munira

105.5K posts

munira banner
munira

munira

@plsimdesperate

😓😓 Katılım Nisan 2012
1.3K Takip Edilen1.2K Takipçiler
munira
munira@plsimdesperate·
mana sahamnya?
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada podcast yang kedengarannya ringan tapi ternyata dalamnya luar biasa. Anya Geraldin. Aktris 29 tahun. Tinggi 177 cm. Nama KTP-nya Nur Amalina Hayati. Dan di balik semua glamour yang lo lihat di layar ada cerita yang sangat manusiawi yang jarang orang tahu. Mulai dari yang paling mengejutkan soal nama: Anya Geraldin itu nama panggung. Di KTP: Nur Amalina Hayati. Kenapa beda? Karena waktu ibunya melahirkan ayahnya tidak hadir. Ibunya yang islami sudah menyiapkan nama Nur Amalina Hayati. Tapi dari kecil semua orang sudah memanggilnya Anya karena ayahnya yang menginginkan nama itu. Dan nama itu yang akhirnya melekat sampai sekarang. Satu nama. Dua orang tua. Satu cerita yang sudah dimulai bahkan sebelum dia lahir. Soal masa kecil yang tidak seindah yang dibayangkan: Anya mengakui masa kecilnya lebih banyak sedihnya daripada senangnya. Orang tuanya bercerai. Dia tumbuh bersama ibu seorang perempuan islami yang harus berperan sekaligus jadi ibu dan ayah. Bekerja keras sendirian. Tidak ada yang membantu. Dan di sekolah Anya dibully. Bukan karena sesuatu yang besar. Tapi karena dia genduk. Karena penampilannya tidak seperti yang dianggap "ideal" oleh anak-anak seusianya. Dulu aku enggak tahu apa-apa. Kenapa ya gue gendut? Gue tahu sih setiap hari gue makan Indomie sama nugget goreng. Kalimat itu terdengar lucu. Tapi di baliknya ada anak kecil yang tidak punya banyak pilihan soal makanan, tidak punya banyak orang yang membimbingnya, dan tidak tahu bahwa hidupnya akan berubah sebesar ini. Soal ibunya dan ini bagian yang paling menyentuh: Ibu Anya adalah perempuan yang islami. Sangat islami. Sampai pernah mengirimkan video siksa kubur setiap kali Anya pakai baju yang dianggap terlalu terbuka untuk pemotretan. Tapi makin ke sini ibunya mulai mengerti. Mulai paham bahwa dunia entertainment punya tuntutannya sendiri. Dan Anya tidak pernah memaksa ibunya untuk serta merta setuju dia hanya terus membuktikan lewat kerja kerasnya. Sampai akhirnya Anya melakukan sesuatu yang menurut gue adalah salah satu bentuk cinta paling nyata yang bisa diberikan seorang anak kepada ibunya: Ketika dia merasa sudah cukup menghasilkan dia meminta ibunya berhenti bekerja. "Mah, stop kerja ya. Mulai sekarang di rumah aja. Aku yang take care semuanya. Aku mau mama nikmatin hidup karena selama ini mama udah bertahun-tahun ngabisin banyak tenaga untuk aku dan adik." Dan ibunya menurut. Soal ayahnya dan ini yang lebih kompleks: Ayah Anya tinggal di Jakarta juga. Tapi mereka hanya bertemu mungkin setahun sekali kalau ada ulang tahun atau momen tertentu. Bukan karena tidak cinta. Tapi karena ayahnya sudah punya keluarga baru. Dan Anya dengan kedewasaan yang jauh melampaui usianya memilih untuk tidak memaksakan diri masuk ke ruang yang bukan miliknya. "Mau sejarang apapun frekuensinya aku tahu kok rasa cinta kita tuh tetap sama-sama gede. Kadang sebulan sekali tapi telepon intens sejam aja itu sudah memberikan aku kebahagiaan." Dan di sinilah podcast ini berbelok menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam: Kak Igun host podcast itu kemudian bercerita tentang dirinya sendiri. Tentang kehilangan ayahnya 5 tahun lalu. Tentang betapa mereka tidak pernah terlalu dekat tapi ketika ayahnya pergi, kehilangannya terasa sangat besar. Dan ada satu momen yang menurut gue adalah salah satu cerita paling menguras emosi yang pernah gue dengar di podcast manapun: "Aku pernah tanpa sadar belanja banyak banget baju golf, stik golf, semua yang papa suka. Aku pikir bokap ada di rumah. Ternyata udah enggak ada. Itu kejadian dua tahun setelah kepergian papa. Jadi kayak gua belanja, 'Oh ini bokap suka, ini bokap suka.' Terus gua baru sadar bokap gua udah enggak ada." Dan kalimat berikutnya yang keluar adalah sesuatu yang sangat berat tapi sangat jujur: "Gua kangen banget diomelin. Kangen ada yang nyuruh pulang. Kangen ada yang ngelarang. Sekarang enggak ada. Hidup kita kayak liar aja enggak ada yang mau ngomelin gitu kan." Pesan yang Anya sampaikan untuk ayahnya — langsung di podcast itu: "Terima kasih untuk semuanya. Aku sudah bisa mengerti faktor apapun yang memisahkan kalian. Aku sudah memaafkan. Aku juga minta maaf kalau selama aku tumbuh aku banyak salah. Aku cuma berharap kita semua bisa punya hidup masing-masing yang pas dan cocok dan bahagia di hidup kita masing-masing." Dan kalimat terakhir yang dia tambahkan menurut gue adalah salah satu kalimat paling dewasa yang pernah gue dengar dari seseorang seusianya: "Jangan dipaksakan untuk bersama kalau ternyata itu bukan jalan yang paling bahagia." Soal karir dan perjalanannya konteks yang perlu dipahami: Anya tidak masuk industri hiburan dengan rencana yang matang. Dia bilang sendiri karirnya "kepeleset." Ada yang nawarin, dia terima, dan dari situ semuanya bergulir. Tapi "kepeleset" itu tidak mengurangi kerja kerasnya. Dia pernah di bully di awal karir dibilang tidak punya bakat. Dia pernah di body-shaming. Pernah beratnya sampai 70-75 kg dan harus berjuang untuk menemukan versi dirinya yang paling nyaman. Sekarang dia baru selesai syuting film horor remake dari Thailand Shutter bersama Vino G. Bastian dan Niken Anjani. Tayang 30 Oktober di bioskop. Dan yang menarik dari film ini di balik horor dan jump scare-nya, ada tema yang sangat serius: kekerasan seksual di lingkungan kampus. Soal hubungan dan pernikahan dan kejujurannya yang tidak dibuat-buat: Anya 29 tahun. Dan dia punya pandangan tentang pernikahan yang sangat berbeda dari tekanan sosial yang biasanya dirasakan perempuan seusianya. Dulu di usia 25 dia pengin cepat-cepat nikah. Sekarang? Dia lebih takut menikah dengan orang yang salah daripada takut tidak menikah. "Kalau enggak cocok jangan dipaksain. Entar tiba-tiba cerai di jalan." Dan alasan di balik kehati-hatiannya sangat bisa dipahami: dia tumbuh menyaksikan pernikahan orang tuanya tidak berhasil. Dia tidak mau anaknya kelak mengalami apa yang dia alami. Tapi bukan berarti dia menutup diri. Dia sangat terbuka hanya lebih selektif. Dan standarnya bukan soal materi atau status. Tapi soal cocok secara nilai, bisa saling toleransi kekurangan masing-masing, dan pilihan yang benar-benar sadar bukan karena terpaksa. Anya Geraldin bukan sekadar aktris tinggi 177 cm yang fotonya bagus di Instagram. Dia adalah anak dari keluarga yang tidak utuh yang tumbuh dengan lebih banyak kesedihan dari yang orang kira, yang berjuang menemukan dirinya sendiri, yang akhirnya mampu menghidupi ibunya dan minta sang ibu berhenti bekerja, yang memaafkan ayahnya dengan cara yang sangat dewasa, dan yang sekarang berdiri di karirnya sendiri bukan karena warisan nama atau privilege tapi karena kerja keras yang tidak banyak terlihat di permukaan. Dan kalimat yang paling gue ingat dari seluruh podcast itu: "Don't worry everything is gonna be ok." Itu yang ingin dia sampaikan kepada dirinya sendiri yang kecil dulu. Dan mungkin kepada siapapun yang sekarang sedang ada di titik yang sama dengan yang pernah dia alami.

