶ৎ@iheartsvc·
when the government no longer protects you from the corrupt or criminals, but instead protects the corrupt and criminals from you, yk your nation is doomed
English
15
10.2K
23.7K
252K
choco retweetledi
mazi
mazi@yelvyah·
how it feels to live in indonesia and read the news about ur country every day
mazi tweet media
English
128
38.4K
75.6K
793.3K
choco retweetledi
JamalIsMe
JamalIsMe@jamalismcast·
kasian genzet angkatan 2000an lagi di umur produktif nyari duit tapi harus ngadepin situasi kaya gini🥲🥲
Indonesia
29
592
2.4K
44.8K
choco retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
206
6.9K
19.4K
839.6K