madaaa retweetledi
madaaa
4.7K posts

madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi

Dulu setelah lulus sekolah, saya takut jika harus kerja di pabrik bagian produksi sampai pensiun.
Berangkat pagi pulang sore atau kerja 3 shift, kena jatah malam sampai pagi.
Istirahat makan di kantin. Bel bunyi pergantian shift. Duduk di kursi selama 8 jam. Parkir motor di penitipan.
Apa bedanya dengan sekolah? Apa saya harus menjalani aktivitas mirip sekolah sampai tua?
Bayangan saya setelah lulus sekolah ya bebas. Mengerjakan apa yang saya sukai, tidak membenci hari senin, tidak mengerjakan pekerjaan monoton dan repetitif.
Tapi mau gak mau saya harus melamar kerja di pabrik juga seperti teman-teman yang lain.
Tetangga saya ada yang lebih dari 30thn bekerja di pabrik. Kena PHK saat covid. Pesangon dicicil. Sekarang di masa paruh bayanya harus kerja serabutan. Memulai dari nol.
Saya takut berakhir seperti itu.
Saya sempat diterima dan bekerja di pabrik selama 3bln masa magang. Saat istirahat saya selalu bertanya-tanya, “jadi seperti inilah saya sampai tua nanti, di pabrik ini, membalik botol parfum setiap hari.”
Jujur saya takut. Lalu saya memutuskan untuk lanjut kuliah.
Sekarang saya tidak takut lagi karena saya menemukan ritme pekerjaan yang saya minati.

Indonesia
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi
madaaa retweetledi

