Indonesia
0
0
0
64
munira retweetledi
d
d@IAmThe3xit·
fuckin simulakra bullshit
Eesti
0
1
0
148
munira retweetledi
morgan 𐙚
morgan 𐙚@chuucrime·
2018 2026
morgan 𐙚 tweet mediamorgan 𐙚 tweet media
8
1.2K
6.6K
47.8K
munira retweetledi
Lili 💚
Lili 💚@jenniespecs·
it’s been one year since hyeju’s last instagram post incase anyone wants to suffer with me
Lili 💚 tweet media
English
41
806
5.8K
54.9K
munira
munira@plsimdesperate·
ini napa ketranslate otomatis app dongo
HT
0
0
0
46
munira
munira@plsimdesperate·
ada yang punya slop appmus family ngga?
Indonesia
0
0
0
76
munira retweetledi
meki
meki@mekitron·
many in the skena sastra musik film have routinely accused me of being both a gatekeeper AND a gaslighter over the past 20 years. what these imbeciles never realise is that all this time what i really am is a GATELIGHTER
GIF
English
0
2
15
624
munira retweetledi
meki
meki@mekitron·
udah nonton. julian casablanca has REALLY let himself go this time hasnt he
Deon Welodio@weldgoods

kadang yang perlu kita luruskan bukan karyanya, tapi cara kita memahaminya. menganggap satu adegan dalam video klip sebagai bentuk normalisasi perilaku justru menunjukkan betapa dangkalnya cara kita membaca karya. seni sejak dulu tidak pernah diciptakan untuk menjadi buku panduan moral yang steril, melainkan untuk merepresentasikan realitas, emosi, dan perspektif manusia apa adanya. yang juga sering dilupakan, audiens bukan sekumpulan orang tanpa nalar yang langsung meniru apa yang mereka lihat. masyarakat punya kemampuan berpikir, menilai konteks, dan memisahkan mana ekspresi artistik dan mana perilaku yang pantas dijadikan teladan. ketika setiap visual langsung dianggap berbahaya, sebenarnya yang sedang kita lakukan adalah merendahkan kapasitas publik itu sendiri. lebih jauh lagi, jika logika ini terus dipakai, maka banyak karya seni harus disensor hanya karena ada kemungkinan disalahartikan. film tidak boleh menampilkan kekerasan, musik tidak boleh menampilkan kegelisahan, sastra tidak boleh menyinggung realitas yang pahit. padahal justru di situlah fungsi seni, memotret kehidupan dengan jujur, bahkan ketika kenyataan itu tidak selalu nyaman dilihat. jadi sebelum buru buru menuduh sebuah karya sebagai bentuk normalisasi, mungkin yang lebih perlu diperkuat adalah kedewasaan kita dalam membaca karya. karena sering kali yang bermasalah bukan ekspresinya, melainkan cara sebagian orang terlalu cepat menghakimi tanpa benar benar memahami konteksnya.

English
0
1
6
1.7K