
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
19.4K posts

Shela ‘Oxfara’ Sundawa
@oxfara
Dokter Spesialis Anak


Ini ngawurnya aseli "keterlaluan". Masa setiap menu mewakili setiap zat gizi? Ga sabar nunggu habis lebaran gimana nanti...









Porsi ini ga layak untuk anak SD. Yuk sini saya kasih liat itung2annya kenapa saya bilang ga layak. Anggaplah anak umur 7 tahun BB 25 kg, TB ideal untuk usianya, kebutuhan kalori sesuai RDA 70-80 kkal/kg. Total kebutuhan kalori= 70 kkal x 25 kg =1.750 kkal, anggaplah ini anak cuma makan utama aja ga pake snack. Artinya 1750 kkal dibagi 3 = ~ 580 kkal Jadi sekali makan dia musti dapet 580 kkal Sementara, kebutuhan AKG protein untuk anak 7 tahun 40 gram/hari. Sekarang mari kita analisis dari rincian makanan yg dikasih Potato wedges 4 biji, 1 dimsum, 1 tempe ungkep dan susu indomilk. Asumsi susu indomilk yg kecil sesuai foto yg sering beredar maka perkiraan kalori yg didapat kira2 ~ 300 kkal dan protein ~ 10 gram Kesimpulannya Makanan yg disajikan jauh di bawah kebutuhan nutrisi anak. Bila diteruskan asupan nutrisi ini anak akan berisiko mengalami malnutrisi alias kurang gizi. Jadi alih2 memperbaiki atau memenuhi gizi anak, makanan yg diberikan justru berisiko membuat anak gagal tumbuh

Keterlibatan Rockefeller di Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Filantropi atau Ancaman Baru? Dukungan Rockefeller Foundation terhadap program MBG Indonesia sekilas terlihat seperti angin segar. Tapi, jika kita bedah dari kacamata Demografi, Kesehatan, & Korupsi, ada "red flags" yang tidak boleh kita abaikan. 🚩 Saya coba analisis beberapa aspen yg mengkhawatirkan yg muncul pada prakteknya selama ini: 1. DEMOGRAFI: Penyeragaman Pangan & Hilangnya Kedaulatan Lokal Indonesia bukan cuma soal beras. Kita punya sagu, jagung, dan ubi. Intervensi yayasan global sering kali membawa "standar nutrisi" yang kaku. • Risikonya: Erosi pola makan tradisional. Kita dipaksa mengikuti model pangan global yang justru bisa mematikan ketahanan pangan lokal di pelosok. • Dampaknya: Ketergantungan jangka panjang pada metodologi luar negeri. Apakah kita sedang membangun kemandirian atau justru ketergantungan baru? 2. KESEHATAN: Fokus pada "Plester", Bukan Akar Masalah MBG seringkali hanya jadi solusi di permukaan. Memberi makan anak tanpa memperbaiki sanitasi, ketersediaan air bersih, kemandirian dalam penyediaan pangan sehat itu sia-sia. • Logistik vs Gizi: Untuk skala jutaan anak, prakteknya selama ini makanan olahan/fortifikasi jauh lebih dipilih dalam distribusinya daripada pangan segar. Lihat saja MBG rapelan saat libur lebran atau libur sekolah yg dipaksakan tetap diberikan. • Masalah Baru: Waspada potensi peningkatan konsumsi gula/pengawet dalam paket makanan massal. Kita ingin anak sehat, bukan sekadar kenyang tapi berisiko OBESITAS/DIABETES di masa depan ⚠️ 3. KORUPSI: Rantai Pasok yang Menjadi "Lahan Basah" Birokrasi Indonesia + Proyek Logistik Raksasa = Risiko Tinggi. • Middleman: Keterlibatan pihak ketiga/yayasan internasional bisa menambah lapisan birokrasi yang sulit diaudit. • Corporate Interest: Ada kekhawatiran program ini jadi pintu masuk bagi perusahaan benih/pangan multinasional untuk menguasai pasar domestik dengan dalih "bantuan gizi". • Tanpa transparansi radikal hingga tingkat sekolah, dana MBG rawan "disunat" di tengah jalan. KESIMPULAN: Dukungan internasional memang penting, tapi jangan sampai kita menukar kedaulatan pangan dan integritas birokrasi demi "stempel" bantuan global. Pengawasan publik harus super ketat! 🧐 Gimana menurut teman2 di sini? Apakah keterlibatan lembaga asing di program nasional seperti ini murni bantuan atau ada agenda lain? ⬇️ #MakanBergiziGratis #Rockefeller #KebijakanPublik #Indonesia #Stunting rockefellerfoundation.org/news/governmen…







Keterlibatan Rockefeller di Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Filantropi atau Ancaman Baru? Dukungan Rockefeller Foundation terhadap program MBG Indonesia sekilas terlihat seperti angin segar. Tapi, jika kita bedah dari kacamata Demografi, Kesehatan, & Korupsi, ada "red flags" yang tidak boleh kita abaikan. 🚩 Saya coba analisis beberapa aspen yg mengkhawatirkan yg muncul pada prakteknya selama ini: 1. DEMOGRAFI: Penyeragaman Pangan & Hilangnya Kedaulatan Lokal Indonesia bukan cuma soal beras. Kita punya sagu, jagung, dan ubi. Intervensi yayasan global sering kali membawa "standar nutrisi" yang kaku. • Risikonya: Erosi pola makan tradisional. Kita dipaksa mengikuti model pangan global yang justru bisa mematikan ketahanan pangan lokal di pelosok. • Dampaknya: Ketergantungan jangka panjang pada metodologi luar negeri. Apakah kita sedang membangun kemandirian atau justru ketergantungan baru? 2. KESEHATAN: Fokus pada "Plester", Bukan Akar Masalah MBG seringkali hanya jadi solusi di permukaan. Memberi makan anak tanpa memperbaiki sanitasi, ketersediaan air bersih, kemandirian dalam penyediaan pangan sehat itu sia-sia. • Logistik vs Gizi: Untuk skala jutaan anak, prakteknya selama ini makanan olahan/fortifikasi jauh lebih dipilih dalam distribusinya daripada pangan segar. Lihat saja MBG rapelan saat libur lebran atau libur sekolah yg dipaksakan tetap diberikan. • Masalah Baru: Waspada potensi peningkatan konsumsi gula/pengawet dalam paket makanan massal. Kita ingin anak sehat, bukan sekadar kenyang tapi berisiko OBESITAS/DIABETES di masa depan ⚠️ 3. KORUPSI: Rantai Pasok yang Menjadi "Lahan Basah" Birokrasi Indonesia + Proyek Logistik Raksasa = Risiko Tinggi. • Middleman: Keterlibatan pihak ketiga/yayasan internasional bisa menambah lapisan birokrasi yang sulit diaudit. • Corporate Interest: Ada kekhawatiran program ini jadi pintu masuk bagi perusahaan benih/pangan multinasional untuk menguasai pasar domestik dengan dalih "bantuan gizi". • Tanpa transparansi radikal hingga tingkat sekolah, dana MBG rawan "disunat" di tengah jalan. KESIMPULAN: Dukungan internasional memang penting, tapi jangan sampai kita menukar kedaulatan pangan dan integritas birokrasi demi "stempel" bantuan global. Pengawasan publik harus super ketat! 🧐 Gimana menurut teman2 di sini? Apakah keterlibatan lembaga asing di program nasional seperti ini murni bantuan atau ada agenda lain? ⬇️ #MakanBergiziGratis #Rockefeller #KebijakanPublik #Indonesia #Stunting rockefellerfoundation.org/news/governmen…














