Kalanara Mahardika 🎬✨@KalanaraDika
Tiga Fandom, Satu Ruangan, dan Satu Kesalahan yang Bisa Jadi Malapetaka.
Rundown itu sempat tayang sebentar, lalu ditarik.
Tapi internet bergerak lebih cepat dari tombol delete. Dalam hitungan menit, tangkapan layar sudah menyebar: di slot 15.40, nama yang tadinya tertulis "EOS" sudah diganti jadi "Secret Guest."
Bukan cuma Pandavvarna yang kena, ternyata Magniverse dan Eonites juga.
Ketiganya besar, vokal, dan sekarang sama-sama tahu mereka semua dijadwalkan tampil di hari yang sama, di ruangan yang sama, dengan kapasitas 500 orang.
Masalah sudah melebar dari soal gacha yang unfair, menjadi soal crowd engineering yang "dirancang untuk gagal."
Crowd engineering itu sederhananya adalah ilmu mengelola pergerakan massa. Selain menghitung jumlah orang, tapi juga bagaimana orang itu bergerak masuk, di mana mereka statis, dan yang paling krusial, bagaimana mereka keluar ketika situasi berganti.
Di industri event, ini adalah keharusan, karena taruhannya nyawa.
Aku sudah cukup lama kerja di bidang ini sebagai show director sampai akhirnya punya event organizer, untuk bisa bilang: satu variabel yang sering diremehkan panitia adalah titik pergantian penonton.
Bayangkan skenarionya. Pandavva selesai tampil. Lima ratus orang yang tadi masuk harus keluar. Sementara itu, ratusan orang lain yang menang gacha untuk sesi Magniv berikutnya sedang menunggu di luar, mau masuk.
Dua arus manusia bergerak berlawanan arah di ruang transisi yang sama. Lebih parahnya, lokasi adalah mall yang merupakan area publik yang biasa ramai.
Di sinilah stampede bisa terjadi. Dua massa bergerak di ruang yang sama tanpa buffer, tanpa pengarahan, dan tanpa waktu yang cukup untuk proses ingress dan egress yang aman.
Astroworld 2021 membunuh sepuluh orang. Itaewon 2022 membunuh seratus lima puluh sembilan.
Keduanya bukan karena venue terlalu kecil secara absolut. Keduanya terjadi karena crowd density di titik tertentu melampaui batas aman, dan sistem pengelolaan massanya tidak punya mekanisme untuk merespons tepat waktu.
Lima ratus orang di Chameleon Hall TP 6 mungkin masih dalam batas aman secara statis. Tapi massa itu tidak statis. Mereka bergerak, dengan tiga fandom berbeda yang masing-masing punya energi dan urgensi sendiri.
Solusi yang seharusnya dipikirkan dari awal bukan cuma soal berapa kursi yang tersedia, tapi soal bagaimana buffer time antar sesi dirancang. Masih ada day dua lho untuk acara ini.
Padahal bisa saja dirancang berjarak setidaknya 3 jam antar fandom besar untuk membuat crowd lebih renggang.
Seharusnya, keputusan ini harusnya sudah ada di atas meja jauh sebelum rundown bocor di timeline.
Mengurus tiga fandom besar dalam satu hari, di venue yang kapasitasnya terbatas, di akhir pekan masa libur sekolah, itu tantangan yang sangat besar
Data antusiasme Pandavvarna, Magniverse, dan Eonites itu ada. Track record mereka di event-event sebelumnya itu bisa dilihat. Kalau informasi itu sudah ada tapi tidak masuk ke dalam proses risk assessment dari awal, maka itu jelas kelalaian perencanaan.
Crowd engineering bukan sihir, penerapannya butuh waktu, butuh data, dan butuh keberanian untuk membuat keputusan yang tidak populer di awal, jauh sebelum tiket terjual dan venue sudah dibayar.
Semoga Chibicon masih punya kewarasan untuk merapikan ini sebelum 27 Juni. Semoga setiap penonton yang datang, bisa pulang dalam keadaan selamat.
Karena tidak ada acara yang worth it kalau harganya dibayar dengan keselamatan orang.