Shela ‘Oxfara’ Sundawa

19.4K posts

Shela ‘Oxfara’ Sundawa banner
Shela ‘Oxfara’ Sundawa

Shela ‘Oxfara’ Sundawa

@oxfara

Dokter Spesialis Anak

Jakarta, Indonesia Katılım Nisan 2009
600 Takip Edilen97.6K Takipçiler
rthsdv
rthsdv@ratihsdv·
@oxfara Fyi susu kotak 125 ml proteinnya cuma 4 g
rthsdv tweet media
Indonesia
1
0
0
259
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
Porsi ini ga layak untuk anak SD. Yuk sini saya kasih liat itung2annya kenapa saya bilang ga layak. Anggaplah anak umur 7 tahun BB 25 kg, TB ideal untuk usianya, kebutuhan kalori sesuai RDA 70-80 kkal/kg. Total kebutuhan kalori= 70 kkal x 25 kg =1.750 kkal, anggaplah ini anak cuma makan utama aja ga pake snack. Artinya 1750 kkal dibagi 3 = ~ 580 kkal Jadi sekali makan dia musti dapet 580 kkal Sementara, kebutuhan AKG protein untuk anak 7 tahun 40 gram/hari. Sekarang mari kita analisis dari rincian makanan yg dikasih Potato wedges 4 biji, 1 dimsum, 1 tempe ungkep dan susu indomilk. Asumsi susu indomilk yg kecil sesuai foto yg sering beredar maka perkiraan kalori yg didapat kira2 ~ 300 kkal dan protein ~ 10 gram Kesimpulannya Makanan yg disajikan jauh di bawah kebutuhan nutrisi anak. Bila diteruskan asupan nutrisi ini anak akan berisiko mengalami malnutrisi alias kurang gizi. Jadi alih2 memperbaiki atau memenuhi gizi anak, makanan yg diberikan justru berisiko membuat anak gagal tumbuh
MinDos@dosenkesmas

Ini ngawurnya aseli "keterlaluan". Masa setiap menu mewakili setiap zat gizi? Ga sabar nunggu habis lebaran gimana nanti...

Indonesia
20
702
1.4K
49.2K
R Dwika
R Dwika@RSound1297114·
@oxfara udah ada yg bilang dokter " anak abah blum? " atau barisan sakit hati?
Indonesia
1
0
0
440
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
Wah ini menu kok ga ada karbohidratnya ya? Masa karbohidrat cuma dari kurma aja ya. Oiya, Kurmanya brp buah ya yg diberikan Perkiraan saya mungkin kandungan kalori sekitar 200-250 kkal (tergantung jumlan kurma), protein sekitar 18 gram (35% total kalori). Karbohidrat sekitar 25% total kalori. Ini menu total kalorinya kurang. Persentase karbohidratnya jg kurang. Ga ideal dan ga cukup untuk kebutuhan anak. Menu ini cocoknya ditambahin nasi 1 1/2 centong, trus tambahin sayur sama buah. Nah itu baru gizi seimbang dan sesuai kebutuhan
Indonesia
0
0
15
1.4K
niam
niam@NiamSadiyah·
@oxfara Kalau ini, gimana Dok?
niam tweet media
Indonesia
1
0
0
1.5K
Kumaha We Lah 🦋
Kumaha We Lah 🦋@fakir_ilmoe·
@oxfara Menunjukkan sesuatu yang benar itu bagian dari mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari keburukan. Bisa jadi menurut manusia tidak ada manfaatnya, tetapi belum tentu bagi Yang Menciptakan Alam ini, Allah SWT. Bukankah kebaikan/ keburukan sebesar zarah pun ada balasannya?
Indonesia
1
4
22
3K
rifki
rifki@maulanarifki·
@oxfara Yatuhan dok, cape2 dipikirin dan dihitungin. Padahal itu mereka juga asal tulis aja, nggak peduli isinya apaan. Yg penting uang masuk.
Indonesia
2
0
56
2.7K
Lutfi Nur Farid
Lutfi Nur Farid@lutfithe13th·
@oxfara Masalah problem stunting diberi solusi berupa makanan bergizi utk anak sekolah aja kalo ide koas udah disuruh ngulang stase pediatri... 😂
Indonesia
1
1
9
256
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
@LambeSahamjja Mungkin krn program MBG ga murni dari APBN? x.com/oxfara/status/…
Shela ‘Oxfara’ Sundawa@oxfara

