

Pernah ngrasain kopi legend Golda, isoplus, atau mie sedap? itu semua produksi dari Wings Group. Wings Group ini bukti nyata kalau jadi pengikut bukan berarti nggak bisa sukses. Dimulai dari bengkel kecil di Surabaya tahun 1948, strateginya nggak neko-neko, mereka konsisten pakai rumus amati, tiru, terus buat yang lebih murah. Strategi ini bikin mereka santai saja meski masuk belakangan di produk yang sudah ada market leadernya, kayak waktu mereka ngeluarin Mie Sedaap buat nantang Indomie atau Floridina buat saingan sama merek sebelah. Rahasia kenapa harga mereka bisa murah karena mereka mainnya dari hulu ke hilir, Wings bikin bahan bakunya sendiri sampai kemasannya pun diurus sendiri, alias integrasi vertikal. Karena nggak banyak tangan kedua atau ketiga, biaya produksinya bisa ditekan sampai titik paling rendah, makanya mereka punya ruang buat pasang harga miring tapi tetap punya modal buat jor-joran iklan di TV biar orang-orang nggak lupa. Selain soal harga, Wings juga jago banget urusan distribusi, mereka paham kalau di Indonesia, percuma jual barang murah kalau susah dicari di warung. Jadi mereka pastikan produknya ada di mana-mana, dari supermarket gede sampai kios kecil di gang sempit, mereka tahu banget karakter orang kita yang kalau fungsinya sama tapi harganya lebih murah, ya pasti bakal bungkus yang lebih murah. Jadi, ketersediaan itu kunci utama mereka buat nempel terus di keseharian masyarakat. Intinya, Wings Group punya prinsip kalau barang bagus harusnya bisa dibeli sama siapa saja tanpa bikin dompet tipis, meski sering dibilang cuma ikut-ikutan, nyatanya eksekusi mereka di lapangan memang jempolan. Mereka nggak perlu jadi yang pertama buat menangin hati konsumen, cukup jadi yang paling murah dan paling mudah ditemuin.


























