perupadata
5.5K posts

perupadata
@perupadata
Merupa data di negara simpang siur data
Katılım Mayıs 2020
44 Takip Edilen31.5K Takipçiler

Populasi truk itu hanya 3,7% dibanding populasi seluruh kendaraan di Indonesia. Tapi menyumbang 31% emisi dari seluruh kendaraan. Belum lagi kebiasaan praktik Overload & Overdimension (ODOL) yang membahayakan pengguna jalan dan bisa merusak jalan.
Solusinya? Salah satunya harus ada dekarbonisasi. @IESR mengungkap tersedia opsi untuk menurunkan emisi dari truk secara drastis, dengan bonus mengurangi beban APBN terhadap subsidi BBM. Syaratnya harus ada komitmen kuat dan jangka panjang dari pengambil kebijakan.


Indonesia

B35 sudah, B40 sudah jalan, next pemerintah menargetkan B50, alias bahan bakar diesel yang diberi campuran 50% biofuel. Klaim yang dibangun: sumber energi ini lebih bersih dan bisa mengurangi ketergantungan akan impor BBM.
Masalahnya, berdasarkan analisis @IESR , biofuel masih bergantung pada sawit. Sementara peningkatan kebutuhan terhadap suplai minyak sawit tentu akan berdampak pada aspek sosial, dan tentunya lingkungan.
Terlebih, asumsi yang digunakan pada bulan April ini tak lagi relevan karena harga minyak dunia sudah mulai turun, sementara harga minyak sawit justru tetap tinggi.


Indonesia

Pemilik kendaraan listrik serasa diterbangkan tinggi ke langit lewat beragam insentifnya, kemudian diempas kembali ke bumi karena bakal mulai dikenai pajak layaknya kendaraan bermotor pada umumnya.
Analisis dari @IESR , kebijakan yang bergonta-ganti seperti ini tak hanya menghambat dekarbonisasi di sektor transportasi, tapi juga memberikan ketidakpastian pada pasar dan industri, yang akhirnya memperburuk kepercayaan investor dan konsumen.
Padahal kalau skema insentifnya diprioritaskan oleh Presiden, Menko, hingga Menkeu, ada potensi manfaat ekonomi dalam bentuk penghematan anggaran negara.


Indonesia

Bensin? Impor. LPG? Impor. Listrik? Fosil. Bahkan target bauran energi terbarukan di tahun 2025 kemarin pun (23%, sebelum direvisi oleh pemerintah) gagal tercapai.
Lama-lama, fiskal negara dan kelestarian bumi Indonesia yang makin tergerus.
Padahal potensi untuk energi terbarukan itu sedemikian besar. Lalu kita harus apa? Ini rekomendasi dari @IESR


Indonesia

Dari pidato jadi program prioritas, Presiden sudah mencanangkan 100 Gigawatt listrik dari tenaga surya. Angka yang ambisius bahkan jauh melampaui rencana PLN hingga 2034 mendatang.
Tapi ternyata, Indonesia si negara khatulistiwa ini sebetulnya punya potensi tenaga surya lebih dari 100 Gigawatt. Asal, cara memprioritaskannya dengan pendekatan yang benar dan tepat sasaran. Ini dia saran dari @IESR


Indonesia