Keterlibatan Rockefeller di Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Filantropi atau Ancaman Baru? Dukungan Rockefeller Foundation terhadap program MBG Indonesia sekilas terlihat seperti angin segar. Tapi, jika kita bedah dari kacamata Demografi, Kesehatan, & Korupsi, ada "red flags" yang tidak boleh kita abaikan. 🚩 Saya coba analisis beberapa aspen yg mengkhawatirkan yg muncul pada prakteknya selama ini: 1. DEMOGRAFI: Penyeragaman Pangan & Hilangnya Kedaulatan Lokal Indonesia bukan cuma soal beras. Kita punya sagu, jagung, dan ubi. Intervensi yayasan global sering kali membawa "standar nutrisi" yang kaku. • Risikonya: Erosi pola makan tradisional. Kita dipaksa mengikuti model pangan global yang justru bisa mematikan ketahanan pangan lokal di pelosok. • Dampaknya: Ketergantungan jangka panjang pada metodologi luar negeri. Apakah kita sedang membangun kemandirian atau justru ketergantungan baru? 2. KESEHATAN: Fokus pada "Plester", Bukan Akar Masalah MBG seringkali hanya jadi solusi di permukaan. Memberi makan anak tanpa memperbaiki sanitasi, ketersediaan air bersih, kemandirian dalam penyediaan pangan sehat itu sia-sia. • Logistik vs Gizi: Untuk skala jutaan anak, prakteknya selama ini makanan olahan/fortifikasi jauh lebih dipilih dalam distribusinya daripada pangan segar. Lihat saja MBG rapelan saat libur lebran atau libur sekolah yg dipaksakan tetap diberikan. • Masalah Baru: Waspada potensi peningkatan konsumsi gula/pengawet dalam paket makanan massal. Kita ingin anak sehat, bukan sekadar kenyang tapi berisiko OBESITAS/DIABETES di masa depan ⚠️ 3. KORUPSI: Rantai Pasok yang Menjadi "Lahan Basah" Birokrasi Indonesia + Proyek Logistik Raksasa = Risiko Tinggi. • Middleman: Keterlibatan pihak ketiga/yayasan internasional bisa menambah lapisan birokrasi yang sulit diaudit. • Corporate Interest: Ada kekhawatiran program ini jadi pintu masuk bagi perusahaan benih/pangan multinasional untuk menguasai pasar domestik dengan dalih "bantuan gizi". • Tanpa transparansi radikal hingga tingkat sekolah, dana MBG rawan "disunat" di tengah jalan. KESIMPULAN: Dukungan internasional memang penting, tapi jangan sampai kita menukar kedaulatan pangan dan integritas birokrasi demi "stempel" bantuan global. Pengawasan publik harus super ketat! 🧐 Gimana menurut teman2 di sini? Apakah keterlibatan lembaga asing di program nasional seperti ini murni bantuan atau ada agenda lain? ⬇️ #MakanBergiziGratis #Rockefeller #KebijakanPublik #Indonesia #Stunting rockefellerfoundation.org/news/governmen…

