Rahmet Ababil

39.5K posts

Rahmet Ababil banner
Rahmet Ababil

Rahmet Ababil

@RahmetAbabil

Tambahkan bio ke profil anda

DKI Jakarta, Indonesia Katılım Ekim 2012
783 Takip Edilen44.1K Takipçiler
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
@gentoopinguin Bukan ini Final Liga Djarum 2007 lawannya PSMS medan, kalo sama Persipura itu sebelumnya di Copa Indonesia ditahun yang sama. Yang bikin Sriwijaya FC doubel winner. Momen ikonik Markus Horison
Indonesia
0
0
0
1.2K
ysf
ysf@gentoopinguin·
@RahmetAbabil stiker mantep di masanya. jujur sriwijaya ngeri pas jaman itu. musuhnya persipura bukan sih?
Indonesia
1
0
0
1.3K
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
Buat yang gak familiar sama negara Saint Kitts dan Nevis itu adalah negaranya Keith Kayamba Gumbs legenda Sriwijaya Fc dia adalah pemain timnasnya juga. Anak 2000an pasti sering liat selebrasi ini dia suka cium2 bendera kecil itu #TimnasDay
Indonesia
14
56
682
102.2K
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
@fckuasholee Iya nanti mau cek HbA1c, sejauh ini sih gak ada gejala apa2 dibadan.
Indonesia
0
0
0
46
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
Gue tuh heran, gue ngerasa kayanya banyak minum gula. Tapi tiap cek gula darah dibawah normal mulu. Tapi kata dokternya selama gak dibawah 70 aman. Tapi jadi aneh ajah guenya.
Rahmet Ababil tweet media
Little Secret@LittleScrett_

😱😱

Indonesia
2
0
6
8.7K
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
@RiaAGL Owh gitu ya, nanti deh coba. Udah baca2 kayanya lebih akurat itu ya. Thank you ya informasinya🙏🏻
Indonesia
0
0
0
581
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
@rzakumar Kan lu mau menjemput kemungkinan besar bang😅
Indonesia
1
0
18
24.3K
Rahmet Ababil retweetledi
Egi Haw
Egi Haw@egiargians·
Klarifikasi dari indira (istri saya) pemilik akun instagram @indiraberl perihal postingan trend AI dia dengan bapak Ahmad Sahroni tanggal 10 september 2025 lalu, minta doanya ya teman-teman semoga kasus istri saya bisa cepat selesai. Amin🙏🏻
Indonesia
10
26
246
38K
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
@ardibhironx Segitu berefeknya mukbang Duren untuk ngebuka aura seorang pemenang.
Indonesia
0
0
1
163
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
Kalo begini terus beberapa hari lagi mobil & motor lu udah gak bisa jalan coy, tapi MBG tetap jalan🤣
Indonesia
0
0
4
615
Guzman Sige
Guzman Sige@guzman_sige·
Dari kecil hidup di keluarga menengah mepet miskin, sering ketemu orang (termasuk keluarga) kaya yg money oriented & hidupnya sangat transaksional. Jadi sekarang udah apal banget kalo nemu orang kayak gitu, muncul dikit aja gejalanya udah langsung kecium.
Indonesia
3
6
44
3.1K
Rahmet Ababil retweetledi
S. B. Yudhoyono
S. B. Yudhoyono@SBYudhoyono·
Saksikan pandangan Pak SBY tentang situasi di Timur Tengah dalam SBY Standpoint: Perang di Timur Tengah, Siapa Bakal Menang? youtu.be/hnXLBmiGkVI #SBYStandpoint
YouTube video
YouTube
Indonesia
72
204
872
742K
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
@VRLmob Tapi hidup tanpa ekspetasi adalah hidup yang tak layak dijalani. Sebenernya boleh aja sih hidup dengan ekspetasi yang gede asal kebal sama rasa kecewa aja, dan rasa kecewa itu adalah fenomena alam biasa jadi berbiasalah.
Indonesia
1
0
0
90
VRL mob
VRL mob@VRLmob·
Hidup gak berat, ekspektasi kita aja yang kegedean.
Indonesia
1
0
1
98
Rahmet Ababil retweetledi
S. B. Yudhoyono
S. B. Yudhoyono@SBYudhoyono·
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI? Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia. Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat? Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah. Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti. Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu. Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei. Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah. Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya. Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain. Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi. Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan. Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan. Begini pesan saya. Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Indonesia
731
7.3K
30.2K
2M
Rahmet Ababil
Rahmet Ababil@RahmetAbabil·
Gue denger Dajjal dari zaman ngaji waktu kecil banget, masa iya gue ngalamin ketemu Dajjal sih. Kirain bakalan masih 200tahun lagi gitu🥹
Indonesia
1
1
16
4.1K