
Nasib pemegang BPJS di tangan dokter yg bekerja sesuai jam kerja.. Padahal menangani pasien itu adalah kewajiban dalam kondisi apapun, tpi budok ini empati saja ga punya..
Rangga Arya
29K posts

@ranggaaryap
Jangan cemas, saya doktor.

Nasib pemegang BPJS di tangan dokter yg bekerja sesuai jam kerja.. Padahal menangani pasien itu adalah kewajiban dalam kondisi apapun, tpi budok ini empati saja ga punya..

Konsul ke dokter mewakili nyokap untuk beli obat hipertensi. Data nyokap uda aku kasi. Usia kutulis 65 tahun 2 bulan. Masih ditanya “apakah hamil dan sedang menyusui?”. Lu dokter lulus gimana caranya ya??

Ada yang udah tau kasus ini gakk?? Penting memahami dua sisi. Nakes terikat sumpah melayani dan mengutamakan keselamatan pasien. Pasien, krn ketidakpahaman dan beragamnya tingkat pemahaman juga disertai panik, mungkin juga baru bisa mengantar krn demamnya baru naik, dsb. Menurut saya priority tetap di pasien, apalagi kalau cuma demam, barangkali diperiksa sebentar juga sdh bisa ditentukan sementara diberi obat pereda panas, atau dibawa ke IGD jika indikasi parah. Tak elok rasanya dokter mengutamakan ego, dgn berkata bukan budak/pembantu krn pasien juga bayar BPJS lho.

ya Allah UGD ada, ambulan ada... tapi bapaknya masih dioper-oper begitu 😭 dicek respons terus disuruh ke rs langsung. Katanya kesadaran bapaknya udh menurun jadi gak berani ambil tindakan, except ada luka. Ambulan ada tapi harus ini itu. Semua ini karena TAKUT DITEGOR 😭

Nasib pemegang BPJS di tangan dokter yg bekerja sesuai jam kerja.. Padahal menangani pasien itu adalah kewajiban dalam kondisi apapun, tpi budok ini empati saja ga punya..

RIANA DWI KURNIAWATI Berdasarkan data PDDIKTI, ia menempuh pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di UNY (2015–2020), lalu melanjutkan pendidikan profesi guru di kampus yang sama (2023–2025) Di 18th Scientific Meeting of the Asian Association for the Study of Diabetes, ia mendaku berafiliasi dengan Temanggung Public Health Center. Sumber: site.convention.co.jp/69jds/wp/wp-co…

Apa karna pake bpjs ya??? Ncus : kak tggu di igd dulu ya sampai dapat kamar Aku : sus kira" jam brp ya? Soalnya udah dari jam 11 mlm skrg udah jam 2 pagi blm dpt kamar jg Eh ada bapak" nyletuk "saya dari jam 8 malem aja belum dapet kamar" Akhir nya jam 4 pagi baru dpt kamar😭

Jika ini di indonesia kira-kira apa yang akan terjadi ? 🤔






Barusan subuh-subuh ada lagi nihh, kasus anak 8 tahun diare sejak kemarin sore, pupnya cepirit sedikit-sedikit tapi sering keluar, riwayatnya habis ikut acara camping dari sekolah minggu lalu dan teman sekolahnya pada banyak yang diare juga… Terus pas ditanya, udah minum obat apa? Sama ortunya dibilang dikasih Imodium alias ✨Loperamide✨ Sontak ekspresi muka aku langsung 😨😨


siapa sih yang ngemulai tren bikin akun berita parodi/gimmick begini? mending kalau lucu, ini garing semua anjrit


tbh gue ga nyangka akun yg tiap hari share berita palsu bisa ngasih jawaban panjang lebar seperti ini well gue jawab ya 1. Mas, justru yang bikin strawman itu balasan mas sendiri. Saya tidak bilang semua orang yang pilih GoRide Hemat adalah “musuh” atau tidak peduli driver. Saya soroti hipokrisinya segmen orang yang suka posting “kasihan driver Gojek, harus sejahtera”, tapi setiap hari pilih opsi termurah + promo gila-gilaan, lalu gak pernah kasih tips. Itu fakta perilaku yang observable, bukan musuh fiktif. 2. Ya, Gojek (dan Grab) memang ambil komisi besar dulu (sekitar 20%), dan mereka desain promo + tarif hemat supaya volume naik & dominasi pasar. Itu benar. Tapi konsumen bukan korban pasif. Konsumen yang terus pilih yang termurah memberi sinyal pasar bahwa tarif rendah itu oke. Dengan kata lain ya pada dasarnya customer suka dengan praktik eksploitasi ini. 3. Mas bilang solusinya bukan tips atau pilih yang mahal, tapi “ganti status mitra jadi pekerja + jaminan sosial”. Itu klasik kiri-utopis Kalau driver jadi karyawan tetap, Gojek harus bayar UMR, BPJS full, cuti, dll. Biayanya naik drastis, tarif ke penumpang harus naik (atau perusahaan rugi & kurangi armada). Siapa yang bayar? Tetap penumpang. 4. Mau driver sejahtera = harus ada yang bayar lebih. Entah lewat tarif naik, tips, atau pilih opsi premium. Menyalahkan “korporasi saja” sambil tetap pilih opsi hemat tiap hari itu tidak rasional. 5. Kalau mas betul-betul peduli kesejahteraan driver, dukung tarif yang lebih masuk akal + komisi rendah + insentif transparan. Bukan narasi “semua salah platform, penumpang cuma korban”. Itu juga simplifikasi berlebihan. Market bukan charity