Sabitlenmiş Tweet
has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️
179 posts

has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️
@plebeic
a not-so-simple #neurodivergent girl, 🍀♨️
aku otw jogja, jauh juga ya Katılım Kasım 2022
151 Takip Edilen128 Takipçiler
has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️ retweetledi

@petujam boleh bangeeettt, kamu filsafat manaa?
Indonesia
has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️ retweetledi


@breathtakinjg TERIMA KASIIII, kamu jugaaaa yaaa 🥺💟
Indonesia

it’s cute BUT IF MY DOSE IS HALF OF THE PILL THEN I’D BE STRESSED OUT. SUSAH BGT ANJ BELAH PILL KECIL GITU JADI DUA.
Kush@kushika_twt
This antidepressant medicine has a smiley face 😭
English

heaaavyyyy on thiiisss. even based on my experienced, the ones who label themselves ‘religious’ sometimes are the ones who have really obvious problem with themselves lol
$@2xsam_
Being religious doesn't mean you're a good person.
English
has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️ retweetledi
has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️ retweetledi

and this works well. I feel like I’m being anchored by either fictional characters I like, shows I like, or js someone I like irl. my delusions feed the lack of dopamine in my brain.
ADHD Memes@ADHDForReal
English
has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️ retweetledi
has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️ retweetledi

@sbmptnfess "Gamau pilih UI/UGM/ITB ah, pasti rame" ucap 50k orang 😭
Indonesia
has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️ retweetledi

akulah yang nggak pernah dengerin omongan guru bk itu
Nakamatika@nakamatika
SNBP realistis aja cari aman, ucap sebagian eh banyak guru BK dan diamini oleh banyak siswa dan yah ini hasilnya😅
Indonesia
has²⁶ ternyata keterima ugm ⭐️ retweetledi

Apakah orang dengan mental illness itu lemah?
Atau… selama ini kita cuma terlalu terbiasa meremehkan hal yang nggak kelihatan?
Banyak dari kita masih percaya kalau masalah mental itu soal ‘kurang kuat’, ‘kurang iman’, atau ‘kurang bersyukur’.
Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.
Aku harap thread ini bisa sampai ke orang-orang yang lagi butuh—atau setidaknya, ke orang-orang yang selama ini tanpa sadar pernah meremehkan.
Kalian yang sudah terdiagnosis mental illness, pasti nggak asing sama momen ini:
Lagi capek banget, lagi berusaha bertahan, akhirnya memberanikan diri buat cerita…
tapi yang didapat malah:
‘Coba mindset-nya diubah’
‘Kurang bersyukur kali’
‘Dibawa santai aja’
‘Jangan overthinking’
Seolah-olah semuanya sesederhana memilih untuk “berpikir positif”.
Padahal pertanyaannya:
Apakah penyakit mental sesederhana pola pikir yang salah?
Jawabannya: nggak.
Secara scientific, mental illness itu brain-based disorder.
Artinya, ada proses biologis yang benar-benar terjadi di otak—melibatkan neurotransmitter seperti serotonin, dopamine, dan sistem regulasi emosi yang kompleks.
Ini bukan sekadar ‘pikiran negatif’ yang bisa dimatikan dengan kemauan.
Ada dysregulation nyata dalam cara otak bekerja.
Bahkan dalam studi neuroimaging (MRI/fMRI), terlihat adanya perbedaan aktivitas di area otak tertentu pada beberapa kondisi mental.
Makanya ada terapi.
Makanya ada psikiater.
Makanya ada obat.
Karena ini kondisi medis—bukan sekadar “kurang kuat”.
Kalau semuanya bisa selesai dengan ‘ubah mindset’, bidang psikiatri nggak akan pernah berkembang.
Dan orang-orang nggak akan berjuang sekeras itu hanya untuk sekadar “merasa normal”.
Jadi mungkin, lain kali sebelum bilang:
‘coba lebih positif’
‘jangan dipikirin terus’
kita bisa mulai dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana—
dengerin.
Tanpa menghakimi.
Tanpa meremehkan.
Tanpa merasa paling tahu.
Karena buat sebagian orang,
bangun dari tempat tidur aja sudah butuh tenaga yang luar biasa.
Dan bertahan hidup sampai hari ini…
itu bukan kelemahan.
Itu usaha yang nggak semua orang bisa lihat.
#HealingIsNotLinear




Indonesia