Indonesia
3
0
19
7.5K
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys kebijakan ini beneran absurd dan paling tolol yang pernah di baut, Sekolah Online Buat Hemat BBM, Tapi MBG Tetap di Sekolah Logikanya Di Mana? Pemerintah mau terapin sekolah online mulai April 2026 dengan alasan hemat BBM di tengah krisis energi akibat perang Iran. Oke, alasan energinya masuk akal. Tapi kenapa yang dikorbankan pendidikan anak-anak? Industri besar, kendaraan komersial, dan konsumsi energi korporat yang jauh lebih boros itu ga disentuh. Yang paling gampang dikorbanin ya sekolah, karena murid ga bisa protes. Yang paling absurd MBG tetap jalan dan pelaksanaannya di sekolah tanpa skema jelas gimana siswa yang harusnya belajar online bisa tetap dapet makanannya. Artinya orang tua harus tetap antar anak ke sekolah buat ngambil makan, padahal anaknya harusnya belajar dari rumah. Ngirit BBM katanya tapi orang tua malah bolak-balik tambah boros bensin. Ini bukan kebijakan yang dipikirkan matang. Ini dua program pemerintah yang jalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi dan rakyat kecil yang nanggung kekacauannya. Persis seperti yang dikatakan pengamat tambal sulam yang dipaksa terlihat rapi. Kalau mau hemat energi, beresin dulu koordinasi antar kementeriannya. Jangan jadikan ruang kelas sebagai korban dari kebijakan yang ga sinkron. Anak-anak Indonesia udah pernah kehilangan dua tahun belajar waktu pandemi kita ga boleh ulangi kesalahan yang sama hanya karena negara gagal kelola energinya sendiri.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
343
3K
6.1K
124.5K
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
Saya tanggapi satu2 ya 1. RRC GDP-nya raksasa, India sudah cicil program dari 1925. Kita? Tax ratio cuma 10% tapi gaya hidup fiskal mau ala negara maju. Itu namanya bukan "wajar", tapi maksa. 2. Logistik & Gizi (Sagu di Papua) • Di Papua makan sagu? Oke. Tapi stunting itu kurang protein hewani, bukan kurang karbohidrat. Kasih sagu doang tanpa ikan/telur itu namanya program "Kenyang Doang", bukan perbaikan gizi. Logistik protein ke pelosok itu yang mahal! 3. Risiko Korupsi (Tol MBZ) • Tol dikorupsi, aspalnya yang retak. MBG dikorupsi, otak generasi depan yang boncos. Menormalisasi korupsi sebagai "risiko umum" di program makan anak itu level apatisnya sudah keterlaluan.
Indonesia
3
2
15
274
d'animosity
d'animosity@muttle9·
@oxfara Umum: RRC dg GDP/cap lebih tinggi dari RI & India lebih rendah dari RI punya MBG masing2, jadi MBG wajar2 aja Demografi : anggaran MBG kan utk dibelanjakan lokal? Di Papua ya sagu lah Korupsi: tol MBZ aja yang menyandang nama pemimpin negara sahabat dikorupsi? Ini resiko umum
Indonesia
1
0
0
414
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
