p

48.9K posts

p banner
p

p

@pandhus

Sleman Katılım Ocak 2010
730 Takip Edilen1.7K Takipçiler
p
p@pandhus·
@papahethole susah bedakan ori kawenya mas
Indonesia
0
0
0
53
p retweetledi
Iman Zanatul Haeri
Iman Zanatul Haeri@zanatul_91·
Yaampun, cuma pesawat yang harganya gak sampe anggaran MBG satu minggu saja kok diberitakan heboh. Setelah ada MBG, dunia ini terasa murah.
Iman Zanatul Haeri tweet media
Indonesia
153
4.7K
13.3K
202.5K
p
p@pandhus·
udan deres delet mesti mati listrik ngene piye ameh perang
Indonesia
1
0
1
496
p retweetledi
Dosen Pembimbing
Dosen Pembimbing@Dospemz·
Sekelas pejabat negara yang dgaji oleh pajak kita ketika ditanya soal pos anggaran lalu jawabannya cuma, “pokoknya ada,” itu sudah cukup menggambarkan betapa rendahnya standar akuntabilitas yang sedang dipertontonkan. Gini amat negara dikelola 😢
Jejak digital.@ARSIPAJA

Seskab Teddy: "Pokoknya ada"

Indonesia
278
10.3K
19.2K
265.8K
p retweetledi
meki
meki@mekitron·
plis deh ga usah lebay, its just an mv not a jon jost absolute slow cinema. kl mengesampingkan aspek lokasi geografisnya, bisa dibaca sbg representasi nyaris literal dr lagu cengeng anti harmoko ttg seorang "paduka" yang belum puas dengan drama mempermalukan diri sendirinya habis breakup sama seorang permaisuri tanpa nama (cukup the poetic "kau"). sebats? duabats tigabats sok iye melawan aturan nonsmoking di wahana karnaval? silakan dilanjutkan sepuasnya self-deprecationnya. apakah memang lebih kocak dari aldi dan lebih payah dari seni farid stevy? oh dia masih sedih ciyan, dunia hanya milik berdua dengan sebungkus dj*rum black dan idgaf abt passive smoking! wow rebel banget. silakan dilanjutkan sepuasnya. eh tapi sebelum mempertimbangkan aspek kejakartaan video clip ini, lets remember, bukannya karnaval adalah always already dunia upside down di mana semuanya terbalik termasuk moralitas dan aturan2 ya? menjadi sok iye di sebuah tempat yg sudah menihilkan norma2 bukannya jadi... rustang? apalagi memasuki konteks kewarlokan jakartanya. mari sambungkan ini dengan gegap gempita "desentralisasi" dan "dekolonisasi" skena musik indonesia melawan penjajah jawakarta yang dipimpin oleh les jeblogs. aux armes et cetera. imaji yg disuguhkan setelah memasukkan aspek2 ini bisa dibaca sebagai sebuah usaha pemberontakan pahlawan usda terhadap keproperan moralitas police state jakarta yg lebih peduli dengan all mod cons dan aturan2 kesehatan daripada drama tusbung-tusbung seorang paduka dari perbatasan kraton ngayogyarta hadiningrat dengan kawasan yang dulu disebut mancanegara. masalahnya sang paduka memakai peta sultan agung waktu merencanakan pemberontakannya di ibukota. kok malah ke dunia fantasi? namanya juga dunia fantasi. anything goes. who cares mau sebats atau seribu bats lagi? dan obyek turisme dari akhir abad lalu ini pun bukan lagi benteng pertahanan jakarta yg paling strategis untuk menolak serangan dari jawa. wahana2 usang yang cuma menarik karena aspek retronya sekarang. passé. rustang. hauntology. tanya sama ucok aja soal ini. kalau mau bener2 memberontak melawan keproperan jakarta, ke plaza indonesia, naik ke lantai 3 ada miniapolis, trus antri naik kereta gandeng keliling atmos sama adik2 balita sambil sebats. belum seperempat pasti udah dipersilakan dengan manis oleh satpam untuk ke blok m saja. itu baru pemberontakan! atau ke ashta. terserahlah mau ngapain di sana. just a word of caution: kathokmu kurang baggy kurang melorot trus srandhal gunungmu kurang swag. ur lack of swag, is ur curse.
Deon Welodio@weldgoods

kadang yang perlu kita luruskan bukan karyanya, tapi cara kita memahaminya. menganggap satu adegan dalam video klip sebagai bentuk normalisasi perilaku justru menunjukkan betapa dangkalnya cara kita membaca karya. seni sejak dulu tidak pernah diciptakan untuk menjadi buku panduan moral yang steril, melainkan untuk merepresentasikan realitas, emosi, dan perspektif manusia apa adanya. yang juga sering dilupakan, audiens bukan sekumpulan orang tanpa nalar yang langsung meniru apa yang mereka lihat. masyarakat punya kemampuan berpikir, menilai konteks, dan memisahkan mana ekspresi artistik dan mana perilaku yang pantas dijadikan teladan. ketika setiap visual langsung dianggap berbahaya, sebenarnya yang sedang kita lakukan adalah merendahkan kapasitas publik itu sendiri. lebih jauh lagi, jika logika ini terus dipakai, maka banyak karya seni harus disensor hanya karena ada kemungkinan disalahartikan. film tidak boleh menampilkan kekerasan, musik tidak boleh menampilkan kegelisahan, sastra tidak boleh menyinggung realitas yang pahit. padahal justru di situlah fungsi seni, memotret kehidupan dengan jujur, bahkan ketika kenyataan itu tidak selalu nyaman dilihat. jadi sebelum buru buru menuduh sebuah karya sebagai bentuk normalisasi, mungkin yang lebih perlu diperkuat adalah kedewasaan kita dalam membaca karya. karena sering kali yang bermasalah bukan ekspresinya, melainkan cara sebagian orang terlalu cepat menghakimi tanpa benar benar memahami konteksnya.

Indonesia
1
30
104
14.4K
Victor
Victor@Vic200tor·
City celebrating like they just won the UCL, embarrassing club man
English
461
44
1.6K
1.6M
p
p@pandhus·
Spurs degradasi, instant karma
Lietuvių
0
0
0
167