Bagi gw, Pak @ganjarpranowo itu Capres terbaik dibanding Pak @aniesbaswedan Semuanya berdasarkan data dan fakta yang ada di media. Bagi yang gak sanggup melihat Fakta, mending skip aja yah :)
Oke, ayo kita mulai banding-bandingke antar keduanya
[sebuah utas]
@stiffcold@abdul_shol3h@ainunnajib Ayat inilah cornerstone teologi syiah, tentu saja ini menunjukkan kemuliaan ahlul bait tapi kalian abuse untuk menabikan Ali RA dan memaksumkan secara mutlak keturunannya, ini kekufuran yg nyata
Banyak dari kita yang menyambung tahun baru 2026 dengan membawa luka dari apa yang terjadi akhir-akhir ini. sehingga perubahan di tahun ini pun mungkin terasa sulit.
Karenanya, mari kita jadikan momen tahun baru sebagai usaha untuk membenahi pola pikir dan meninggikan harapan.
📢 Update Lapangan 📢
Setelah pylon/tiang utama terpasang, hari ini warga desa Gembreng melanjutkan pemasangan kabel sling. Tahap ini menjadi pengikat utama struktur jembatan🤝🏻
[sound on]
<tarik terus pak>
Buat yang hari ini baru terpapar isu ini dan ingin memahami secara utuh, silakan baca dokumen berikut, ya: drive.google.com/file/d/1XDIB-4…
Di sini berisi kronologis hingga analisis hukum secara komprehensif.
Partai Rakyat Medsos [PRM] membuka pendaftaran anggota untuk provinsi: 1. DKI Jakarta, 2.Jawa Barat, 3. Jogja, 4. Aceh, 5. Sumbar, 6. Sumut, 7. Sulawesi Selatan, 8.Kalimantan Selatan, 9. Bali, 10. Papua.
Syarat: punya akun IG dan X.
Teman², Ibu-Bapak, mari kita sumbang uang, waktu, tenaga, perhatian dan doa sejauh yang kita sanggup, untuk korban bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat… Berikut beberapa opsi untuk donasi pada organisasi yang melaksanakan bantuan kepada korban di lapangan… 🤲🏼🙏🏼🙏🏼
Dear Friends, let’s please contribute funds, time, energy, attention and prayers as far as we’re able, for the many many victims of the flash floods and landslides that have afflicted the provinces of Aceh, North Sumatra, and West Sumatra… Here are several donation-options for organizations extending assistance to victims in the field… 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
boxd.it/bHOIJp
Tanda terima buat seluruh #TemanAksi yang sudah donasi🫶
Dari Rp10.000 yang berlipat ganda,
Jadi semangat dan bahan-bahan untuk mewujudkan mimpi kita!
Pembangunan jembatan masih terus berjalan, gotong-royong kita jangan kendor ya~
Pertama kalinya jadi ahli di sidang Majelis Kehormatan Dewan, DPR RI.
Saksi Ahli Melihat Ada Penggiringan Opini oleh Akun Anonim di Balik Isu Pembubaran DPR
Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi selaku saksi ahli sosial media dalam sidang MKD DPR RI, Senin (3/11/2025). Foto: Tangkapan layar TV Parlemen di YouTube
Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI pada Senin (3/11/2025), menggelar Sidang Bersama Permintaan Keterangan Saksi dan Pendapat Ahli terkait serangkaian insiden setelah Sidang Tahunan MPR pada 15 Agustus 2025 lalu, termasuk isu pembubaran DPR.
Berbagai insiden itu menyeret beberapa nama anggota DPR RI yang kini berstatus nonaktif, yakni Ahmad Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio, Nafa Urbach, dan Adies Kadir.
Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi selaku saksi ahli sosial media yang dihadirkan dalam persidangan, melihat adanya pergeseran narasi yang diduga terjadi secara terstruktur untuk berdemo di DPR dan melampiaskan amarah kepada beberapa pihak.
Berdasarkan analisisnya, Ismail Fahmi menemukan bahwa pada tanggal 10 Agustus 2025 bakal ada demo buruh di tanggal 25 Agustus.
"Namun, saya perhatikan tanggal 14 mulai ada di TikTok, Instagram, Twitter, arahan-arahan tertentu. Saya lihat ini, kok, bukan dari buruh ya? Biasanya mulai diarahkan ke DPR," ujar Ismail Fahmi dalam persidangan MKD DPR RI, yang disiarkan melalui akun TV Parlemen di YouTube.
Lebih lanjut, Ismail Fahmi juga menyebut trend narasi demo DPR melonjak pesat dalam kurun waktu beberapa hari selanjutnya, tepatnya mulai 19 Agustus hingga 25 Agustus 2025.
"Saya melihat memang ada penggiringan opini dari awal yang sudah diciptakan. Oleh akun siapa? Ya tadi, oleh akun-akun anonim juga memang, begitu. Dan, ini seperti memanfaatkan momen," lanjutnya.
Oleh karena itu, Ismail Fahmi berharap ke depan lembaga negara bisa lebih memperhatikan isu-isu liar yang berkembang di sosial media.
"Ini yang harus diperhatikan ke depan, ketika ada sebuah isu yang dirasa tidak pas, harus segera klarifikasi, tetap saat itu tidak ada klarifikasi," ujarnya.(fat/jpnn)
Segera hadir film Dirty Vote kedua!
Dirty Vote O3: Membaca Kartu-Kartu Politik Oligarki
Kali ini Dirty Vote akan menghadirkan bahasan lebih mendalam dengan kejutan selama 4 jam durasi film. Fakta apa saja yang akan terkuak?
Nantikan!
Nyatanya, banyak masalah Indonesia itu nggak “seksi”.
Nggak bisa jadi slogan kampanye, nggak bisa jadi engagement, ngga bisa diviralin.
Padahal, kalau diselesaikan, dampaknya nyata.
Ini cerita tentang Aksi Bersama #BangunJembatan di Cikembang.
Di forum pertemuan intelektual dan aktivis Asia kemarin jumpa dengan Mr. Kamal Raj Lamsal, seorang Profesor Asisten (Studi Konflik dan Perdamaian) di Mid-West University, Nepal. Kami ngobrol singkat tentang situasi di Nepal dan apa yang bisa kita pelajari darinya.