Keterlibatan Rockefeller di Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Filantropi atau Ancaman Baru? Dukungan Rockefeller Foundation terhadap program MBG Indonesia sekilas terlihat seperti angin segar. Tapi, jika kita bedah dari kacamata Demografi, Kesehatan, & Korupsi, ada "red flags" yang tidak boleh kita abaikan. 🚩 Saya coba analisis beberapa aspen yg mengkhawatirkan yg muncul pada prakteknya selama ini: 1. DEMOGRAFI: Penyeragaman Pangan & Hilangnya Kedaulatan Lokal Indonesia bukan cuma soal beras. Kita punya sagu, jagung, dan ubi. Intervensi yayasan global sering kali membawa "standar nutrisi" yang kaku. • Risikonya: Erosi pola makan tradisional. Kita dipaksa mengikuti model pangan global yang justru bisa mematikan ketahanan pangan lokal di pelosok. • Dampaknya: Ketergantungan jangka panjang pada metodologi luar negeri. Apakah kita sedang membangun kemandirian atau justru ketergantungan baru? 2. KESEHATAN: Fokus pada "Plester", Bukan Akar Masalah MBG seringkali hanya jadi solusi di permukaan. Memberi makan anak tanpa memperbaiki sanitasi, ketersediaan air bersih, kemandirian dalam penyediaan pangan sehat itu sia-sia. • Logistik vs Gizi: Untuk skala jutaan anak, prakteknya selama ini makanan olahan/fortifikasi jauh lebih dipilih dalam distribusinya daripada pangan segar. Lihat saja MBG rapelan saat libur lebran atau libur sekolah yg dipaksakan tetap diberikan. • Masalah Baru: Waspada potensi peningkatan konsumsi gula/pengawet dalam paket makanan massal. Kita ingin anak sehat, bukan sekadar kenyang tapi berisiko OBESITAS/DIABETES di masa depan ⚠️ 3. KORUPSI: Rantai Pasok yang Menjadi "Lahan Basah" Birokrasi Indonesia + Proyek Logistik Raksasa = Risiko Tinggi. • Middleman: Keterlibatan pihak ketiga/yayasan internasional bisa menambah lapisan birokrasi yang sulit diaudit. • Corporate Interest: Ada kekhawatiran program ini jadi pintu masuk bagi perusahaan benih/pangan multinasional untuk menguasai pasar domestik dengan dalih "bantuan gizi". • Tanpa transparansi radikal hingga tingkat sekolah, dana MBG rawan "disunat" di tengah jalan. KESIMPULAN: Dukungan internasional memang penting, tapi jangan sampai kita menukar kedaulatan pangan dan integritas birokrasi demi "stempel" bantuan global. Pengawasan publik harus super ketat! 🧐 Gimana menurut teman2 di sini? Apakah keterlibatan lembaga asing di program nasional seperti ini murni bantuan atau ada agenda lain? ⬇️ #MakanBergiziGratis #Rockefeller #KebijakanPublik #Indonesia #Stunting rockefellerfoundation.org/news/governmen…
Indonesia
7
107
170
16.5K
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
@piyopikavet Beda banget karena USAID kerja sama G to G, jd birokrasi lebih ketat dan KPI nya jelas. Tapi Rockefeller kan yayasan non profit shg birokrasi dan pengawasannya ga seketat USAID. KPI pun ga jelas dan rawan penyimpangan
Indonesia
0
2
0
229
Panggil aja Purbo
Panggil aja Purbo@piyopikavet·
Kalo udah ada keterlibatan asing begini, apa bedanya sih dengan keterlibatan USAID/organisasi lainnya buat support program kesehatan dsb (terlepas debatable banget urgensi+parameter tiap programnya) Lalu kenapa jg gelombang narasi dana Soros kapan hari berisik banget ya kan?
Shela ‘Oxfara’ Sundawa@oxfara

