Saidiman Ahmad@saidiman
MENGAPA SAYA ENGGAN JADI SOSIALIS
Untuk menjadi seorang sosialis, karakter pertama yang perlu Anda miliki adalah percaya pada negara dan penyelenggara negara. Itu sebabnya kaum sosialis berusaha memberi negara kepercayaan untuk mengelola macam-macam hal. Mereka percaya negara mampu melakukannya.
Mungkin itu sebabnya saya rada susah menjadi seorang sosialis, karena saya selalu curiga pada negara. Ketika negara menjanjikan satu program, saya curiga itu hanya dalih untuk korupsi. Semakin besar wewenang negara, semakin besar uang yang rawan dirampok para penyelenggara negara. Karena itu, kaum sosialis yang mendorong pelibatan negara secara lebih maksimal, di mata saya, seperti mendukung perampokan dana publik secara lebih luas.
Contohnya program koperasi merah putih ini. Negara menyiapkan anggaran sekitar 200 triliun untuk membangun gerai dan pergudangan 80 ribu koperasi sampai 2026. Ini baru kebutuhan fisik, belum kebutuhan operasional dan suntikan dana. Ngapain negara turut campur dalam sistem ekonomi yang dasarnya adalah swadaya masyarakat? Kalau mulai dari pembangunan fisik sampai suntikan dananya dari negara, di mana esensi koperasinya?
Program ini mengingatkan pada program Consejo Communales dari Hugo Chavez sejak 2006 di Venezuela. Condejo Communale adala lembaga di tingkat komunitas yang diinisiasi negara dengan maksud menghidupkan partisipasi penduduk dalam pembangunan di tingkat lokal. Terlihat mulia. Namun dalam praktiknya, lembaga-lembaga itu menjadi kaki tangan pemerintah pusat di tingkat komunitas. Lembaga ini memangkas prosedur birokrasi yang penting dalam menjaga keseimbangan kekuasaan dan akuntabilitas. Atas nama memberi pelayanan langsung ke publik, prosedur bernegara diterabas oleh pemerintah pusat. Dewan komunitas itu sekaligus menjadi alat kontrol negara di level akar rumput.
Dengan wewenang dan kontrol yang sangat besar, Venezuela di bawah Chavez menjadi dengan cepat menjadi otoritarian. Dalam dalam negara yang otoritarian, korupsi menjadi tak terkontrol.
Ngeri.
Depok, 8 November 2025
Saidiman Ahmad
Foto: Berita Harian Kompas, 7 November 2025, hal. 1.