+ tidak benar-benar terkunci sempurna pada tempatnya, karena seperti itulah dia biasa mengenakan helm.
"Gramed aja dulu. Perlu buka maps gak?" Satu tangan menahan kaca helm untuk tetap terangkat dan tidak menghalangi pandangan sementara tangan yang satu sudah memegang gawai. +
@jeyukeprok Jujur, malah jadi makin bingung. Alhasil hanya diam menatap selama beberapa saat. "Ya- aku gak tau...?" Sebenarnya kamu apa? "Telpon aja kalau memang urgent."
@penutupsurya Kalau cari Abang, mukaku gak akan begini; batinnya. Namun ia pertahankan senyum tipis itu, dan akhirnya bicara, "Kenapa enggak? Biasanya iya?"
+ berdiam seperti ini tentunya tidak akan menguntungkan keduanya.
Sambil membuka daftar barang-barang yang dibutuhkan, yang bersangkutan kembali melempar lirik kearah lawan bicaranya, @krusialisasi. "Sama mau naik apa? Lo ada kendaraan?"
+ iuran yang mereka pungut tadi, akan lebih baik kalau uang dan catatan tersebut tidak banyak berpindah tangan.
Jadi, di sinilah mereka sekarang.
"Jadi kita mau kemana dulu?" Gerhana memecah sepi. Matahari sudah semakin condong ke barat dan langit sudah semakin gelap. Lama +
@krusialisasi Puas atas apa yang dia dengar, Gerhana akhirnya balas mengulas senyum sebelum lagi-lagi menyamankan posisinya sebelum akhirnya terlelap. Titik istirahat paling nyaman untuknya, dimana lagi kalau bukan dalam pelukan Alaska?
@penutupsurya Dengan saksama ia perhatikan gerak gerik sang kasih, kepalanya mengikuti titahan pria cantik itu, kemudian membalas kecupan singkatnya dan tersenyum. "Iya gak aku bangunin. Tidur yang nyenyak ya cantiknya Ala."
@krusialisasi "Ya udah." Selang berapa kali kepala bergerak guna ikut mengusal pada telapak Alaska, tangan Gerhana beranjak naik. Dia tarik tengkuk si jingga untuk merunduk sementara dirinya sendiri mendongak, mempertemukan kedua ranum barang sejenak. "Akunya jangan dibangunin dulu."
@penutupsurya Jemarinya mulai menelusur surai merah panjangnya dengan sayang. "Lumayan capek, sih. Tapi nanti kalau kamu tidur, gak lama juga aku pasti nyusul."
@krusialisasi Sempat-sempatnya. Yang dipanggil demikian sampai harus buang muka agar merah yang luntur dari rambut ke wajah tidak disadari oleh lawan bicara. Kendati demikian, dia malah menyamankan posisi dalam rengkuh hangat itu. "Daripada cuma kelonin, mending ikut tidur. Kamu gak capek?"
@krusialisasi Bukannya menjawab, si merah malah angkat kepala guna memberikan tatapan nyalang. Bersamaan dengannya, sebuah pukulan ringan mendarat di kening si jingga.
"Pake nanya." Ternyata suasana hatinya memang sedang tidak baik karena tadi dibangunkan.
@penutupsurya Ia menyingkap lengannya agar Gerhana dapat bersandar dengan nyaman. "Loh, kok jadi salah aku?" Ucap sang adam dengan menatap si cantik yang sedang berkutat dengan gawainya.
@krusialisasi "Gak jadi." Ada dengus di ujung kalimat, walau kepala berakhir bersandar pada pundak lawan bicara dengan netra yang kini terfokus pada gawai. "Ngantuknya hilang gara-gara kamu."