Keterlibatan Rockefeller di Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Filantropi atau Ancaman Baru? Dukungan Rockefeller Foundation terhadap program MBG Indonesia sekilas terlihat seperti angin segar. Tapi, jika kita bedah dari kacamata Demografi, Kesehatan, & Korupsi, ada "red flags" yang tidak boleh kita abaikan. 🚩 Saya coba analisis beberapa aspen yg mengkhawatirkan yg muncul pada prakteknya selama ini: 1. DEMOGRAFI: Penyeragaman Pangan & Hilangnya Kedaulatan Lokal Indonesia bukan cuma soal beras. Kita punya sagu, jagung, dan ubi. Intervensi yayasan global sering kali membawa "standar nutrisi" yang kaku. • Risikonya: Erosi pola makan tradisional. Kita dipaksa mengikuti model pangan global yang justru bisa mematikan ketahanan pangan lokal di pelosok. • Dampaknya: Ketergantungan jangka panjang pada metodologi luar negeri. Apakah kita sedang membangun kemandirian atau justru ketergantungan baru? 2. KESEHATAN: Fokus pada "Plester", Bukan Akar Masalah MBG seringkali hanya jadi solusi di permukaan. Memberi makan anak tanpa memperbaiki sanitasi, ketersediaan air bersih, kemandirian dalam penyediaan pangan sehat itu sia-sia. • Logistik vs Gizi: Untuk skala jutaan anak, prakteknya selama ini makanan olahan/fortifikasi jauh lebih dipilih dalam distribusinya daripada pangan segar. Lihat saja MBG rapelan saat libur lebran atau libur sekolah yg dipaksakan tetap diberikan. • Masalah Baru: Waspada potensi peningkatan konsumsi gula/pengawet dalam paket makanan massal. Kita ingin anak sehat, bukan sekadar kenyang tapi berisiko OBESITAS/DIABETES di masa depan ⚠️ 3. KORUPSI: Rantai Pasok yang Menjadi "Lahan Basah" Birokrasi Indonesia + Proyek Logistik Raksasa = Risiko Tinggi. • Middleman: Keterlibatan pihak ketiga/yayasan internasional bisa menambah lapisan birokrasi yang sulit diaudit. • Corporate Interest: Ada kekhawatiran program ini jadi pintu masuk bagi perusahaan benih/pangan multinasional untuk menguasai pasar domestik dengan dalih "bantuan gizi". • Tanpa transparansi radikal hingga tingkat sekolah, dana MBG rawan "disunat" di tengah jalan. KESIMPULAN: Dukungan internasional memang penting, tapi jangan sampai kita menukar kedaulatan pangan dan integritas birokrasi demi "stempel" bantuan global. Pengawasan publik harus super ketat! 🧐 Gimana menurut teman2 di sini? Apakah keterlibatan lembaga asing di program nasional seperti ini murni bantuan atau ada agenda lain? ⬇️ #MakanBergiziGratis #Rockefeller #KebijakanPublik #Indonesia #Stunting rockefellerfoundation.org/news/governmen…

