rahmita retweetledi

Dulu waktu koas, saya belajar diagnosis dari dokter konsulen.
Belajar membaca gejala, menyusun terapi, dan mengambil keputusan.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah saya dapat dari buku atau kuliah.
Saya belajar langsung di lapangan. Dari Perawat.
Cara pasang infus yang halus dan pasti.
Cara rawat luka dengan tangan yang tenang.
Sampai cara peka terhadap perubahan pasien.
Perawat-perawat senior itu jago.
terampil yang matang oleh pengalaman.
Mereka yang paling lama bersama pasien.
Yang paling sering melihat perubahan kecil yang sering luput dari siapa pun.
Yang tahu kapan seseorang membaik, kapan mulai memburuk.
Perawat itu peka.
Perawat itu cekatan.
Geraknya cepat, tepat, sat set, tanpa banyak suara.
Di mana pun, profesi ini selalu jadi tulang punggung layanan kesehatan dimanapun.
Dan sampai kapan pun, sentuhan manusia seperti ini tidak akan tergantikan bahkan oleh AI.
Saya tidak pernah bisa membayangkan bekerja di RS tanpa tim perawat.
Perawat bayi yang menjaga awal kehidupan.
Perawat gawat darurat yang berdiri di garis pertama.
Perawat hemodialisa yang setia menemani proses panjang.
Perawat ruang operasi yang menjaga setiap detik tetap presisi.
Banyak yang tidak melihat.
Padahal peran mereka begitu besar.
Profesi ini selalu dekat dengan kata pengabdian.
Tapi ada satu hal yang perlu diluruskan.
Ikhlas sering disalahpahami jadi nrimo.
Padahal Ikhlas adalah sadar bahwa pekerjaannya bermakna besar untuk kehidupan.
Dan pekerjaan yang bermakna, layak dihargai dengan layak.
Terima kasih untuk seluruh perawat. Teman-teman Luar biasa.
Semoga setiap pelayanan setiap hari dikaruniai kesejahteraan yang penuh berkah.
Selamat Hari Perawat Nasional.
Indonesia






























