Sejujurnya aku sedang linglung. Aku jadi meragukan apa yang sebenarnya ingin aku kejar. Diambang tertinggal karena tidak segera memulai namun merasa belum layak untuk menempuh jalur yang lebih jauh. Sejujurnya apakah boleh aku melakukan yg ingin kulakukan saja?
Dalam pikiranku, aku pernah melihat kematian. Tanpa aku duga itu datang lebih cepat dan.. rasa takut itu lenyap. Mungkin terkesan acuh, tapi aku juga tidak bersenang-senang, sebaliknya aku bersusah payah menghormati kepergiannya dengan turut mengubur semua benci yang aku punya.
Bahkan disaat tubuh ini ingin memeluk diri sendiri, seseorang masih dengan egois datang dan mengusik. Apa kabar kepekaan hatimu? Apa sudah terjadi malfungsi? Itu kondisi yang serius, tindakan harus segera diambil.
Cara terbaik menodai berkabung seseorang adalah dengan mentertawakannya. Tersenyum saja sudah keterlaluan. Bahkan untuk bertanya ada apa saja sulit, atau mungkin memang tidak ada niat untuk mengerti. Manusia jahat yang penuh ego perkasa.
Sebaik baiknya perduli, sebaiknya pada diri sendiri. Bebrapa orang hanya fokus pada kepentingan diri sendiri. Sulit memikirkan perasaan orang lain. Menjadi manusia sempurna itu mustahil. Akupun menulis ini sambil berlinang acuh. Tapi manusia memang tidak pernah cukup.
Hari ini berjalan seperti biasa, senang rasanya makan malam dengan ikan bakar.
Tapii.. tidak di duga seketika hatiku hancur sekali, ada kabar duka.
Bagai petir, dadaku terguncang, air mataku menetes. Bahagiaku dinodai.