Indonesia
1
10
18
600
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
@Riosept02 Lah justru di UU yg sama jelas2 tertulis bahwa vaksin adalah hak anak. Orangtua yg ga ngasih vaksin ya berarti abai sama hak anak. Gimane
Indonesia
3
3
14
580
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
Ga semua orang akan paham manfaat vaksin, karena kesuksesan pemberian vaksin itu dicerminkan dengan menghilangnya penyakit2 mengerikan yg berhasil dicegah oleh vaksin itu sendiri. Ketika penyakit yg menyeramkan (contohnya polio) seolah2 menghilang krn orang uda pada kebal, akan muncul pihak2 yg mulai mempertanyakan urgensi vaksin. “Anakku ga divaksin juga sehat”. Seolah menihilkan semua kerja keras orang pendahulunya yg mati2an bikin vaksin dan bikin program vaksin yg diterima banyak orang. Nah di saat itulah penyakit menyeramkan yg dulu mulai hilang akan muncul lagi, di generasi baru seperti, campak, difteri, pertusis dan lain2. Setelah ini terjadi, banyak orang yg akan sadar bahwa vaksin itu ternyata memang urgent dan penting, akhirnya mereka akan menghadapi ketakutannya untuk nyuntikin generasi selanjutnya dengan vaksin biar ga sakit2an kayak generasi mereka. Ya ini skenario panjang kalau kita belum punah sih. Jadi menurut saya buat bantu membypass proses pikir sebagian orang yg ga bisa mikir jangka panjang, PROGRAM VAKSIN HARUSNYA DIBUAT MANDATORY atau WAJIB. Ga pandang status pendidikan, status harta, siapa orangtaunya. Jangan dibikin opsi, krn sejatinya anak sehat yg ga divaksin itu merugikan anak2 yang lain. Terutama anak yang memang tidak bisa divaksin karena penyakit tertentu, atau anak bayi yg belum cukup umurnya untuk divaksin
Indonesia
8
241
376
13.6K
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
Setahun belakangan ini mundur dari bahasan soal kesehatan masyarakat yg nyinggung2 politik, tapi semakin ke sini program yg satu itu makin bikin kita elus dada. Mungkin kritik ku ga akan didengar dan ga akan ubah apa2, tapi sebagi dokter dan sebagai ibu, rasanya aku ga bisa sih diem2 aja ngelihat program ini makin ngalor ngidul dan rasanya malah bisa bikin masalah baru
Indonesia
1
8
54
3.7K
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
"Diam dan pegang tanganku!" — Kalimat sederhana dari seorang istri saat bersalin ini memicu riset besar selama 5 tahun. Pavel Goldstein, seorang peneliti nyeri, penasaran kenapa rasa sakit istrinya berkurang saat ia menggenggam tangannya di ruang bersalin. Ia lalu meneliti 22 pasangan dengan topi EEG untuk melihat apa yang terjadi di dalam otak mereka. Hasilnya luar biasa. Ini yang disebut dengan "Brain-to-Brain Coupling": 1. Nyeri Itu 'Menjauhkan' Secara Biologis Saat istri merasakan nyeri tapi suami tidak menyentuhnya, sinkronisasi gelombang otak mereka justru anjlok (hanya 5 koneksi terverifikasi). Nyeri seolah menciptakan dinding pembatas antara pasangan. 2. Genggaman Tangan adalah 'Jembatan' Begitu mereka bergandengan tangan saat nyeri, jumlah koneksi otak melonjak jadi 22—lebih dari 4x lipat! Otak mereka seolah "mengunci" satu sama lain pada frekuensi yang sama. 3. Semakin Sinkron, Semakin Redup Nyerinya Data menunjukkan: • Semakin tinggi sinkronisasi otak, semakin rendah rasa nyeri yang dilaporkan istri. • Di saat yang sama, akurasi empati suami (kemampuan merasakan tingkat nyeri istri) meningkat tajam. Kenapa ini bisa terjadi? Riset tahun 2023 di jurnal Brain Sciences mengungkap bahwa sentuhan lembut mengaktifkan "saklar" pereda nyeri alami di otak yang terhubung dengan pelepasan Oksitosin. Merasa dipahami dan didukung oleh pasangan secara fisik ternyata benar-benar mengubah cara otak memproses rasa sakit. Catatan Penting: Efek "ajaib" ini tidak terjadi pada orang asing. Harus ada ikatan emosional agar frekuensi otak bisa saling mengunci. Pesan untuk para suami/pasangan: Jangan remehkan kehadiran fisik dan sentuhan kecil saat pasangan sedang berjuang (baik saat sakit atau bersalin). Secara sains, genggaman tanganmu bukan sekadar gestur manis, tapi "obat" alami yang membantu otaknya bertahan. Ternyata, sains membuktikan apa yang sudah lama dirasakan hati. 🤍 #Sains #Parenting #CoupleGoals #Neuroscience #HealthTips Sumber: Brain-to-brain coupling during handholding is associated with pain reduction. pnas.org/doi/10.1073/pn…
Indonesia
3
137
421
15.2K
Ksoo
Ksoo@kysooyaa·
@oxfara oiya anakku keduanya udah vaksin mmr juga yg kocak itu waktu aku berobat ke dokter, pas dokter bilang diagnosanya sambil ngeledek "ibu ini mah sakitnya bocil bu, ibu gondongan" 😭
Indonesia
1
0
0
59
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
Belakangan saya dengar banyak cerita tentang pengalaman buruk dari orangtua pasca anaknya divaksin. Padahal sebenarnya bila dirunut, apa yang dikeluhkan itu tidak ada hubungannya dengan vaksin alias kebetulan saja. Nah sekarang saya pengen ngumpulin cerita2 baik soal vaksin dari orangtua yg udah sukses bikin anak2nya sehat & terhindar dari penyakit. Kebetulan saya ada THR u/ 3 cerita paling menarik @ 50K akan dikirim via gopay. Yuk ceritakan di sini ditunggu sampai tgl 24 Maret 2026 jam 8 mlm
Indonesia
12
20
73
24.5K