Strootsy@strootsys
Wolves resmi degradasi dari Premier League. Damn, setelah empot-empotan ga selamat juga ini klub.
Terakhir kali mereka menang di liga itu awal Maret. Tebak lawan siapa? Liverpool-nya Arne Slot. XD
Pengen bahas salah satu ‘what if’ terbesar Wolves: Vitinha. Ada yg tau ga midfield maestro PSG ini pernah mampir ke Wolves?
Ceritanya, pas pandemi, FC Porto lagi ada financial problem. Mereka terpaksa ngelepas beberapa pemain buat longgarin keuangan klub. Dua pemain pindah ke Wolves: Fabio Silva & Vitinha.
Silva dijual permanen £35juta, sementara Vitinha di-loan semusim pakai klausul beli £17juta. Harapannya Porto, Wolves mau nebus Vitinha di akhir musim. Namanya lagi BU, it’s okay, semua cara yg paling bisa ngasih profit dicoba.
Vitinha yg seumur hidup di Portugal & temenan sm expat, akhirnya jadi expat di Inggris. Adaptasinya waktu itu sama sekali gak gampang, entah di dalam atau di luar lapangan.
Secara total, selama semusim dia main 22 kali, mostly dari bangku cadangan, bikin 1 gol & 1 assist. Temen setimnya, Fernando Marcal, pernah ditanya L’Equipe kenapa Vitinha gak works di Wolves. Jawabannya, gaya main Vitinha ga mengakomodir skema si pelatih, Nuno Espirito Santo.
Vitinha suka carry bola lama buat baca tempo, sementara Nuno maunya dia main simple & cepet ngalir. Menuju akhir musim, Nuno dipecat Wolves. Pelatih penggantinya, Bruno Lage, gak mau permanenin Vitinha. Dia pikir £17juta itu perjudian yg terlalu berisiko. Ya udah deh.
Akhirnya, buat musim 2021/22, Vitinha balik ke Porto & di-plot jadi deep lying playmaker. Pas bursa transfer, Porto nawarin Vitinha lagi ke Wolves (masih BU 😭) tapi Wolves tetep ga mau bayarin.
Eh ternyata Vitinha konsisten bagus sampe akhir musim dan dateng lah PSG nawar dia 2 kali lipat dr tawaran Porto ke Wolves, £34juta. And the rest is history.
Tahun lalu, Rio Ferdinand interviu Vitinha sblm final UCL & nanya soal ‘flop’-nya dia di Wolves. Vitinha jawab: “context is everything.”
Di atas, gue udah jelasin konteksnya. Kalo kita emang ga berjodoh sm sesuatu, mau dicoba gimana pun ga akan bisa. Bisa tanya juga ke Serge Gnabry yg 2016 ga dapet menit main di West Brom, tapi 2 tahun kemudian malah jadi starter di Bayern München.
You can’t rush greatness. 💫